Pernyataannya muncul di tengah gelombang protes besar-besaran yang menentang kebijakan terbaru pemerintah, termasuk rencana pemecatan ketua badan keamanan Shin Bet serta serangan yang terus berlanjut di Gaza.
Dalam wawancaranya dengan situs berita Ynet, Barak menyoroti bahwa “masalah utamanya saat ini adalah masyarakat Israel berada di lini kedelapan,” mengacu pada perlawanan Israel terhadap proksi Iran di tujuh front yang berbeda.
“Dan itulah perpecahan yang parah antara Israel dan mereka sendiri,” katanya.
Ia juga memperingatkan dampak dari perpecahan ini, yang menurutnya bisa berujung pada kekacauan besar.
“Keretakan ini semakin parah dan pada akhirnya, saya khawatir, akan seperti kereta api yang keluar jalur dan terjun ke jurang yang menyebabkan perang saudara,” ujarnya.
Barak juga menegaskan pentingnya mencegah dominasi kekuasaan yang berlebihan dalam sistem pemerintahan.
“Kita harus mencegah tirani mayoritas,” katanya.
Menurut laporan Times of Israel, ribuan demonstran berkumpul di depan kantor Netanyahu, tempat kabinet akan mengadakan pemungutan suara mengenai pemecatan Kepala Shin Bet, Ronen Bar. Mereka berbaris dari kediaman Netanyahu ke kantor pemerintah di tengah guyuran hujan lebat.
Selain menentang pemecatan Ronen Bar, para pengunjuk rasa juga memprotes rencana pemerintah untuk memperbarui undang-undang kontroversial yang akan memperkuat kontrol politik atas sistem peradilan, serta kegagalan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Dalam aksi protes di Yerusalem, polisi terlihat menggunakan palu dan batu untuk memecahkan jendela mobil yang menghalangi jalan.
Sejumlah tokoh turut bersuara dalam aksi tersebut, termasuk mantan Menteri Likud, Dan Meridor, yang mengecam kepemimpinan Netanyahu.
“Saya yakin ketika [mantan Perdana Menteri] Yitzhak Shamir menyebut Netanyahu sebagai malaikat penghancur, dia tidak membayangkan kehancuran yang akan ditimbulkan Netanyahu terhadap masyarakat Israel sebegini besar,” kata Meridor.
Ketua Partai Demokrat, Yair Golan, juga berbicara di hadapan ribuan demonstran di depan Kantor Perdana Menteri di Yerusalem.
“Kami akan membuang pemerintahan ini ke dalam tong sampah sejarah,” katanya, seraya menyatakan harapannya agar Israel menjadi “negara demokratis yang adil dan setara, negara yang ingin ditinggali oleh anak cucu kami.”
Golan sebelumnya sempat mendapat perlakuan keras dari polisi dalam protes di depan kediaman perdana menteri.
Sementara itu, mantan Ketua Shin Bet, Carmi Gilon, mengecam tindakan Netanyahu yang berupaya memberhentikan penggantinya serta Jaksa Agung Gali Baharav-Miara. Ia menuding Netanyahu telah “mengorbankan Shin Bet.”
“Sangat mungkin kita berdiri di sini hari ini dalam salah satu demonstrasi demokrasi terakhir yang terjadi di Negara demokratis Israel,” katanya.
(Sumber selengkapnya: Republika)