BID’AHNYA KHALIFAH UMAR BIN KHATTHAB RA YANG PALING NIKMAT

✍️ KH. Luthfi Bashori

Di jaman Rasulullah SAW &  Sy. Abu Bakar, shalat sunnah malam setelah Isyak disebut sebagai Qiyamu Ramadhan.

Di zaman Nabi ﷺ Shalat ini belum dikenal dengan nama “Tarawih”. Saat itu disebut:
قيام رمضان
(Qiyām Ramadhān) — shalat malam Ramadhan
Termasuk dalam keumuman:
قيام الليل
(Qiyām al-Layl/menghidupkan malam di bulan Ramadhan)

Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pada masa Khalifah Abu Bakar, apa yang dilakukan di jaman Nabi, tetap dilestarikan tanpa ada perubahan yang subtansial.

Namun di zaman Khalifah Umar bin Khattab banyak perubahan yang cukup subtansial atas inisiatif beliau.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab inilah, ketika beliau mengumpulkan kaum muslimin pada pelaksanaan shalat malam Qiyām al-Lay dengan satu imam, di dalam satu masjid, maka shalat ini mulai dikenal dengan istilah “Tarawih”, karena adanya kebiasaan duduk istirahat di sela-sela shalat dengan 20 + 3 rakaat yang tentunya menambah rasa lelah (capek), hingga perlu ada jedah istirahat.

Rehat, atau راحة artinya istirahat, karena seringnya istirahat di setiap usai salam, maka disebut dengan Tarawih (banyak istirahat).

Jadi secara ringkas:
Praktik shalatnya sudah ada sejak zaman Nabi ﷺ
Namun nama “Tarawih” mulai populer di masa para shahabat, khususnya di masa Khalifah Umar bin Khatthab رضي الله عنه.

Saat itu pula Sy. Umar bin Khattab memperkenalkan bolehnya melakukan BID’AH YANG BAIK, dengan ucapan beliau:
نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
Bid’ah yang paling nikmat (terbaik) adalah ini

Yaitu Bid’ah Berjamaah saat melaksanakan Shalat Tarawih 20 + 3 rakaat dengan satu imam di dalam satu masjid selama 30 hari, yang tidak pernah dilakukan di jaman Nabi & Sy. Abu Bakar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *