SURAT TERBUKA UNTUK Muharror Khudlori

SURAT TERBUKA
UNTUK Muharror Khudlori



Kesesatanmu, muharror.

Atas nama kejujuran ilmiah Saudara Moharror,

Anda menafsirkan lafaz رَبِّ الْعَالَمِينَ (Rabbul ‘Ālamīn) dalam Al-Fatihah, lalu dengan enteng memelintir kata “Rabb” menjadi “rupiah”. Anda yang bukan siapa-siapa di bidang tafsir telah mempertontonkan pelecehan terhadap tradisi tafsir Islam.

1. Klaim ahli metode baca kitab, tapi rabun bahasa Arab.

Anda sering tampil dengan citra “si paling ahli metode baca kitab”. Tapi tafsir Anda justru memperlihatkan kemiskinan fatal dalam ilmu lughah Arab.

Secara bahasa (lughatan), kata رَبّ (Rabb) memiliki makna yang jelas, baku, dan disepakati ulama bahasa, antara lain:

• المالك : Pemilik
• السيد : Penguasa
• المدبر : Pengatur
• المربي : Yang menumbuhkan dan memelihara
• القائم على الشيء : Yang bertanggung jawab penuh atas sesuatu

Tidak ada, dan tidak mungkin ada dalam sejarah bahasa Arab, kata Rabb bermakna “rupiah”. Rupiah itu bahasa modern, dan produk negara. Menghubungkan keduanya adalah cocokologi murahan yang tidak lolos standar santri kelas awal, apalagi ulama.

Jika ini merupakan puncak dari yang anda sebut metode, maka metode anda rusak dari fondasinya.

2. Tafsir pakai akal liar: apakah Anda lupa ancaman Nabi?

Apakah Anda tidak tahu bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu mendapat ancaman keras dari Nabi ﷺ?

Rasulullah bersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri (tanpa ilmu), maka bersiaplah menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. Tirmidzi)

Hadits ini bukan untuk membungkam ijtihad, tapi untuk membunuh kebodohan yang menyamar sebagai keberanian berpikir.

Menafsirkan Rabb menjadi rupiah bukan tadabbur, Itu akal-akalan liar yang tidak diikat oleh ilmu apa pun.

3. Dosa berantai.

Yang paling mengerikan bukan Anda. Yang paling berbahaya adalah orang-orang awam yang masih mengira Anda alim.

Mereka mendengar tafsir Anda, percaya, menyebarkan, lalu menjadikannya “pemahaman agama”. Setiap kesalahan yang mereka yakini karena Anda, mengalir sebagai dosa jariyah.

4. predikat yang dinisbatkan kepada Allah

Saudara Moharror,

Yang Anda permainkan bukan kata netral, bukan lafaz yang disandarkan kepada Fir’aun, Abu Jahal, atau makhluk mana pun.

Yang Anda cocokologikan adalah kata رَبّ — nama yang dinisbatkan langsung kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Lafaz itu yang dibaca setiap hari oleh jutaan kaum muslimin dalam shalat mereka.

Ketika Anda menurunkannya menjadi “rupiah”, Anda tidak sedang berpikir kreatif, tapi menyeret nama Allah ke dalam simbol dunia paling dangkal: uang.

Ini pelecehan makna.
Ini perendahan lafaz ilahi.

Dalam bahasa lugas: Anda menistakan Tuhan, meski mungkin Anda bungkus dengan senyum, logika, dan retorika.
Ulama berbeda pendapat dalam banyak hal.
Tapi tidak satu pun ulama yang waras menjadikan nama Allah setara dengan alat tukar ekonomi.

5. Menjadikan Al-Qur’an pembenar prinsip “segala solusi adalah uang” adalah kesesatan nyata

Lebih berbahaya lagi, Anda menyeret ayat Al-Qur’an untuk membenarkan pernyataan Anda sebelumnya:
“Segala sesuatu solusinya adalah uang.”
Ini bukan sekadar keliru.
Ini ideologi gila dunia, dan Islam menentangnya secara frontal.

Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan bahwa uang adalah solusi utama. Justru Allah berulang kali mengarahkan manusia kepada sabar, shalat, dan dzikir ketika menghadapi masalah hidup.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Bukan “minta tolong dengan uang”.
Bukan “selesaikan dengan rupiah”.
Tapi sabar dan shalat.

Dan tentang ketenangan jiwa, Allah menegaskan dengan sangat jelas:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Bukan dengan saldo.
Bukan dengan harta.
Bukan dengan angka di rekening.
Islam tidak anti harta.

Tapi Islam memerangi penghambaan kepada harta.
Dan ketika Anda mencari pembenaran prinsip materialistik itu di dalam Al-Qur’an, maka yang terjadi jelaslah penyesatan berkedok dalil.

Saudara Moharror,
Al-Qur’an diturunkan untuk membebaskan manusia dari perbudakan dunia, bukan untuk melegitimasi kerakusan dunia.

Jika setiap masalah diselesaikan dengan uang, lalu di mana posisi sabar? shalat? tawakal? dzikir?
Jika semua jawaban ada pada rupiah, maka apa gunanya wahyu?
Hati-hatilah.

Wallāhu a‘lam.

Monggo disebut di komentar, akun² yang seharusnya tahu surat saya ini.

(MAIMUN NAFIS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *