TETANGGA² TAK ADA YANG PELIT
1. Dalil Tahlilan mendoakan orang yang telah meninggal.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.”
QS. Al-Hasyr: 10
Ayat ini menjadi dasar bahwa mendoakan kaum Muslimin yang telah meninggal adalah amalan yang disyariatkan.
2. Dalil sedekah atas nama mayit
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang bersedekah untuk ibunya yang telah meninggal.
Nabi ﷺ menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Maka sedekah atas nama mayit memiliki dasar yang kuat dalam hadis sahih.
3. Dalil membaca Al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahalanya
Di kalangan fuqaha Syafi‘iyyah terdapat pembahasan tentang إيصال ثواب القراءة إلى الميت (menyampaikan pahala bacaan kepada mayit). Imam an-Nawawi membahasnya dalam al-Adzkar dan ulama Syafi‘iyyah kemudian menjelaskan bahwa doa agar pahala bacaan sampai kepada mayit merupakan perkara yang diperbolehkan.
Di antara ulama Syafi‘iyyah yang membahas persoalan ini adalah Imam al-Khatib asy-Syirbini, ar-Ramli, dan Ibnu Hajar al-Haitami.
4. Dzikir berjamaah sendiri memiliki dasar
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.”
QS. Al-Baqarah: 152
Dan Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ
“Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah kecuali para malaikat mengelilingi mereka…”
HR. Muslim
Jadi berkumpul untuk berdzikir pada dasarnya mempunyai landasan.







