Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menetapkan sembilan ulama dengan perolehan suara tertinggi sebagai anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA).
Penetapan dilakukan berdasarkan rekapitulasi suara dari enam bilik atau panel.
Berdasarkan hasil akhir, KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso menjadi tokoh dengan perolehan suara tertinggi. Ia mengumpulkan 485 suara atau sekitar 10,31 persen dari total suara sah, Ahad (30/08/2026).
Posisi kedua ditempati TGK KH Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu yang memperoleh 477 suara atau 10,14 persen. Selisih keduanya hanya delapan suara.
Sementara itu, posisi ketiga diraih AG Dr KH Baharuddin HS, MA dengan 392 suara atau 8,34 persen.
Kesembilan ulama tersebut selanjutnya menjadi anggota AHWA yang memiliki tugas penting dalam mekanisme pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sesuai ketentuan organisasi.
Berdasarkan AD/ART NU serta tata tertib Muktamar ke-35, pemilihan Rais Aam tidak dilakukan melalui pemungutan suara langsung oleh peserta muktamar. Proses tersebut dilakukan melalui musyawarah mufakat oleh sembilan anggota AHWA yang telah ditetapkan berdasarkan usulan para muktamirin.
Berikut AHWA terpilih:
1. KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso) – 485 suara
2. TGK. KH. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) – 477 suarA
3. AG. Dr. KH. Baharuddin HS, MA – 392 suara
4. KH. Miftachul Akhyar – 350 suara
5. KH. Afifuddin Muhajir – 339 suara
6. KH. Anwar Iskandar – 326 suara
7. KH. Anwar Manshur (Lirboyo) – 303 suara
8. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj – 273 suara
9. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA – 268 suara
