MENENGOK TAHLILAN VERSI TABI’IN, SEBAGAI PENGUAT AMALAN KHUSUS ASWAJA

✍️KH. Luthfi Bashori

Setiap generasi ada saja perbedaan tata cara dalam mengamalkan ibadah sunnah, seperti di jaman Rasulullah SAW hidup, beliau shalat Tarawih hanya beberapa hari, tetapi berbeda dengan tata cara di jaman Khalifah Umar bin Khatthab yang cara mengamalkan shalat Tarawihnya hingga 20 rakaat + 3 Witir.

Pada jaman berikutnya di saat hidupnya Imam Malik bin Anas, umat Islam di Madinah melaksanakan shalat Tarawih hingga 36 + 3 rakaat, berbeda dengan tata cara di masa Rasulullah SAW & Khalifah Umar bin Khatthab.

Ternyata tata cara Tahlilan di zaman Tabi’in juga sedikit berbeda dengan tata cara Tahlilan di zaman sekarang, namun subtansinya tetap sama yaitu kirim doa untuk mayit di alam kubur.

Dalil Tentang Tahlilan berasal dari Hadis Riwayat Imam Thawus Al-Yamani.

Imam Thawus al-Yamani adalah seorang tabi’in terkemuka dari kalangan ahli (penduduk) Yaman. Beliau bertemu dan belajar dengan 50–70 orang shahabat Nabi SAW.

Imam Thawus menyatakan bahwa orang-orang mati difitnah atau diuji atau ditanya dalam kubur-kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menyukai untuk diberikan makanan sebagai sedekah bagi pihak si mati sepanjang tempo tersebut.

Hadis Imam Thawus ini dikategorikan oleh para ulama kita sebagai mursal marfu’ yang sahih. Disebut mursal marfu’ karena hanya terhenti kepada Imam Thawus tanpa diberitahu siapa rawinya dari kalangan sahabat dan seterusnya kepada Junjungan Nabi SAW.

Tetapi, karena ia melibatkan perkara barzakhiyyah (alam kubur) yang tidak diketahui selain melalui wahyu maka dirafa’kanlah sanadnya kepada Junjungan Nabi SAW.

Para ulama menyatakan bahwa hadis mursal marfu’ ini boleh dijadikan hujjah secara mutlak dalam 3 mazhab Sunni (Hanafi, Maliki dan Hanbali, manakala dalam mazhab kita asy-Syafi’i iah dijadikan hujjah jika mempunyai penyokong (selain daripada mursal Ibnu Mutsayyib).

Dalam konteks hadis Imam Thawus ini, ia mempunyai sekurang-kurangnya 2 penyokong, yaitu hadis ‘Ubaid dan hadis Mujahid.

Oleh karena itu, para ulama kita menjadikannya hujjah untuk amalan yang biasa diamalkan oleh orang kita di rantau sini, yaitu apabila ada kematian maka dibuatlah kenduri selama 7 hari di mana makanan dihidangkan dengan tujuan bersedekah bagi pihak si mati.

Hadis Imam Thawus ini dibahas oleh Imam Ibnu Hajar dalam “al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah” jilid 2 muka surat 30. Imam besar kita ini, Syaikh Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami as-Sa’di al-Anshari ditanya dengan satu pertanyaan apakah pendapat ulama yang mengatakanbahwa orang mati itu difitnah, diuji, atau ditanya 7 hari dalam kubur mereka ada sumbernya dalam syara’?

Menurut beliau, pendapat ini mempunyai asal pada syara’. Imam Ibnu Hajar menjawab bahwa pendapat tersebut mempunyai dalil yang kukuh (ashlun ashîlun) dalam syara’. Rujukan yang digunakan para ulama tersebut antara lain:

(1) Dari Imam Thawus dengan sanad yang shahih,

(2) Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dengan sanad yang berhujjah dengannya Ibnu ‘Abdul Bar, yang merupakan seorang yang lebih besar daripada Imam Thawus maqamnya dari kalangan Tabi’in. Bahkan, ada yang menyatakan bahwa ‘Ubaid bin ‘Umair adalah seorang sahabat karena beliau dilahirkan dalam zaman Nabi SAW. dan hidup pada sebahagian zaman Sayyidina ‘Umar di Makkah; dan

(3) Dari Imam Mujahid.
Hukum 3 riwayat ini adalah hukum hadis mursal marfu’ karena persoalan yang diperkatakan itu (yakni berhubungan dengan orang yang meninggal mendapat cobaan selama 7 hari) adalah perkara ghaib yang tiada boleh diketahui melalui pendapat akal. Apabila perkara begini datangnya daripada tabi’in ianya dihukumkan mursal marfu’ kepada Junjungan Nabi SAW. sebagaimana dijelaskan oleh para imam hadis.

Hadits Mursal boleh dijadikan hujjah menurut tiga imam (yakni Hanafi, Maliki dan Hanbali) dan juga menurut madzhab kita (yakni Syafi’i) apabila hadis tersebut didukung oleh riwayat lain. Dan hadis ini telah disokong riwayat Mursal Imam Thawus dengan 2 lagi mursal yang lain (yaitu Mursal ‘Ubaid dan Mursal Mujahid), bahkan jika kita berpendapat bahwa sabit ‘Ubaid itu seorang sahabat niscaya bersambunglah riwayatnya dengan Junjungan Nabi SAW.

Selanjutnya, Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa telah sah riwayat daripada Imam Thawus bahwasanya “mereka menyukai/memustahabkan untuk diberi makan bagi pihak si mati selama tempo 7 hari tersebut.”

Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa “mereka” di sini mempunyai 2 pengertian, yaitu menurut ahli hadis dan usul (ahli akidah).

Pengertian pertama ialah “mereka” adalah umat pada zaman Junjungan Nabi SAW. di mana mereka melakukannya dengan diketahui dan dipersetujui oleh Junjungan Nabi SAW.

Pengertian kedua ialah “mereka” bermaksud “para sahabat sahaja tanpa dilanjutkan kepada Junjungan Nabi SAW.” (yakni hanya dilakukan oleh para sahabat sahaja).

Jadi kita dimaklumkan (umumkan) bahwa setidak-tidaknya amalan “ith’aam” (memberi makanan) ini dilakukan oleh para sahabat, jika tidak semuanya maka sebahagian daripada mereka.

Bahkan Imam ar-Rafi’i menyatakan bahwa amalan ini masyhur di kalangan para sahabat tanpa diingkari.

Amalan memberi makan atau sedekah kematian selama 7 hari mempunyai nas yang kukuh dan merupakan amalan yang dianjurkan oleh generasi awal Islam. Meski tidak semua, tapi sekurang-kurangnya sebahagian generasi awal daripada kalangan shahabat dan tabi’in ada yang mengamalkannya.

Oleh karena itu, bagaimana dikatakan bahwa hal itu tidak mempunyai sandaran hukum? Imam as-Suyuthi juga telah membahaskan perkara ini dengan lebih panjang lebar lagi dalam kitabnya “al-Hawi lil Fatawi” juz 2 di bawah bab yang dinamakan “Thulul ats-Tsarayaa bi idhhaari maa kaana khafayaa” di mana antara kesimpulan yang dirumuskannya pada mukasurat 194:

“Sesungguhnya sunnah memberi makan 7 hari. Telah sampai kepadaku (yakni Imam as-Suyuthi) bahwasanya amalan ini tetap diamalkan sehingga sekarang (yakni zaman Imam as-Sayuthi) di Makkah dan Madinah”.

Maka dzahirnya amalan ini tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat sehingga sekarang, dan generasi yang datang kemudian telah mengambilnya daripada generasi terdahulu sampai ke generasi awal Islam lagi (ash-shadrul awwal). Dan aku telah melihat kitab-kitab sejarah sewaktu membicarakan biografi para imam banyak menyebut: “dan telah berhenti/berdiri manusia atas kuburnya selama 7 hari di mana mereka membacakan al-Quran”.

Telah dikeluarkan oleh al-Hafidz al-Kabir Abul Qasim Ibnu ‘Asaakir dalam kitabnya yang berjudul “Tabyiin Kadzibil Muftari fi ma nusiba ilal Imam Abil Hasan al-‘Asy’ari” bahwa dia telah mendengar asy-Syaikh al-Faqih Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bin ‘Abdul Qawi al-Mashishi berkata: “Telah wafat asy-Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram 490H di Damsyik. Kami telah berdiri/berhenti/berada di kuburnya selama 7 malam, membaca al-Quran pada setiap malam, 20 kali khatam.”

“Ith’aam” ini boleh dilakukan dalam bentuk apa saja. Tidak semestinya dengan berkenduri seperti yang lazim diamalkan orang kita. Jika dibuat kenduri seperti itu, tidaklah menjadi kesalahan atau bid’ah sesat, asalkan bentuk pekerjaannya itu betul sesuai kehendak syara’ (tidak melanggar syariat).

Pos terkait