TUYUL, SWASTA vs NEGERI ?
Tuyul dalam kepercayaan masyarakat Nusantara adalah makhluk ghaib yang digambarkan menyerupai anak kecil dan dipercaya dapat mencuri uang atau membantu seseorang memperoleh kekayaan secara tidak wajar.
Dalam perspektif Islam, tuyul tidak dikenal secara khusus dalam Al-Qur’an maupun Hadits dengan nama “Tuyul”.
Namun, Islam mengakui adanya jin sebagai makhluk ghaib:
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api yang sangat panas.” (QS. Ar-Rahman: 15)
Sebagian ulama Nusantara memandang cerita tentang tuyul (jika memang ada hakikatnya) lebih dekat kepada perbuatan jin yang dimanfaatkan melalui sihir atau kerja sama dengan dukun, bukan makhluk tersendiri yang disebut “Tuyul” dalam syariat. Karena itu, keberadaan jin adalah bagian dari akidah Islam.
Adapun tuyul sebagai istilah dan bentuk yang populer di tengah masyarakat, tidak memiliki dalil khusus dalam syariat. Klaim bahwa seseorang dapat memelihara tuyul, atau uang hilang karena diambil tuyul tidak boleh diyakini secara mutlak, tanpa bukti yang jelas.
Itu pun menurut saya, jika benar terjadi, namanya adalah ‘Tuyul Swasta”, kapasitas mencurinya juga cuma sedikit-sedikit saja.
Barangkali yang lebih nyata dan sangat berbahaya itu, justru keberadaan ‘Tuyul Negeri’ yang sudah sering merampok uang rakyat lewat proyek-proyek kenegaraan, korupsi APBD & APBN dan sebagainya, dengan berbagai modus, bahkan hingga hampir menumbangkan negara.
Wallahu a’lam.
KH. LUTHFI BASHORI
