Ketika Shalahuddin Al-Ayyubi ingin membebaskan Al-Quds dari kekuasaan tentara Salib, Ia mengumpulkan tentara dari berbagai etnis dan aliran. Tentara-tentara Shalahuddin al-Ayyubi terdiri dari orang-orang Sunni dan orang-orang Syiah.
Al-Maqrizi, murid kesayangannya Ibnu Khaldun mengatakan bahwa setelah menaklukkan Dinasti Fathimiyyah di Mesir, Shalahuddin al-Ayyubi membiarkan tentara-tentara Mesir dalam posisinya. Ia mengatakan: وكان عسكر المصريين بقايا عساكر الفاطميين
Strategi utama Shalahuddin sebelum menyerang Al-Quds adalah menyatukan umat Islam yang terpecah. Ia menggabungkan kekuatan dari Mesir, Suriah, Mesopotamia (Jazira), dan wilayah sekitarnya.
Shalahuddin meyakini bahwa Al-Quds tidak dapat dibebaskan tanpa persatuan internal. Oleh karena itu, ia menghabiskan bertahun-tahun untuk menundukkan faksi-faksi Muslim yang bertikai dan menyatukan mereka di bawah satu komando militer yang efektif sebelum akhirnya memenangkan Pertempuran Hattin dan mengepung Yerusalem dan akhirnya membebaskannya dari pasukan Salib.
Pasukan Salahuddin mencakup berbagai kelompok etnis seperti:
Turki dan Kurdi: Merupakan inti pasukan kavaleri profesional.
Arab, Berber, dan Sudan: Kelompok-kelompok ini merupakan sisa-sisa dari struktur militer era Fatimiyah di Mesir, yang secara historis memiliki latar belakang atau pengaruh Syiah yang kuat.
Ayo kita belajar dari Shalahuddin al-Ayyubi bahwa dalam melawan musuh yang besar, hilangkanlah fanatik aliran apapun, yang ada hanya Islam dan orang muslim yang melawan kebatilan dan kekafiran.
Sumber: اتعاظ الحنفا بأخبار الأئمة الفاطميين الخلفا
Portalislam







