✍️KH. Luthfi Bashori
Eskalasi geopolitik yang memanas dalam peperangan antara Iran, Israel & Amerika termasuk sejumlah negara Teluk, mengingatkan umat Islam atas tragedi runtuhnya gedung WTC tahun 2001 menjadi satu peringatan tersendiri bagi Amerika. Indikasinya adalah munculnya beberapa tentangan dan kecaman atas kepongahan dan arogansi Amerika.
Sekalipun peristiwa itu masih dianggap misterius oleh sebagian kalangan, karena ketidakjelasan pelaku dan dalang yang bermain di balik peristiwa itu, namun demikian banyak orang bersyukur atas tragedi tersebut.
Bahkan berharap semoga Allah meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit dan tempat-tempat strategis lainnya yang menjadi kebanggaan Amerika.
Kesombongan, kedurjanaan dan arogansi Amerika tidak lepas dari perasaan percaya diri yang berlebihan, dengan suksesnya pembangunan fisik yang telah dicapai selama ini.
Seperti halnya Fir’aun dengan suksesnya dan luasnya kekuasaan serta didukung kondisi kesehatan yang tidak pernah sakit, maka sifat kesombongan Fir’aun pun tak terelakkan muncul dalam dirinya. Sehingga tumbuhlah kepercayaan diri yang berlebihan, dengan adanya kesuksesan demi kesuksesan yang diraih olehnya.
Bahkan dengan pongahnya ia mentahbiskan dirinya sebagai ‘tuhan’ yang mampu menghidupkan (membiarkan hidup) seseorang dan mematikan (membunuh) seseorang. Itulah persepsi Fir’aun tentang konsep ‘ketuhanan’ dalam dirinya.
Siapapun tahu, betapa arogannya Amerika sebagai negara adikuasa, di dalam menindas dan menindas bangsa-bangsa lain.
Perlakuan tidak adil sering diterapkan terhadap negara-negara dunia, semisal penerapan double standard terhadap Israel, dalam kebijaksanaan pengawasan dan pembatasan nuklir dan senjata pemusnah massal, sangat berbeda dengan pengawasan dan pembatasan terhadap negara-negara lain.
Itulah salah satu bentuk konkrit arogansi dan ketidakadilan yang diterapkan oleh Amerika. Ribuan nyawa Umat Islam Afghanistan, Iraq, dan nyawa penduduk negara-negara yang berseberangan dengan Amerika, telah menjadi korban kebiadaban yang tak terlupakan. Amerika memang penjahat perang. Amerika adalah teroris, bahkan nenek moyang teroris.
Dunia tidak boleh tinggal diam, dunia harus berteriak, dunia harus menentang sepenuhnya arogansi dan segala perilaku Amerika yang merugikan umat manusia.
Barangkali sangat tepat jika Amerika dikatakan sebagai Dajjal yang selalu melakukan kerusakan di muka bumi, Maka sudah selayaknya umat Islam dan seluruh penduduk dunia mengadakan gerakan massal untuk menentang Amerika. Jadi sudah selayaknya pula tanggal 11 September diperingati sebagai ‘Hari Anti Amerika Sedunia’.
Apabila terjadi massa turun di jalan di mana-mana tepat tanggal 11 September untuk menentang arogansi Amerika, maka akan terwujudlah ‘Hari Anti Amerika Sedunia’. Untuk mengkondisikan suasana tersebut, maka hendaklah kita memulai dan mengajak masyarakat dunia untuk mendeklarasikan HARI ANTI AMERIKA SE-DUNIA.







