Kasus keracunan ratusan santri Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug pada Sabtu (10/1) lalu menjadikan pengelola Ponpes trauma.
Setelah mendapatkan Izin Badan Gizi Nasional (BGN) kini Ponpes tersebut membuat SPPG sendiri.
Pengurus Ponpes Mitahul Huda Fuad Abdillah mengatakan, setelah ada kejadian kasus keracunan masssal santri usai memakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kuwaron Gubug Ponpes melakukan evaluasi tentang pemberian makan pada santri. Sebab, sebelumnya belum ada kasus keracunan sampai ratusan santri.
”Dari hasil evaluasi kami akan mendirikan SPPG sendiri untuk mencukupi kebutuhan Ponpes dan lingkungan,” kata Fuad Abdillah.
Pengelolaan MBG bagi ponpes tidak terlalu berat. Dimana sudah terbiasa mengelola makanan untuk santri dengan jumlah lebih 1.600 santri. Hanya saja perlu management dan ahli gizi untuk pengelolaanya.
”Saat ini sudah proses pembangunanya dulu. Untuk menu MBG dari luar kami stop dan makan dari Ponpes,” terang dia.
Ketua Satgas SPPG Grobogan Sugeng Prasetyo menambahkan, izin untuk mendirikan SPPG di Ponpes Miftahul Huda sudah keluar dan sekarang sudah proses pembangunan. Target untuk pembangunany ditarget 45 hari siap operasional.
”Dari pihak pesantren menyatakan siap,” ujar Sugeng Prasetyo yang juga menjabat Wakil Bupati Grobogan.
Dikatakan, saat ini Ponpes tersebut mempunyai 1.628 santri penerima manfaat. Kemudian ada pengelola yang dapat.
Total penerima nanti sampai 1. 800 penerima manfaat. Kemudian bisa meluas ke kiri kanan.
”Saat ini SPPG sudah ada 132 bangunan. Yang sudah operasional 116 dari kuota Kabupaten Grobogan ada 150 SPPG,” terang dia.
Ketika ditanya masalah SPPG belum merata di Kabupaten Grobogan. Salah satunya ada di Kecamatan Kedungjati baru satu SPPG berdiri. Namun, dari 19 Kecamatan di Kabupaten Grobogan sudah terisi semua ada bangunan SPPG.






