✍️ Ahdi Afandi
Ketika seorang tokoh Aswaja menceritakan mimpinya bertemu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan mendapat pesan agar menjaga NU, kaum Salafi-Wahabi menyebutnya dongeng TBC.
Namun ketika Prof. Dr. Khalid Basalamah, Lc., M.A. menceritakan mimpinya bertemu Nabi, bahkan sampai menghirup napas Nabi, yang beriringan dengan keinginannya membuka kelas-kelas pengajaran hadis, yang secara tidak langsung dipahami sebagai restu Nabi melalui mimpi; mereka menyebutnya ustadz sunnah.
Ketika tokoh atau ulama Aswaja menceritakan adanya karamah (seperti kisah pesawat mundur), mereka menertawakannya:
“TBC! Dongeng sufi!”
Namun ketika Pak Doktor Khalid Basalamah menceritakan kisah lemparan pasir yang membakar tank-tank Rusia, beliau justru dielu-elukan sebagai ustadz sunnah. 😁
Ketika tokoh atau ulama mereka menceritakan bahwa Syekh Ibnu Baz beberapa hari sebelum wafat didatangi Malaikat Maut yang mengabarkan waktu pencabutan nyawanya, mereka menyebutnya kisah sunnah. 😁
Ketika syekh mereka menceritakan mimpi melihat Syekh Utsaimin sudah berada di dalam surga, lalu bertanya, “Di mana Syekh Ibnu Baz?” dan dijawab, “Di sana, di atas,” mereka juga menyebutnya cerita sunnah, bukan TBC. 😃
Dari sini, satu kesimpulan sulit dibantah: Bid‘ah bukanlah apa yang tidak dicontohkan Nabi, melainkan apa yang tidak disukai Wahabi.
Tahayyul, bid‘ah, dan churafat (TBC) berlaku bila dilakukan oleh orang di luar kelompoknya.
Namun ketika ustadz-ustadz dan syekh-syekh mereka sendiri yang melakukannya, TBC mendadak hilang; dan berubah nama menjadi SUNNAH. 😁
#wahabi_lucu







