Ada karomah yang jauh lebih kejam daripada azab instan:
musuh dibiarkan hidup, berbicara, dan bertindak—sampai dunia melihat kebodohan dan kedengkiannya tanpa perlu dibantah.
Itulah yang terjadi pada Sekte Imad PWI-LS, para pembenci Habaib.
Bertahun-tahun mereka menyalak: mengklaim “ilmiah”, merasa paling rasional, mengaku pembongkar kebohongan sejarah, dan terus menyerang para Habaib, darah dagingnya Rasulullah SAW.
Namun yang tampak di permukaan justru pola klasik jahil murokkab: tidak tahu, dan tidak sadar bahwa ia tidak tahu.
Mereka mengira sedang menyerang nasab.
Padahal yang mereka serang adalah hukum sosial-spiritual yang sudah bekerja ratusan tahun.
Yang mereka usik ini adalah keturunannya baginda Nabi Muhammad SAW yang mulia
Hasil riil di lapangan—bukan opini, bukan klaim—adalah ini:
Setiap cacian Imad cs→ jamaah Habaib malah bertambah
Setiap fitnah → simpati umat menguat
Setiap provokasi → acara Habaib makin padat
Sementara di kubu Imad?
Retorika makin emosional
Argumen makin berputar-putar
Standar “ilmiah” berubah tiap minggu
Dan ujungnya: ancaman fisik, mengancam membunuh
Ini bukan keberanian.
Ini fase akhir kekalahan intelektual—saat logika sudah mati, tapi ego belum mau dikubur.
Secara psikologis, mereka terjebak dalam sindrom dengki kronis: melihat orang lain dimuliakan → hatinya panas,
melihat cinta umat mengalir → pikirannya runtuh,
melihat acara sendiri sepi → realitas jadi musuh utama.
Yang paling kejam dari semua ini? Para Habaib tidak melakukan apa-apa pada mereka. Para Habaib hanya tetap melanjutkan dakwah, dan tersenyum kepada umat.
Tidak menyerang balik.
Tidak membalas makian.
Tidak sibuk klarifikasi tanpa henti.
Cukup terus dicintai umat.
Dan itu lebih menyiksa daripada seribu bantahan.
Karena bagi orang yang hidup dari kebencian,
melihat objek kebenciannya bahagia, dihormati, dan dikerumuni
adalah bentuk siksaan mental paling brutal.
Inilah sunnatullah yang tak pernah gagal:
Cinta yang tulus akan bertahan tanpa teriak
Kebencian akan kelelahan oleh dirinya sendiri
Dan orang yang memusuhi psra Habaib, keturunan Nabi ﷺ akan mati perlahan—bukan jasadnya, tapi akal sehat dan harga dirinya
Dan sebelum mati, mereka akan lebih dulu gila, sakit jiwa, dan pameran kedunguan mereka di medsos jadi bahan tertawaan masyarakat, yang juga terjadi setelah mereka jadi bangkai dan dikubur
Masya Allah.
Ini bukan sekadar karomah.
Ini eksekusi sunyi—tanpa darah, tanpa senjata, tanpa balasan.
Dan yang paling memalukan:
mereka tahu ini terjadi…
tapi tidak punya apa pun untuk menghentikannya.
Faktakini







