Jurnalis Tempo Diteror Kepala Babi, Respon Istana “Sudah dimasak saja”

Diketahui sebelumnya, Berdasarkan informasi yang diperoleh, paket tersebut diterima oleh satuan pengamanan Tempo pada Rabu (19/03) sore dan ditujukan kepada seorang jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, wartawan desk politik sekaligus pembawa siniar Bocor Alus Politik.

Paket itu diantar oleh seorang pria yang mengendarai sepeda motor, berjaket hitam, dan mengenakan helm ojek online.

Begitu sampai di depan gerbang, paket tanpa identitas pengirim tersebut diserahkan dalam kondisi terbungkus rapi sehingga tidak memunculkan kecurigaan apapun, menurut Erick. Bahkan satuan pengamanan Tempo tak mencium bau.

Esoknya atau Kamis (20/03) sore, Cica—sapaan akrab Francisca—bersama Hussein Abri Yusuf Muda baru saja pulang liputan. Karena mendapat informasi ada paket kiriman untuknya, Cica disebut membawa kardus itu ke lantai 4.

Hussein, tutur Erick, yang membukanya dan tercium bau menyengat.

“Jadi ada kardus, kemudian di dalamnya ada styrofoam. Di dalam styrofoam itu ada plastik lagi. Pas dibuka styrofoam itu baru tercium bau menyengat,” papar Erick.

“Saat dibuka plastiknya ada kelihatan kepala babi dengan dua telinga dipotong.”

Bacaan Lainnya

Respon Jubir Presiden

Akan tetapi, respons yang diberikan oleh Juru Bicara Presiden Prabowo Subianto itu justru menuai kontroversi. Sebab, dia menyarankan agar kepala babi tersebut “dimasak saja”. “Sudah dimasak saja,” kata Hasan Nasbi di Kompleks Istana Kepresiden, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Maret 2025.

Pernyataan Kepala Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi terkait teror kepala babi ke Jurnalis Tempo, mendapat sorotan tajam dari Koalisi Masyarakat Sipil.

Aktivis Centra Initiative sekaligus anggota Koalisi Masyarakat Sipil Al araf mengatakan mereka mengecam sikap Hasan Nasbi.

“Kami mengecam keras sikap arogansi yang disampaikan oleh Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, atas peristiwa teror kepala babi di kantor Tempo,” tegas Al araf, dalam keterangan resmi, Sabtu 22 Maret 2025.

Pasalnya, pernyataan Hasan Nasbi yang menyuruh memasak kepala babi tersebut dinilai menunjukkan sifat yang tak punya empati. Lebih jauh daripada itu, Hasan Nasbi sepertinya tidak mendukung kebebasan pers.

“Pernyataan Hasan Nasbi yang seolah menyuruh “memasak kepala babi” yang tergeletak di jalan itu, selain tidak berempati, juga melanggar prinsip kebebasan pers,” tegas Al Araf.

Al Araf menilai, pernyataan tersebut cenderung merendahkan, tidak patut disampaikan oleh seorang Kepala Kantor Komunikasi Presiden.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *