Belum Banyak Yang Tahu !! INILAH JAWABAN BUYA HAMKA : ORANG KOMUNIS YANG MASIH SHALAT
Buya Hamka, atau Prof. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, merupakan salah satu ulama besar Indonesia yang dikenal karena keteguhan prinsip dan keluasan pemikirannya. Lahir di Nagari Sungai Batang, Sumatra Barat, pada 1908, tokoh Muhammadiyah ini tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai sastrawan, intelektual, dan kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Pada masa hidupnya, Buya Hamka kerap menjadi tempat masyarakat mencari jawaban atas berbagai persoalan agama. Melalui sejumlah rubrik tanya jawab di media massa, ia memberikan pandangan mengenai persoalan keislaman, termasuk hubungan antara agama dan ideologi politik.
Salah satu pembahasan menarik muncul dalam majalah Gema Islam edisi 15 Mei 1963. Ketika itu, seorang pembaca mengajukan pertanyaan mengenai komunisme yang dianggap bertentangan dengan keyakinan terhadap Tuhan.
Pembaca tersebut merasa heran karena meskipun komunisme dikenal sebagai ideologi yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, ternyata masih ada orang Indonesia yang mengaku sebagai komunis tetapi tetap menjalankan ibadah shalat dan puasa Ramadan.
Pertanyaan itu muncul pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) masih menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia.
Menanggapi persoalan tersebut, Buya Hamka menjelaskan bahwa dalam pandangannya, komunisme merupakan ideologi yang berlandaskan ateisme atau penolakan terhadap keberadaan Tuhan. Menurutnya, dalam pemikiran komunis, agama dipandang sebagai sesuatu yang lahir dari kondisi kehidupan manusia, terutama keadaan sosial dan ekonomi.
Buya Hamka menuliskan:
“Dalam term mereka, disebutlah bahwa agama itu hanya suatu lapisan atas saja daripada kehidupan manusia, yang ditentukan oleh lapisan bawah, yaitu sosial-ekonomi. Tegasnya, Tuhan bagi paham komunis adalah suatu yang ditentukan oleh perut belaka.”
Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang mengaku komunis tetapi masih melaksanakan shalat dan berpuasa?
Buya Hamka memberikan jawaban yang tegas. Menurut penilaiannya, orang-orang tersebut belum sepenuhnya memahami atau menghayati ideologi komunisme yang mereka anut. Dengan kata lain, mereka dianggap belum menjadi komunis yang benar-benar matang secara ideologis.
Bahkan, Hamka menduga bahwa sebagian dari mereka mungkin sengaja memperlihatkan diri sebagai orang yang tetap menjalankan ibadah demi kepentingan politik. Tindakan tersebut, menurut dugaannya, dapat menjadi strategi untuk menarik simpati masyarakat Muslim agar tidak memandang komunisme sebagai ideologi yang bertentangan dengan agama.
Sebaliknya, bagi seorang Muslim yang sekaligus menganut komunisme, Hamka menilai bahwa pemahaman keislamannya juga belum sepenuhnya matang.
Karena itulah, ia menegaskan bahwa seseorang harus menentukan pilihan ideologisnya secara jelas.
“Islam atau komunis; benar-benar Islam atau benar-benar komunis,” tulis Buya Hamka.
Untuk memperkuat pandangannya, Hamka turut mengutip pernyataan pemimpin Republik Rakyat China dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang disebutnya secara terbuka mengakui sifat ateistis ideologi komunisme.
“Kami orang Komunis adalah orang-orang ateis.”
Selain itu, Buya Hamka mengajak pembacanya memperhatikan berbagai kebijakan terhadap kehidupan beragama di negara-negara yang menganut komunisme. Ia menyinggung tindakan penindasan terhadap umat beragama serta ketentuan dalam konstitusi Uni Soviet yang memberikan ruang bagi propaganda antiagama.
Melalui penjelasan tersebut, Buya Hamka ingin menegaskan bahwa menurut pemahamannya, terdapat pertentangan mendasar antara ajaran Islam yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan dan komunisme yang secara ideologis ia pahami sebagai paham ateistis.
Pandangan ini sekaligus menggambarkan sikap tegas Buya Hamka dalam menghadapi perdebatan ideologi dan agama di tengah situasi politik Indonesia pada masa Orde Lama.
Sumber: Majalah Gema Islam, 15 Mei 1963, sebagaimana dirujuk dalam kisah tanya jawab Buya Hamka mengenai komunisme dan umat Islam.
Jadi, gimana menurut kalian dengan jawaban Ketua MUI pertama ini, udah jelas kan 👍🏻
Faktakini







