Haul Abuya, 15 Ramadhan
✍️Lora Ismael Al Kholilie
Suatu malam di bulan ramadhan, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki sangat sibuk dgn banyak hal, sehingga beliau baru siap untuk beristirahat pada pukul 2 dini hari
Ketika bersiap untuk beristirahat tiba-tiba Abuya berkata sambil tersenyum :
“Andai saja ada nasi biryani yg masih panas”
Saya pun tertawa kecil karena menganggap itu hanya sebuah candaan, tapi sepertinya Abuya memang sedang membayangkan nasi biryani, mungkin kesibukan beliau sejak selesai tarawih tadi membuat beliau merasa lapar lebih cepat
Beberapa saat kemudian terdengar suara bel pintu gerbang berbunyi, kami terkejut krn ada tamu lewat tengah malam begini, Tak lama kemudian penjaga pintu gerbang datang memberi tahu bahwa ada seseorang yg ingin bertemu Abuya, Abuya mengizinkan tamu itu masuk, Tamu itu membawa nampan besar yg tertutup rapat, nampan itu langsung diletakkan didepan Abuya yang sedang duduk di kursi, Setelah basa basi sebentar, tamu tersebut pamit untuk pulang. Suasana masih sedikit tegang karena kami merasa tak wajar seorang murid Abuya berani menemui beliau di tengah malam hanya untuk memberikan makanan.
Kemudian Abuya menyuruh seorang dari kami untuk membuka nampan besar tersebut, ternyata isinya adalah nasi biryani yg masih panas, Kami semua tersenyum karena ingat bahwa beberapa menit menit yg lalu Abuya menginginkan nasi biryani.
Namun tidak dengan Abuya, beliau justru beristighfar berulang-ulang dan wajah beliau nampak sangat sedih. Beliau lalu berkata:
“Andai saja tadi aku menginginkan ampunan Allah saja, andai saja tadi aku tidak menginginkan nasi biryani”
Abuya merasa karena Allah mengabulkan keinginan beliau, maka beliau sangat menyesal karena keinginan itu adalah kenikmatan dunia, yaitu nasi biryani. Dgn wajah sedih dan penuh penyesalan Abuya berulang-ulang berkata:
“Kenapa tadi aku tidak menginginkan ampunan Allah saja ?”
Penyesalan itu membuat selera makan Abuya hilang, beliau nampak sedih seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga. Akhirnya Abuya menyuruh kami agar mebawa keluar nasi biryani itu untuk dimakan santri
( dari catatan santri beliau Kh. Ali Badri )
teruntuk Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, maha guru dari para guru kita di Indonesia, Al-Fatihah..🥀







