IRAN, “BATU SANDUNGAN” BERAT BAGI DINASTI ROTHSCHILD

Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bacaan Lainnya

Bismillahirrahmanirrahim.

DINASTI Rothschild dipercaya selalu ada dibalik peristiwa besar. Tidak perlu kaget, jika mereka adalah adalah pihak yang juga memberi arahan untuk pergantian kepemimpinan di Iran.

Dinasti ini tidak lagi ketat dalam persembunyian. Zaman sudah berubah. Mereka sudah mulai muncul ke permukaan. Dalam beberapa tweet terbarunya di Platform X, Nat Rothschild yang tampil sebagai “juru bicara”, kembali memotivasi dunia untuk mengobarkan perang:

“History is written by the winners” #IranRevolution2026 (28/2/2026). Sebuah pesan, bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang perang. Barat selama ini selalu tampil sebagai pemenang. Dengan segala kebrutalannya, mereka berhasil menarasikan itu semua sebagai demokratisasi dan pembebasan. Sebaliknya, jika Iran menang, narasi akan berubah. Barat akan menjadi penjahat perang.

Beberapa tweet provokatif dia lainnya: “Where are the Iranian submarines?” #IranWar (2/3/2026). Lainnya, “If regime change is the objective, has anyone actually thought through what happen next?” #Iran (2/3/2026). Semua tweet ini membawa satu pesan: “Ayo terus berperang”.

Dinasti Rothschild menginginkan dunia selalu dalam keadaan perang. Mereka ada dibelakang sejumlah negara yang memang diciptakan untuk berperang. Perhatikan, betapa banyak keonaran yang diinisiasi oleh “cowboy” Amerika binaan mereka dalam beberapa waktu silam:

El Salvador (1980), Libya (1981), Sinai (1982), Lebanon (1982 1983), Egypt (1983), Grenada (1983), Honduras (1983), Chad (1983), Persian Gulf (1984), Libya (1986), Bolivia (1986), Iran (1987), Persian Gulf (1987), Kuwait (1987), Iran (1988), Honduras (1988), Panama (1988), Libya (1989), Panama (1989), Colombia, Bolivia, and Peru (1989), Philippines (1989), Panama (1989-1990), Liberia (1990), Saudi Arabia (1990), Iraq (1991), Zaire (1991), Sierra Leone (1992), Somalia (1992), Bosnia-Herzegovina (1993 to present), Macedonia (1993), Haiti (1994), Macedonia (1994), Bosnia (1995), Liberia (1996), Central African Republic (1996), Albania (1997), Congo/Gabon (1997), Sierra Leon (1997), Cambodia (1997), Iraq (1998), Guinea/Bissau (1998), Kenya/Tanzania (1998 to 1999), Afghanistan/Sudan (1998), Liberia (1998), East Timor (1999), Serbia (1999), Sierra Leon (2000), Yemen (2000), East Timor (2000), Afghanistan (2001 to present), Yemen (2002), Philippines (2002) , Cote d’Ivoire (2002), Iraq (2003 to present), Liberia (2003), Georgia/Djibouti (2003), Haiti (2004), Georgia/Djibouti/Kenya/Ethiopia/Yemen/Eritrea War on Terror (2004), Pakistan drone attacks (2004 to present), Somalia (2007), South Ossetia/Georgia (2008), Syria (2008), Yemen (2009 and 2015), Haiti (2010), Libya (2011), Syria (2011), Ukraina (2014), Iraq (2015), Palestina (sampai sekarang), dan lainnya.

Kemarin Venezuela. Sekarang Iran. Keduanya masih pada tahun yang sama, 2026.

Rothschild butuh perang sebagai urat nadi kehidupan. Mereka menghasilkan triliun dolar dari perang. Mereka membiayai penghancuran. Sekaligus mendanai kembali pembangunan. Gaza mereka yang danai untuk dihancurkan. Mereka juga yang kemudian lewat proposal Trump ingin dibangun ulang untuk menjadi resort wisata yang menghasilkan uang. Bukan untuk warga Gaza. Tapi untuk pundi-pundi mereka. Warga Gaza akan direlokasi entah ke negara mana.

Mereka mencari uang dari “conflict creation”. Dan juga dari “peace and reconstruction”. Belum lagi nilai yang bisa diperoleh dari penguasaan kontrak sumberdaya alam di daerah yang telah mereka tundukkan.

Dinasti ini pula yang menciptakan Israel. Baron James de Rothschild (1845-1934) merintis koloni Yahudi pertama di Palestina. Lalu Lionel Walter Rothschild (1868-1937) menggagas Deklarasi Balfour bersama Inggris untuk pengambil alihan Palestina. Dengan memanfaatkan ideologi “tanah yang dijanjikan”, mereka melakukan aneksasi tanpa henti. Tujuannya, mendukung ekspansi zionis di dunia Arab secara berkelanjutan.

Mereka mengontrol Amerika lewat lembaga lobi seperti AIPAC untuk meneguhkan agenda “Israel First”. Semua politisi Amerika dibiayai untuk menjaga eksistensi negara proksi mereka di wilayah Timteng yang kaya sumberdaya. Karena itulah pemimpin revolusi Iran, Imam Khumeini, menyebut Israel sebagai “kanker” di tengah dunia Arab.

Keluarga Rothschild meraup untung dari semua perang. Mulai dari Perang Napoleon (1803-1815), Perang Krimea (1853-1856), Perang Dunia 1 (1914-1918), Perang Dunia 2 (1939-1945), dan perang-perang lainnya. Mereka membiayai kedua pihak yang berperang. Atau berada disatu pihak yang paling menguntungkan.

Lalu, kenapa Iran?

Rothschild adalah pencetus sistem perbankan Yahudi. Mayer Amschel Rothschild, sang perintis, sejak tahun 1800an sudah mengirim lima anaknya ke seluruh Eropa. Didirikan di Frankfurt, Jerman oleh Amschel sendiri. Lalu anak-anaknya membuka bank di London (Nathan), Paris (Jacob), Wina (Salomon), dan Napoli (Karl).

Ekspansi meluas ke seluruh dunia, membiayai dan bekerjasama dengan bank lainnya, sampai membentuk sistem perbankan yang terintegrasi. Bank mereka aktif membiayai atau mensponsori perang. Juga pembangunan paska perang. Hari ini, hampir seluruh perbankan dunia terkoneksi dengan sistem operasi keuangan mereka.

Celakanya, Iran adalah salah satu dari beberapa negara yang tersisa yang tidak tunduk pada dominasi bank sentral Rothschild. Iran adalah salah satu negara yang tidak memiliki ketergantungan dengan IMF, salah satu lembaga intermediasi utang dinasti ini. Lebih kacau lagi, Iran merupakan batu besar di tengah jalan yang menghalangi proyek koloni “Israel Raya”. Iran bahkan satu-satunya negara yang bersumpah akan membebaskan Palestina, dan mengusir zionis dari Tanah Suci.

Karena itu, Iran dalam model kepemimpinan yang sudah 47 berkembang harus ditumbangkan. Harus ada rezim baru yang bekerja di bawah kendali mereka. Dalam hal ini “pangeran badut” Reza Pahlavi yang hidup dalam pengasingan sangat berharap untuk bisa naik tahta. Ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, raja terakhir Dinasti Pahlavi, tumbang dalam revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini tahun 1979. Dinasti terakhir ini sangat pro Barat. Sejalan dengan agenda Rothschild.

Upaya menggulingkan Imam Ali Khamenei -yang menjadi pelanjut cita-cita Ayatullah Khomeini (1902-1989), kembali dilakukan. Seperti biasa. Alat kerja Rothschild dalam menciptakan rusuh dan perang adalah Israel dan Amerika, lewat Mossad dan CIA-nya. Mossad sebagai pemain utama punya motto terkenal: “By way of deception, thou shalt do war”. Artinya, lewat tipu muslihat, kamu harus melakukan perang. Slogan diambil dari sebuah ayat biblical Proverb 24:6.

Dua pemain ini ada dibelakang protes yang pecah pada akhir Desember 2025 silam, yang cukup menggoyang Iran. Mereka memulai proses kudeta lewat pembakaran masjid dan fasilitas publik. Juga membunuh. Ini tipikal kerja Israel. Mereka sejak lama telah bekerja merobohkan rumah, masjid dan gereja di Palestina. Membunuh juga salah satu spesialisasinya.

Kerusuhan di Iran kemarin murni operasi Mossad, yang menunggangi demonstrasi pedagang. Lewat operasi desepsi, Mossad memberikan instruksi kepada operator-operator bayaran di lapangan. Mossad berusaha menipu warga Iran. Tapi berhasil digagalkan. Tidak berhenti disitu, Iran kembali dituduh membunuh demonstran secara massal. Sebuah berita yang dibuat-buat.

Sebenarnya; isu Syiah sesat, Syiah kafir, atau Syiah musuh Islam juga skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad. Sudah 40 tahun lebih narasi ini diputar. Setiap mau berkonflik dengan Iran dan proksinya (seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, atau Bashar Assad di Suriah), isu ini kembali mencuat. Tujuannya untuk melemahkan Iran. Agar terisolasi dari dunia Islam. Selain juga diputuskan dari dunia lain lewat berbagai embargo. Iran cukup menderita sebenarnya. Tapi hebatnya, bisa bertahan. Dalam banyak hal justru semakin berkembang.

Disaat Iran sekarang berperang secara terbuka dengan Israel dan Amerika, isu-isu semacam ini juga kembali disebar. “Ngapain dukung Syiah, mereka bukan Islam”. “Biarkan Iran dan Israel berperang, keduanya kafir”. “Iran dan Israel adalah bestie”. “Iran membunuh lebih banyak umat Islam ketimbang Israel”. Propaganda ini bertujuan melemahkan dukungan dunia Islam terhadap Iran. Di Indonesia sejumlah “agen” (ustad) rajin mengkampanyekan narasi ini. Termasuk Felix dan Basalamah.

Begitulah. Mereka punya uang, senjata, juga media. Zionis mengontrol para politisi lewat kekuatan lobi. Juga menciptakan narasi dan fatwa-fatwa untuk disebarkan oleh para mubaligh jaringan mereka. Media mereka berusaha mengelabui dunia dari Barat sampai ke Timur. “By way of deception you shall wage war”. Media Kompas terlihat paling kentara dalam bekerja untuk menyebar kebohongan mereka.

Untuk internal Islam, Iran selalu dilukiskan sebagai rafidhah atau bukan Islam. Padahal jamaah haji mereka selalu memenuhi Makkah dan Madinah. Di luar Islam, Iran dilabeli evil, rezim, otoriter, irrasional, mendiskreditkan perempuan, pembunuh, berbahaya, sedang mengembangkan nuklir, dan sebagainya. Proses demonisasi selalu muncul sebelum intervensi.

Kemudian, bukan hanya karena sistem keuangannya yang tidak mau tunduk pada dominasi global perbankan “ribawi” Rothschild, potensi alam dan posisi geografis Iran juga sangat signifikan.

Iran pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Kacaunya lagi, Iran menjadi suplier minyak utama untuk Cina, rivalnya Amerika. Maka, menguasai Iran mirip-mirip dengan menguasai minyak dunia. Sekaligus memotong mata rantai pasok terhadap Cina.

Iran juga mengontrol Selat Hormus. Sebesar 20% minyak dunia keluar dari celah ini. Mengontrol Selat Hormus, berarti mengontrol energi dunia. Iran punya power untuk mengendalikan dunia. Kalau selat ini ditutup, dunia kolaps. Harga minyak dunia melonjak seketika. Bisa terjadi kerusuhan dimana-mana, karena harga logistik dan biaya produksi meroket. Elit global, jaringan zionisme Rothschild, tidak senang dengan kenyataan ini.

Kepemimpinan Ayatullah harus ditumbangkan. Alasan harus dicari. Alasan yang tepat adalah sesuatu yang bisa membuat dunia takut dengan Iran: Nuklir!

“Iran sedang memproduksi bom nuklir yang bisa menjangkau Eropa dan Amerika”. Pidato ini terus diulang. Iran berulang kalimembantah. Mereka tidak berniat memiliki senjata semacam itu. Iran memang terus melakukan pengayaan uranium. Tapi untuk tujuan damai, untuk kebutuhan industri nasional. Netanyahu sebagai gembalaan Rothschild semakin tidak senang dengan kemajuan dan pencapaian Iran.

Masih ingat, sebelum Perang Irak (2003-2011), Netanyahu memperingatkan dunia bahwa Saddam Husein punya senjata pemusnah massal. Dia bersumpah di depan Kongres Amerika. Dia berorasi. Dia memberi pesan urgen untuk segera menginvasi Irak.

Alhasil. Tidak ada senjata pemusnah massal yang ditemukan. Irak hancur. Jutaan mati. Tentara Amerika tewas untuk Israel. Tentara Amerika mati untuk elit zionis Rothschild.

Sebenarnya, penyerangan terhadap Irak juga memiliki motif yang sama. Irak termasuk negara yang berada di luar orbit sistem keuangan yang dikontrol Rothschild. Pada tahun 2000, tersisa 9 negara yang tidak satu kerangka dengan perbankan central Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Syiria, Libya, Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara.

Anda bisa lihat, sebagian negara yang menolak ikut sistem bank sentral Rothschild adalah negara-negara Islam. Termasuk Afghanistan dan Irak. Ini harus diselesaikan. Maka diciptakan imej global yang menakutkan, bahwa Islam adalah teroris.

Rekayasa ini dimulai dengan peristiwa WTC 9/11 tahun 2001, yang menewaskan hampir 3000 orang. Anehnya tidak ada Yahudi yang mati. Yang kaya dari peristiwa itu juga para Yahudi yang telah mengasuransikan bangunan tersebut tidak jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Polanya sama. Mereka tetap menjadi yang kaya pada setiap musibah orang. Belakang diungkap, peristiwa itu juga bagian dari rencana elit global untuk menjadikan Islam sebagai “kambing hitam”.

Islam menjadi tertuduh. Pada tahun yang sama, penyerangan ke Afghanistan dimulai. Sebenarnya bukan tentang Osama Bin Laden. Melainkan pengamanan jalur minyak. Lalu konflik berlanjut ke negara lain. Dua tahun setelah itu, pada 2003, mereka menyerang Irak. Libya, Suriah, dan Sudan menyusul kemudian. Terakhir Iran.

Paska 9/11, seperti disampaikan Jenderal Wesley Clark -mantan komandan NATO di Eropa, politisi Amerika sudah mendapat perintah dari elit global agar dalam 5 tahun segera menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan terakhir Iran (Al-Jazeera, 2003). Namun tidak semua bisa diselesaikan dalam jangka tersebut.

Beberapa negara Islam di kudeta lewat agen-agen internal, seperti Sudan. Ada yang di bombardir secara langsung, seperti Afghanistan dan Irak. Beberapa lainnya (Libya, Suriah, dan Iran) harus dilemahkan pelan-pelan lewat berbagai sanksi ekonomi.

Bahkan untuk kasus Suriah -yang negara itu sempat diback-up Iran, harus terlebih dahulu diciptakan mesin pembunuh ISIS untuk proses pelumpuhan. Isinya juga Mossad, yang dipadukan dengan para jihadis yang tidak mengerti peta perang. Salah satu tokoh ISIS, Abu Muhammad Jolani Al-Shara, kini sudah menjadi presiden Suriah. Seperti raja-raja Arab lain, Jolani sedang memainkan fungsi secara baik sebagai presiden yang “manis” dan “islami”, yang tentunya patuh pada agenda Trump dan Israel. Patuh pada agenda jaringan dinasti elit global.

Pergantian kepemimpinan semacam ini juga tidak hanya di negara-negara Arab atau Islam. Di Amerika latin juga begitu. Seperti kasus kudeta internal terhadap Salvador Allende (Cile, 1973), intervensi langsung militer Amerika di Haiti (1915 dan 1994), tekanan politik terhadap Evo Morales (Bolivia, 2019), upaya kudeta terhadap Hugo Chavez (Venezuela, 2002), terakhir penangkapan langsung Nicolas Maduro (Venezuela, 2026).

Ceritanya bisa jadi beda. Lokasinya juga berlainan. Tapi mekanismenya sama. Lemahkan. Kudeta. Tangkap. Bom. Atau bunuh. Lalu ganti dengan pemimpin yang bisa diatur. Yang punya kepentingan tetap sama: elit keuangan global.

Itulah mengapa ada adagium: “Semua perang adalah perangnya para bankir”. Bukan karena bankir ikut menjatuhkan bom. Tapi merekalah yang membiayai perang. Mereka juga yang membangun ekonomi paska perang. Dalam hal ini, bankir zionis paling banyak meraup keuntungan.

Dengan target pergantian kepemimpinan di Iran, ada beberapa keuntungan yang ingin dicapai. Pertama, perbankan Iran menjadi segaris dengan sistem imperium keuangan Rothschild. Kedua, pergerakan koloni Israel akan meluas, dan tidak ada lagi yang memperkuat gerakan perlawan di kawasan. Ketiga, pinjaman IMF mulai diberlakukan, payment system diaktifkan. Keempat, privatisasi sumberdaya alam (minyak, emas, perak, dsb). Jaringan perusahaan energi Rockefeller (Exxon, dsb) akan hadir untuk berbagi sumberdaya alam. Kelima, terbentuknya pangkalan militer asing untuk mengontrol wilayah, seperti yang dilakukan di hampir semua negara Arab.

Begitulah polanya. Sama. Setiap waktu. Disetiap tempat.

Sementara, jika Iran masih tetap bertahan sebagai negara independen, berarti Iran akan tetap mengontrol mata uangnya, aliran modal, suku bunga, dan pendapatan dari sumberdaya alamnya sendiri. Hal-hal ini akan membatasi kontrol dunia luar terhadap Iran. Rothschild tidak suka ini. Kemandirian sebuah negara menjadi masalah bagi Rothschild dan jaringan elit global. Karena itu, berapapun biayanya, Iran harus dilumpuhkan.

Konon lagi, Iran merupakan negara Islam paling maju. Paling cerdas. Paling relijius. Paling kuat identitas kesejarahannya. Paling canggih perkembangan sains dan teknologinya. Ini menjadi tantangan besar bagi kelompok para penyembah Baal.

Karena itu tidak heran, sejak awal Ayatullah Khumeini sudah menyebut kelompok zionis ini, Amerika dan Inggris, sebagai “setan”. Baru sekarang dunia paham, lewat bocornya file Epstein. Istana Inggris ternyata penyembah setan. Politisi Amerika dan barat lainnya juga begitu. Dunia ini bukan cuma tempat perang uang. Tapi juga perang spiritual, hitam vs. putih.

Apa yang diinginkan Elit Global?

Anda mungkin bertanya, kenapa elit global ini sedemikian bernafsu untuk mengurusi negara orang?

Jawabannya, karena ini tentang visi jangka panjang. Tepatnya visi “one world order”. Tujuannya untuk membentuk dunia menjadi satu negara tunggal (one world shadow state). Disamping juga untuk pengontrolan rute perdagangan. Selain juga untuk “financial leverage” dibawah satu akun kekuasaan. Terakhir, untuk perwujudan proyek Israel Raya bagi satu bangsa “pilihan setan”. Visi besar tanpa ujung inilah yang membuat mereka terus bersemangat melakukan hal-hal tak terbayangkan. Mulai dari kudeta, perampokan tanah dan sumberdaya, kolonialisasi, sampai kepada genosida.

Zionisme Rothschild tidak peduli dengan warga Amerika atau warga Iran. Ini bukan tentang “liberation”. Venezuela, Irak, Libya, dan sekarang Iran juga disodorkan isu “pembebasan”. Kebebasan yang ditawarkan hanyalah ilusi. Hanya orang-orang bodoh yang percaya bahwa kebebasan bisa didatangkan lewat politisi pedofil dan tentara asing yang korup. Netanyahu korup. Trump korup. Keduanya masih tersangkut kasus korupsi. Semua politisi dunia korup. Hanya orang bodoh yang percaya kalau Rothschild menawarkan mereka kemerdekaan, lewat tangan-tangan korup.

Kemerdekaan yang ditawarkan bukanlah kemandirian ekonomi. Bukan kedaulatan. Juga bukan kebijakan luar negeri yang netral. Kemerdekaan yang ditawarkan selalu berbentuk utang, privatisasi, basis militer dan perang yang berkelanjutan. Yang sedang ditawarkan ke warga Iran bukan kebebasan. Melainkan seperti yang sudah diberikan kepada negara-negara yang telah hancur total: perbudakan!

Untungnya, warga Iran tidak sebodoh kita. Mereka lebih solid. Mereka sudah diberitahu sejak awal. Bahwa ini adalah perang melawan setan, melawan sebuah visi licik yang sedang membidik dunia dalam satu gerombolan kekuasaan. Karena itu, resistensinya kuat. Boleh jadi, Iran walaupun berdarah-darah akan muncul sebagai pemenang. Sebab, sejak dimulai pada 28 Februari 2026, rudal-rudal Iran mampu membuat pangkalan setan-setan ini terbakar. Imam Khamenei memang telah pergi sejak hari paling awal. Tapi ujung dari perang, para penerusnya yang menentukan.

Memerangi Visi “Dajjal”

Dari pembahasan di atas, kita sedikit tidaknya sudah memahami konsepsi “Dajjal”.

“Dajjal” adalah makhluk ‘bermata satu’, yang selama ini bersembunyi di belakang layar. Melalui “bala tentaranya” (zionis dan Amerika), mereka menginginkan seluruh dunia dalam satu kontrol kekuasaan. Dajjal bukan cuma anti Islam. Tapi juga “anti-christ”, yang akan meludah ke setiap Nasrani yang ia jumpai.

“Dajjal” adalah kekuatan ‘sakti’, sistem para bankir dan politisi penyembah setan yang terstruktur dan rapi. Sebuah elite system yang bersanad kepada figur-figur dalam Rothschild dinasty, yang selama ini tersembunyi. Tapi belakangan mulai muncul ke permukaan.

Mereka punya visi “mata satu”, yang simbolnya itu ada dimana-mana. Termasuk di uang dollar. Disitu mereka tulis, “in god we trust”. God-nya bukan hanya Yahweh. Tapi juga setan. Kerakusan. “Mata satu” adalah visi untuk membetuk “satu aturan dunia baru”. One world order. Visinya besar, panjang, dan menggairahkan. Itulah motif yang membuat mereka bertahan untuk hidup. Kekayaannya tidak terhitung. Tapi tidak pernah cukup.

Mereka merekrut dan menjebak orang-orang untuk menyembah Baal. Yang tanduknya itu ada di puncak hotel tertinggi di samping Kakbah. Itu bukan bulan bintang. Itu tanduk Baal, yang diantara keduanya ada “Mata Sauron”. Persis seperti yang digambarkan dalam film Lord of The Ring. Film-film Hollywood sering menggambarkan kenyataan-kenyataan yang sering gagal kita pahami.

Kenyataannya, seluruh lingkungan Masjidil Haram dipenuhi bisnis mereka. Semua hotel punya mereka. Semua hotel yang memenuhi Tanah Suci, induknya ada di Barat. Punya para Yahudi kaya. Jadi wajar mereka membawa sesembahan mereka kesana untuk menyaingi Kakbah Anda. Dajjal memang tidak bisa masuk secara resmi kesana. Karena di KTP bukan Islam dia. Tapi bisnis beserta simbol-simbolnya mengepung rumah ibadah Anda.

Pun ngapain Dajjal ke Mekkah dan Madinah. Yang penting uang para berziarah masuk ke kantong mereka. Begitu juga uang dari industri-industri minyak di sana, ikut mengalir ke rekening mereka. Sebab, mereka para kontraktornya.

Jadi, Iran itu sedang berhadapan dengan “bala tentara” Dajjal (zionis, Amerika, dan sekutunya). Indonesia katanya juga sudah mendaftarkan diri untuk menjadi pengikut Dajjal. Dan konon kabarnya, lembaga ulama ikut merestuinya.

Kan sudah diberitahu Nabi sejak dulu, tidak ada yang selamat dari tipu daya atau skenario Dajjal. Kecuali orang yang punya kedaulatan. Beriman. Berani dan cerdas.

Kita tunggu, apakah Iran berhasil dalam duel yang dahsyat ini. Sebuah perlawanan yang bisa meluas dan mengarah ke Perang Dunia III. Saat ini, dunia memang tidak lagi punya harapan, selain kepada Iran. Iran pun, kalau kita lihat, tidak lagi berharap kepada dunia. Apalagi pada saudara-saudara Arab dan negara Islam lainnya. Mereka hanya berharap pada Tuhan dan rudal-rudalnya. Kalau syahid, memang itu yang dicari. Kalau menang, itu murni anugerah Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*


The Suficademic Review

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *