✍️KH. Luthfi Bashori
Kelumpuhan total yang terjadi di Selat Hormuz—jalur krusial bagi 20% pasokan energi dunia—dan gangguan di Bab al-Mandab di Laut Merah, Iran memegang kendali atas urat nadi ekonomi internasional. Magnier mencatat bahwa Iran juga mulai menyasar pangkalan Amerika, hotel-hotel yang dihuni personel Barat, hingga misi diplomatik dan gudang logistik di Kurdistan dan Baghdad. Serangan terhadap fasilitas produksi minyak dan infrastruktur energi bukan sekadar upaya perusakan fisik, melainkan pesan jelas kepada komunitas internasional bahwa stabilitas energi global berada di bawah ancaman langsung selama perang ini berlanjut.
Di sisi lain, posisi negara-negara Teluk Arab berada dalam dilema yang sangat pelik. Meskipun mereka memiliki persenjataan modern dari Amerika Serikat, senjata tersebut mayoritas bersifat defensif untuk mencegat ancaman udara. Magnier berpendapat bahwa negara-negara ini kecil kemungkinannya untuk bergabung dalam perang aktif melawan Iran. Risiko ekonomi yang mereka hadapi terlalu besar; infrastruktur refinery minyak dan instalasi desalinasi air mereka sangat rentan dan mudah dihancurkan, yang jika terjadi, akan melumpuhkan ekonomi mereka selama bertahun-tahun.
Oleh karena itu, negara-negara Teluk kemungkinan besar akan memilih jalur diplomasi di balik layar. Mereka akan menggunakan pengaruh bisnis dan hubungan pribadi yang kuat dengan keluarga Donald Trump untuk menekankan bahwa jika perang tidak segera dihentikan, investasi dan kesepakatan ekonomi besar yang telah mereka bangun bisa terancam batal.
Pertanyaan mengenai resiliensi rezim Iran juga menjadi fokus utama, terutama setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Banyak analis Barat, termasuk Donald Trump, seringkali salah menilai Iran dengan membandingkannya dengan model Venezuela, di mana penggulingan pemimpin puncak diharapkan akan meruntuhkan seluruh struktur negara. Namun, Magnier menjelaskan bahwa Iran memiliki struktur kepemimpinan yang bersifat horizontal dan sangat terlembaga.
Berdasarkan Pasal 111 konstitusi mereka, terdapat berbagai dewan—seperti Dewan Ahli dan Dewan Keamanan Nasional—yang mampu mengelola negara dan operasi perang tanpa kehadiran seorang pemimpin tunggal.
Fakta bahwa Iran mampu meluncurkan serangan rudal secara terorganisir hanya dalam hitungan jam setelah pembunuhan pemimpin mereka membuktikan bahwa mekanisme komando dan kontrol mereka tetap berfungsi dengan efektif. Ideologi dan birokrasi militer mereka dirancang agar tidak ada satu orang pun yang benar-benar tidak tergantikan (AMERIKA BENAR-BENAR TERTIPU).
GEOPOLITIK YANG MENGUNTUNGKAN IRAN, PASCA DISERANG ISRAEL & AMERIKA







