Keakraban dan berbagai sikap Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan kalangan non Islam dipertanyakan banyak kalangan. Terlihat di sana bahwa Menag tidak punya misi dakwah kepada kalangan non Islam.
Bahkan terkesan Menag membenarkan ajaran-ajaran mereka. Ini dapat dilihat dari Kurikulum Cinta yang disusun Kemenag yang cenderung menyamakan agama, fenomena Menag mencium kening Paus Fransiskus dan kemudian menziarahi makamnya, menghadiri berbagai acara Kristen dan lain-lain.
Tentu bergaul dengan baik dengan kalangan non Islam dianjurkan oleh Islam, tapi menyanjung mereka dan menyatakan agama mereka benar, adalah dilarang dalam Islam. Hamka pernah menyatakan, “Islam tidak melarang pergaulan dengan pemeluk agama lain, tetapi Islam melarang umatnya kehilangan keyakinan atas kebenaran agamanya sendiri.”
Sejarah mencatat, Menteri Agama Indonesia pada masa awal republik justru tampil dengan misi dakwah yang kuat dan jelas. Nama KH Wahid Hasyim dan Prof Mohammad Rasjidi sering disebut sebagai contoh ideal.
Wahid Hasyim, putra pendiri NU Hasyim Asy’ari, dikenal sebagai ulama sekaligus negarawan. Ia memperjuangkan islam masuk dalam konstitusi, merintis pendidikan Islam, memperkuat madrasah, dan mendorong modernisasi pesantren tanpa kehilangan akidah.
Sejarawan Islam Deliar Noer pernah menulis bahwa Wahid Hasyim memandang negara sebagai “alat dakwah yang sah dan strategis bagi umat Islam”. Kebijakannya tidak bersifat retoris, tetapi konkret: membangun institusi, mencetak kader, dan memperkuat posisi Islam di ruang publik.
Sementara itu, Prof Mohammad Rasjidi dikenal tegas dalam menghadapi misi Kristenisasi dan dominasi pemikiran Barat. Dalam berbagai forum internasional, Rasjidi tidak ragu mengkritik orientalisme dan relativisme agama. “Dialog antaragama tidak boleh mengaburkan kebenaran. Islam datang bukan untuk disamakan, tetapi untuk menyempurnakan,” tulis Rasjidi dalam sejumlah esainya.
Bagi Rasjidi, Menteri Agama Muslim adalah duta akidah, bukan sekadar fasilitator perbedaan.
Menurut mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Amien Rais, elite Muslim yang kehilangan orientasi dakwah akan mudah larut dalam agenda global.
“Kalau pemimpin Muslim tidak percaya diri dengan Islam, jangan berharap umatnya kuat. Yang terjadi justru penjajahan gaya baru melalui budaya dan pemikiran,” kata Amien Rais dalam salah satu ceramah politiknya.
Kritik terhadap Menteri Agama bukanlah penolakan terhadap toleransi, melainkan kerinduan akan kepemimpinan dakwah. Umat Islam Indonesia tidak anti dialog, tetapi menolak kepemimpinan yang kehilangan izzah.
Sejarah telah memberi teladan: Menteri Agama Muslim harus menjadi negarawan yang berdakwah, bukan pejabat yang netral nilai. Tanpa misi dakwah, Kementerian Agama berisiko kehilangan ruh sejarahnya.
Sumber : suaraislam
