MAHASISWA UIN NISTAKAN ISLAM

Ayo…Kita dzikir bersama, anjinghuakbar!” Teriak senior kampus ditengah podium menenteng rokok plus mic di tangan kanannya sedang tangan kirinya menunjuk ke arah langit.

Bacaan Lainnya

Disambut takbir dan riuhan tepuk tangan.

Tahukah anda peristiwa ini dimana ?

Bukan di luar negeri. Bukan pula terjadi di kampus umum. Tapi terjadi IAIN (UIN) Bandung.

Semua kejadian ini direkam (nanti saya share dikomentar) dan heboh masuk berita Republika.

Pada tanggal 27 September 2004, Fakultas yang terdiri dari lima jurusan, Sosiologi Agama, Perbandingan Agama, Tafsir Hadits, dan Aqidah Filsafat ini, mengadakan ospek untuk menyambut mahasiswa-mahasiswa baru.

sejak mereka memasuki ruangan dan menaiki panggung, seorang dari mahasiswa yang menjadi juru
bicara untuk fakultas itu, memulai dengan perkataan,

“Selamat bergabung di area bebas tuhan”.

Kemudian giliran ketua Jurusan Sosiologi Agama, naik podium

“Mahasiswa sosiologi agama adalah insan kreatif inovatif yang sosialis demokratis. Beri kesempatan kepada teman-teman kami yang senantiasa mencari tuhan,” ungkap ketua himpunan jurusan sosiologi agama.

salah satu di antara mereka menimpali. “Kami tidak ingin punya tuhan yang takut pada akal manusia,” katanya.

Tak mau kalah, mahasiswa dari jurusan Aqidah
Filsafat, mengepalkan tangan dan meneriakkan: “Kita berzikir bersama anjing hu akbar,” teriaknya lantang sambil membawa rokok ditangannya.

Usut punya usut, kelakuan nyeleneh-nyeleneh mahasiswa ini, ternyata !

Berdasarkan pengakuan mahasiswa disana, kejadian seperti ini tak mengherankan, ada tiga dosen yang ngajar mereka selama ini bangga di depan kelas mengaku sudah tiga bulan tak shalat.

Sontak forum Ulama Umat Islam Bandung mengeluarkan kritik yang keras, dan menghimbau masyarakat untuk tak mengkuliahkan anaknya di iAIN.

Alih-alih men DO kan, pihak Rektorat IAIN SGD
Bandung mengancam akan membawa kasus ini ke pengadilan, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Ya inilah wajah kampus Islam.
Dan silakan tonton saja, video sudah saya share dikomentar…

Ini fakta…

Jika UIN Bandung punya “kawasan bebas Tuhan.”

Maka UIN Surabaya pun tak mau kalah, UIN Surabaya punya “Tuhan Membusuk!” banner ini dipasang Mahasiswa filsafat. dalam kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) tahun 2014

Apakah ini yang pertama kali dilakukan UIN Surabaya ?

Tidak, tapi sudah sering sekali.

kesaksian Ahmad Nizar, mahasiswa perbandingan agama UIN Surabaya. Bahwa –kata dia- di tahun sebelumnya mahasiswa baru dijejali kalimat “Selamat Datang di Kampus Tak Bertuhan”. Sebelumnya lagi, lanjut Nizar, ada kalimat “Tuhan-pun Aku Tantang” (Dikutip dari Jawa Pos 03/09/2014)

Tahun sebelumnya, pada OSCAAR di IAIN (nama lama UIN) Surabaya, 3-5 September 2012, disusun acara terjadwal waktu shalat dhuhur dan makan 1 jam.

Kenyataannya, ada dosen pemateri yang hanya memberi waktu 15 menit.

“Pilih shalat atau makan, terserah. Setelah itu harus kembali. Kalau tidak, dihukum,” ungkap seorang peserta OSCAAR.

Tak sedikit lebih memilih makan daripada shalat.

Saat adzan maghrib berkumandang, OSCAAR terus berlangsung. Apalagi ketika shalat maghrib ditegakkan di Masjid Kampus yang tak jauh dari lokasi OSCAAR, mereka tetap ramai dengan yel-yel dan ledakan petasan. Saking kerasnya ledakannya, ada mobil yang diparkir dekat lokasi alarm-nya berbunyi.

Waktu mampir di warung, ada dua teman mahasiswa saya berdebat tentang solat jum’at wajib tidak, satunya bilang wajib, satunya bilang tidak dengan alasan “musafir” dan statusnya tak akan berubah jadi muqim selalu tak ada niat.

Karena waktu terik terdengar arzan, saya pamit, usai solat selesai saya kembali ke warung.

Dan ternyata mahasiswa yang gelut soal wajib tidak solat Jum’at ini masih diwarung (artinya tak solat).

Ini Mahasiswanya.

Lalu bagaimana dengan dosis-dosennya?

Masih di Di UIN Surabaya, pada tahun 2006 (saat masih bernama IAIN Surabaya) seorang dosen mencapai lafadz Allah dengan sepatu.

Di STAIN Jember, yang ini kesaksian teman saya sendiri pada tahun 2012 seorang dosen bertanya ke mahasiswa “ini kalam Allah bukan?” Sambil menunjuk papan, dengan coretan nama Allah.

Kelas hening Mahasiswa tak menjawab.

“Bukan, kalam Allah itu di atas sana Laul Mahfudz”

Lalu menghapus lafadz Allah dengan kaus kaki.

Sementara itu, di UIN Jakarta sejumlah dosennya ‘berkampanye’ mengizinkannya pernikahan beda agama. Padahal, pada tahun 1980 MUI telah memfatwakan haramnya pernikahan beda agama.

Tak mau ketinggalan, UIN Yogyakarta punya disertasi yang menghalalkan Seseorang belum menikah bisa bersetubuh asal suka sama-sama “Milk al-Yamin dan Konsepsi Hubungan Seksual Premarital” ini resmi diuji oleh doktor-doktor profesor profesor UIN.

Dan penulisnya dinyatakan lulus memperoleh gelar doktor.

Tak gilanya lagi, Dosen UIN Yogja, bernama Ibn Mundhir juga secara resmi menerbitkan buku berjudul SALAT JUM’AT ADALAH SUNNAH BUKAN WAJIB DAN BOLEH MENJAMAK SALAT ZUHUR SAMPAI ISYA’ TANPA SEBAB

Lain halnya dengan Sumanto Al-Qurtuby ketika menjadi mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang. Sumanto pernah memimpin sebuah jurnal bernama Justisia yang terbit atas izin pimpinan Fakultas. Pada tahun 2004, jurnal ini menulis sebuah cover story dengan judul “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Dalam pengantar judul ini dikatakan bahwa hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.

Ada banyak yang tidak bisa saya tuliskan disini.
Insya Allah kita akan bongkar skripsi, tesis dan disertasi nyeleneh yang diproduksi IAIN.

Orang tua, dari kampung yang selama ini berharap besar menyekolahkan anaknya dikampus Islam, luar kota yang kelak menjadi investasi amal jariyyah anak soleh yang mendoakan kedua orang tuannya, justru menjadi anak yang salah.

Dijurusan ilmu hadits, alih alih anak anak diajari Hadits Suyuthi, Bukhari dan al Bani justru belajar bukunya Godziher, Joseph Schacht.

Dijurusan hukum, alih alih anak anak belajar safinatun Najah, Fathul Qorib justru malah belajar bukunya Nasr Abu Zayd tokoh liberal bukunya layaknya kitab suci, adapun Imam Syafi’i dituduh patriaki.

Di jurusan-jurusan Tafsir, kira nya anak anak tafsir Quran malah diajari Hermenetik Gramsci.

Alih-alih belajar sejarah lewat kitab-kitab ulama Thabari, justru yang diajarkan buku-buku William Muir.

Diharapkan punya pikiran Islami, dengan ikut organisasi PMII
Alih-alih anak anak membaca Siyasah Islamiyyah Taquyidin Nabhani, Sayyid Qutb malah yang dibaca bukunya Karl Marx Das Kapital dan Tan Malaka Jadinya malah kekiri kirian.

——————-

Ngopidiyyah

—————

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *