Connie Bakrie : Prabowo Sebaiknya Suruh Teddy Libur Dulu, Saatnya Dengar Orang-orang Berpengalaman

Balqis Humaira

Gue harus akuin, Connie ini emang tipe orang yang kalau ngomong suka nggak ada remnya, blak-blakan banget, tapi kali ini tembakannya bener-bener presisi dan ngena banget ke jantung persoalan istana hari ini. Waktu dia ngomong dengan nada rada gemes nyuruh Pak Prabowo buat ngeliburin Teddy Indra Wijaya, bahkan sampai nyeletuk suruh buang aja ke kutub atau ke Afrika sekalian, gue langsung ngerasa kalau ini bukan sekadar sentimen personal. Ini bukan urusan benci atau sentimen receh sesama orang lingkaran kekuasaan. Ini adalah alarm tanda bahaya yang paling nyaring soal gimana sebuah negara lagi dikelola dengan cara yang sangat tertutup.

Coba lo bayangin situasi istana sekarang pakai logika yang paling sederhana. Seskab atau Sekretaris Kabinet itu posisinya ibarat leher bagi seorang presiden. Kalau lehernya kaku, kepalanya nggak bisa nengok ke mana-mana. Kepala negara itu cuma bisa ngelihat apa yang diarahin sama lehernya. Nah, dari apa yang Connie sampaikan, Teddy ini udah berubah wujud dari sekadar ajudan yang sigap bawain map, jadi sebuah tembok beton raksasa yang ngeblokir semua akses menuju telinga presiden. Dan ini bahaya banget. Lo bayangin aja, ngurusin negara dengan populasi dua ratus delapan puluh juta orang yang masalahnya kompleks minta ampun, dari urusan perut rakyat sampai urusan geopolitik, tapi informasi yang masuk ke otak presiden cuma lewat satu pintu kecil yang dijaga ketat sama satu orang. Itu gila sih menurut gue.

Gue paham banget kenapa seorang mantan jenderal militer kayak Pak Prabowo ngerasa nyaman banget sama sosok kayak Teddy. Di dunia militer, efisiensi dan loyalitas buta itu adalah segalanya. Seorang komandan nggak butuh diajak debat sama anak buahnya di tengah medan perang. Komandan cuma butuh eksekutor yang bisa beresin urusan operasional tanpa banyak bacot. Teddy ngasih kenyamanan itu. Dia rapi, dia cepat, dia ngurusin jadwal sampai ke detail yang paling remeh. Tapi masalahnya, ngurusin negara demokratis itu bukan operasi militer. Ngurus negara itu butuh friksi. Butuh perdebatan yang alot. Butuh kepala-kepala botak yang pusing mikirin data, butuh akademisi yang cerewet, dan butuh politisi senior yang udah makan asam garam buat ngasih perspektif yang beda.
Makanya Connie sampai nyebut nama-nama kayak Pak Dasco atau Pak Sjafrie.

Mereka-mereka ini bukan orang sembarangan. Mereka itu politisi tulen dan pemikir strategi yang udah puluhan tahun hidup di lapangan kotornya politik Indonesia. Mereka tahu bau keringat rakyat, mereka paham cara main faksi-faksi politik. Kalau akses orang-orang matang kayak gini aja dipotong atau dibatesin cuma gara-gara harus lewat satu pintu protokoler yang kaku, lo bisa bayangin betapa miskinnya kualitas diskusi di ruang kerja presiden sekarang. Ruang pengambilan keputusan itu berubah jadi ruang gema, di mana presiden cuma denger suara pantulan dari pikirannya sendiri yang diiyakan sama ajudannya.

Gue mau narik lo agak jauh ke belakang buat ngelihat pola sejarah, karena penyakit kekuasaan kayak gini sebenernya udah sering banget kejadian di dunia. Di Amerika Serikat era tahun tujuh puluhan, Presiden Richard Nixon itu punya dua ajudan super setia yang namanya H.R. Haldeman dan John Ehrlichman. Saking berkuasanya dua orang ini dalam menyeleksi siapa yang boleh dan nggak boleh ketemu presiden, para politisi di Washington sampai ngasih julukan ke mereka berdua sebagai Tembok Berlin. Nixon saat itu ngerasa sangat aman dan nyaman diisolasi dari kebisingan luar. Dia ngerasa semuanya terkendali. Tapi lo tahu apa hasil akhirnya? Karena dia terlalu diisolasi, dia jadi buta sama realitas publik, dia jadi paranoid, dan akhirnya hancur lebur dalam skandal Watergate. Sang presiden runtuh bukan karena musuh dari luar, tapi karena dia mati lemas di dalam benteng yang dibangun sama orang-orang terdekatnya sendiri.

Pola yang sama persis lagi kejadian di depan mata kita sekarang. Ketika akses ditutup, otomatis rumor bakal merajalela. Connie blak-blakan nyebut soal persepsi liar di media sosial yang bilang kalau presiden aslinya ya si Teddy itu. Wah, ini tamparan yang luar biasa keras buat seorang kepala negara. Lo harus paham kalau dalam politik, legitimasi optik atau gimana publik ngelihat siapa yang bener-bener megang kendali itu sama pentingnya sama legitimasi hukum. Begitu publik atau netizen mulai bikin lelucon, bikin meme, dan punya persepsi kalau asistennya jauh lebih dominan daripada bosnya, di situlah wibawa sang pemimpin pelan-pelan mulai keropos. Presiden kelihatan kayak orang tua yang disetir, dan itu narasi yang sangat merugikan buat negara yang butuh figur pemimpin yang kuat dan mandiri.

Tapi dari semua omelan Connie, ada satu bagian yang bikin gue bener-bener merinding karena kedalaman filosofisnya. Itu pas dia ngebahas soal obsesi istana terhadap alutsista atau alat utama sistem persenjataan. Connie ngekritik tajam banget pandangan usang yang menganggap kalau kekuatan sebuah negara itu cuma diukur dari seberapa banyak tank baja yang kita punya, seberapa canggih jet tempur yang kita beli, atau seberapa banyak laras senapan yang bisa kita pamerin waktu parade. Seolah-olah kekuatan itu cuma ada di besi berkarat dan mesiu.

Gila, ini poin yang mahal banget. Connie dengan tegas ngingetin kalau kekuatan asli sebuah bangsa, pondasi dari peradaban yang nggak bisa hancur, itu letaknya ada di dalam pikiran. Di otak warganya, di gagasan-gagasan liarnya, di riset-riset akademisnya. Logika kasarnya gini, buat apa lo beli jet tempur triliunan rupiah kalau lo nggak punya ahli strategi yang otaknya cukup brilian buat nentuin kapan dan di mana jet itu harus dipakai? Buat apa lo bangun pangkalan militer gede-gedean kalau di saat yang sama guru-guru di sekolah pedalaman gajinya masih telat dan anak-anak kita otaknya stunting karena kurang gizi?

Gue jadi inget sejarah kejatuhan Uni Soviet di awal tahun sembilan puluhan. Uni Soviet itu kurang apa coba secara militer? Mereka punya puluhan ribu hulu ledak nuklir yang bisa ngancurin bumi berkali-kali lipat. Mereka punya kapal selam nuklir paling senyap di dunia. Pasukan daratnya kalau dibarisin bisa nutupin setengah benua Eropa. Tapi kenapa negara adidaya segede monster itu bisa bubar jalan dan runtuh dari dalam kayak bangunan lapuk? Jawabannya ya karena mereka terlalu mendewakan besi dan melupakan pikiran. Mereka jor-joran bakar uang buat balapan senjata, tapi mereka mematikan ruang kebebasan berpikir, memenjarakan para akademisi yang kritis, dan gagal mengurus inovasi ekonomi. Tubuh mereka kekar penuh otot militer, tapi otak mereka mengecil dan mati rasa.

Itulah kenapa permintaan Connie supaya presiden buka telinga lebar-lebar buat para akademisi itu krusial banget. Akademisi itu mungkin kadang nyebelin, ngomongnya muter-muter pakai bahasa dewa, dan sering banget ngasih kritik yang bikin kuping panas. Tapi justru di situ letak fungsinya. Mereka itu ibarat termometer yang ngasih tahu kalau suhu di luar udah mulai mendidih, di saat orang-orang istana cuma sibuk ngipasin presiden biar tetap ngerasa sejuk. Presiden butuh orang-orang yang berani bilang tidak di depan mukanya. Beliau butuh orang yang berani bawa data pahit dan bilang kalau kebijakan ini bakal bikin rakyat kelaparan, alih-alih ajudan yang cuma bisa jawab siap salah dan siap laksanakan.

Gue pernah baca salah satu aturan dari bukunya Robert Greene yang judulnya The 48 Laws of Power, dan ada satu hukum yang bunyinya nyaring banget di kepala gue pas ngelihat fenomena istana hari ini. Robert Greene nulis dengan sangat dingin: jangan pernah membangun benteng untuk melindungi dirimu sendiri, karena isolasi itu sangat berbahaya. Greene ngejelasin kalau isolasi itu bukannya ngasih lo keamanan, tapi justru memotong akses lo ke informasi yang paling penting. Isolasi bikin lo jadi target yang gampang dimanipulasi sama segelintir orang yang pegang kunci benteng lo itu. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang selalu bergerak, yang terus berbaur, dan yang telinganya selalu nempel ke tanah buat dengerin getaran dari bawah.

Kalau Pak Prabowo dibiarkan terus-terusan terkurung dalam sistem protokoler yang kaku, di mana semua tamu harus di-screening sama satu sosok dominan, di mana setiap gagasan harus difilter supaya nggak bikin bos marah, maka kita cuma tinggal nunggu waktu sampai roda pemerintahan ini benar-benar macet. Negara ini terlalu besar, terlalu majemuk, dan terlalu kompleks buat disetir pakai mentalitas barak militer yang cuma kenal satu komando lurus ke depan.

Kekuasaan itu sifatnya memabukkan, dan obat penawar satu-satunya dari kemabukan itu adalah realitas yang pahit. Masalahnya, realitas pahit itu nggak akan pernah bisa masuk ke ruang kerja presiden kalau pintu utamanya digembok rapat-rapat. Jadi, saran Connie buat ngasih cuti panjang ke sosok-sosok gatekeeper yang terlalu dominan itu aslinya bukan serangan personal yang jahat. Itu justru bentuk penyelamatan. Itu adalah usaha putus asa dari orang luar buat ngebongkar dinding kaca yang memisahkan sang pemimpin dari realitas negaranya sendiri. Karena pada akhirnya, peradaban yang besar itu dibangun dari benturan berbagai macam gagasan di meja diskusi, bukan dari barisan orang-orang yang cuma bisa mengangguk di balik seragam rapi mereka.

Pos terkait