Hubungan Kyai & Habaib

Hubungan Kyai dan Habaib: Sarang – Lirboyo – Malang – Tarim, Ikatan Abadi yang Tak Terputus

Bacaan Lainnya

Muhammad Novel Bsa

Hubungan Kyai dan Habaib: Sarang – Lirboyo – Malang – Tarim, Ikatan Abadi yang Tak Terputus

Ada satu fakta sejarah yang sangat indah, sangat berharga, dan menjadi kekayaan terbesar umat Islam di Nusantara: Ikatan persaudaraan, rasa hormat, dan kerja sama yang sangat erat antara para ulama besar Jawa dengan para ulama keturunan Rasulullah ﷺ dari Yaman, khususnya dari kota suci Tarim.

Hubungan ini bukan baru kemarin ada, bukan dibuat-buat, dan bukan sekadar pertemuan biasa. Ikatan ini sudah terjalin kokoh, indah, dan saling menguatkan SEJAK DULU SAMPAI SEKARANG.

Memang, belakangan ini ada saja riak-riak kecil, ada saja kegaduhan buatan, ada saja pihak yang berusaha mengadu domba dan membuat keruh air. Tapi percayalah, riak-riak kecil itu TIDAK MENGUBAH APA PUN, tidak mengurangi sedikit pun, dan tidak memutuskan tali kedekatan yang sudah terjalin ratusan tahun itu.

Bukti nyata, sejarah nyata, dan kisah-kisah indah hubungan mulia ini sangat banyak. Mari kita telusuri kisah emas hubungan antara pesantren besar Sarang, Lirboyo, Malang, hingga ke pusat ilmu di Tarim Yaman, yang membuktikan betapa indahnya persatuan Ahlussunnah Wal Jamaah sesungguhnya.



1. Hubungan Sarang – Lirboyo: Saudara Dekat yang Dipererat Ikatan Darah

Hubungan antara Pondok Pesantren Sarang (Rembang) dan Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri) itu ibarat dua mata pisau yang sama tajamnya, dua sumber ilmu yang sama jernihnya, dan dua benteng agama yang sama kokohnya. Kedua ulama besar pendirinya, Mbah Manab (KH. Abdul Manab) dan Mbah Zubair (KH. Zubair Umar), memiliki kedekatan yang luar biasa, jauh sebelum nama mereka tersohor seperti sekarang.

Bahkan, jauh sebelum Al-Maghfurlah KH. Maimoen Zubair menimba ilmu di Lirboyo, hubungan akrab dan saling menghormati antara kedua tokoh besar ini sudah terjalin erat.

Puncak penghormatan Mbah Manab kepada Mbah Zubair:
Perlu diketahui, usia Mbah Zubair sebenarnya LEBIH MUDA dibandingkan Mbah Manab. Namun, rasa hormat Mbah Manab kepada Mbah Zubair sangat tinggi, sangat dalam, dan sangat istimewa. Kenapa? KARENA KEALIMAN, KEBENINGAN ILMU, DAN KETEGASAN Mbah Zubair SUDAH MASYHUR DAN DIKENAL LUAS SEJAK BELIAU MASIH MUDA.

Mbah Zubair adalah santri kinasih, murid kesayangan, dan penerus ilmu dari Mbah Faqih Maskumambang (Gresik), seorang ulama besar yang ilmunya diakui seantero Jawa. Kehebatan ilmunya, kedalaman pemahamannya, dan ketajaman analisisnya membuat Mbah Manab sangat mengagumi dan menaruh hormat tinggi kepadanya, melebihi perbedaan usia mereka.

Bukti kedekatan dan kepercayaan itu tercatat dalam sebuah kisah sejarah yang sangat menyentuh:

Mbah Manab pernah meminta tolong kepada Mbah Zubair untuk “nembung” atau menyampaikan permohonan kepada KH. Mahrus Aly, agar berkenan menjadi besan dan menjodohkan anak beliau.

Ini bukti nyata! Mbah Manab menaruh kepercayaan penuh, menaruh harga diri tinggi, dan menganggap Mbah Zubair sebagai saudara dekat yang paling pantas dan paling berhak mewakili urusan keluarga. Hubungan ini kemudian dipererat dan disempurnakan dengan ikatan PERBESANAN atau persaudaraan keluarga, sehingga kedua pesantren besar ini tidak hanya bersaudara dalam ilmu, tapi juga bersaudara dalam darah dan keturunan.

Hubungan Sarang dan Lirboyo itu: ERAT, HORMAT, DAN SATU SUARA. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perselisihan, apalagi rasa benci.



2. Hubungan Sarang – Lirboyo dengan Habib Abdul Qodir Bilfaqih (Malang)

Dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kita bergerak ke kota Malang, tempat berdiri kokoh Pondok Pesantren Darul Hadits yang didirikan oleh ulama besar, waliyullah, dan ulama keturunan Rasulullah ﷺ: Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih.

Beliau lahir di kota ilmu, Tarim Yaman, dan sengaja hijrah ke Indonesia semata-mata untuk berdakwah, menebarkan ilmu agama, dan mengajarkan akhlak mulia. Dalam waktu yang sangat singkat, nama beliau tersohor ke seantero Nusantara. Bukan karena harta, bukan karena kekuasaan, tapi semata-mata karena KEALIMAN BELIAU YANG LUAR BIASA dan karena beliau adalah murid utama, murid kinasih, dan penerus ilmu dari Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, sosok raksasa ilmu di Tarim yang bergelar Syeikhul Masyayikh (Gurunya Para Guru).

Hubungan Habib Abdul Qodir Bilfaqih dengan para Kyai besar Sarang dan Lirboyo sangatlah indah, sangat akrab, dan penuh rasa saling membutuhkan ilmu.

✅ KH. Mahrus Aly & KH. Kafabih Mahrus:
KH. Kafabih Mahrus pernah bercerita tentang ayah beliau, KH. Mahrus Aly, dengan sangat kagum. Beliau berkata: “Apabila Ayahanda (KH. Mahrus Aly) memiliki kemusykilan, masalah pelik, atau persoalan ilmu yang sulit dijawab… maka beliau pasti akan menanyakannya kepada Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih. Dan setiap kali ditanya, beliau selalu langsung mendapatkan jawaban yang jelas, tuntas, dan memuaskan hati.”

Ini bukti nyata! Ulama besar pesantren pun mengakui kehebatan ilmu para Habaib, saling bertukar pikiran, dan saling melengkapi. Tidak ada rasa sombong, tidak ada rasa “aku lebih hebat”, yang ada hanyalah rasa saling menghormati kelebihan masing-masing demi kemaslahatan umat.

✅ Mbah Zubair (KH. Zubair Umar) & KH. Maimoen Zubair:
Hubungan keluarga besar Lirboyo dengan Habib Abdul Qodir Bilfaqih dan para Sadah Ba’Alawi secara umum, sangatlah istimewa.

Mbah Zubair dikenal sangat menghormati, sangat mencintai, dan sangat membela kehormatan para Habaib. Bahkan, ada seorang Habib yang begitu mengagumi kealiman, ketegasan, dan kebijaksanaan Mbah Zubair, sampai-sampai membuatkan GUBAHAN SYAIR SEBANYAK LEBIH DARI 20 BAIT yang isinya memuji-muji kemuliaan, kebesaran, dan kealiman Mbah Zubair. Bukti nyata bahwa rasa hormat itu timbal balik dan saling mengalir indah.

Kedekatan ini tercatat jelas saat acara Haul Habib Abdul Qodir Bilfaqih di Malang:

– Saat Haul pertama, Mbah Zubair hadir memenuhi undangan, duduk bersanding, dan mempererat persaudaraan.
– Saat Haul kedua, Mbah Zubair berhalangan atau ma’dzur tidak bisa hadir. Namun, bukti kedekatan tetap ada: Ada SURAT KHAS DARI AL-HABIB ABDULLAH BIN UMAR BILFAQIH (anak Habib Abdul Qodir) yang ditujukan khusus kepada Mbah Zubair, yang dibawa langsung oleh Mbah Moen (KH. Maimoen Zubair) mewakili ayahanda beliau.

Surat-surat itu, kunjungan itu, dan pertemuan itu adalah dokumen sejarah hidup yang membuktikan: KYAI DAN HABAIB ITU SATU, ITU BERSATU, DAN ITU SAMA-SAMA BERJUANG DI JALAN YANG SAMA.

Cerita indah seperti ini masih sangat banyak, berjilid-jilid, dan kalau diuraikan semuanya… memang bisa menjadi satu buku tebal yang luar biasa isinya 😁.



3. Tarim: Pusat Ilmu yang Menghubungkan Semua

Semua benang merah hubungan indah ini bermuara dan bersambung ke satu tempat suci: TARIM, HADRAMAUT, YAMAN.

Tarim adalah kota ilmu, kota para ulama, dan pusat penyebaran dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Di sanalah berdiri para guru besar yang menjadi akar ilmu kita semua.

Kita kenang kembali silsilah ilmu mulia yang mengalir sampai ke Nusantara:

Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri (Syeikhul Masyayikh Tarim)
➡️ Murid-murid beliau yang membawa ilmu ke Indonesia dan menjadi rujukan umat:

1. Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih (Pendiri Darul Hadits Malang)
2. Al-Habib Muhammad bin Salim Asy-Syathiri (Ayahanda Al-Habib Umar BSA, Dai Paling Berpengaruh Masa Kini & Penulis Biografi Gurunya)
3. Al-Habib Ahmad Asy-Syathiri (Pengarang Kitab Yaqutun Nafis, kitab akhlak masyhur yang ditulis berdasarkan petunjuk langsung gurunya)
4. Dan masih banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.

Inilah alasan kenapa para Kyai besar kita seperti Mbah Manab, Mbah Zubair, Mbah Mahrus Aly, dan Mbah Maimoen Zubair begitu menghormati para Habaib.

Karena mereka sadar, mereka paham, dan mereka tahu persis: Para Habaib ini adalah penerus ilmu dari guru-guru besar Tarim. Ilmu yang sama, pemahaman yang sama, akidah yang sama, dan tujuan yang sama.

Bagi mereka, menghormati Habaib sama artinya dengan menjaga kesinambungan ilmu yang lurus. Mencintai Habaib sama artinya dengan mencintai Rasulullah ﷺ yang darah dan ajarannya mengalir di dalam dada mereka.



KESIMPULAN: Riak Kecil Tidak Akan Memutus Ikatan Abadi

Kini kita paham betul sejarah aslinya.

Hubungan Sarang – Lirboyo – Malang – Tarim itu adalah sejarah kebersamaan, sejarah saling menguatkan, sejarah persaudaraan yang murni karena Allah.

Ada kelompok seperti Mukimad, Imaduddin, Sugeng Sugiarto, dan kawan-kawan pembenci yang berusaha mati-matian memutarbalikkan fakta, bilang ada permusuhan, bilang Kyai tidak suka Habaib, bilang ada perpecahan…

ITU SEMUA KEBOHONGAN! ITU SEMUA FITNAH!

Mereka cuma melihat riak-riak kecil di permukaan air buatan mereka sendiri, tapi mereka tidak pernah melihat ke dalam, ke dasar laut yang dalam, tenang, dan kokoh.

Fakta sejarah berbicara keras dan jelas:
✅ Mbah Manab hormat Mbah Zubair.
✅ Mbah Zubair dan Mbah Manab percaya dan hormat Habib Abdul Qodir Bilfaqih.
✅ KH. Mahrus Aly bertanya ilmu ke Habib Abdul Qodir.
✅ Semuanya bersambung ke Tarim, ke guru yang sama, ke ajaran yang sama.

Ikatan ini sudah terjalin ratusan tahun, jauh sebelum mereka lahir, jauh sebelum mereka ada. Dan ikatan ini TIDAK AKAN PERNAH PUTUS.

Biarkan mereka terus menggonggong, biarkan mereka terus mengarang cerita.
Sejarah tetaplah sejarah.
Hubungan Kyai dan Habaib tetaplah ERAT, INDAH, DAN ABADI.

Karena kita sadar: Kami bersaudara, kami sejalan, dan kami sama-sama menjaga warisan Rasulullah ﷺ sampai akhir zaman.KYAI MARZUKI: Dulu Mengajarkan Toleransi, Sekarang Mengingkari Sanad & Melanggar Adab Nusantara

Dulu, nama Kyai Marzuki dikenal sebagai sosok ulama yang tegas mengajarkan Islam yang toleran, lemah lembut, moderat, dan berpegang teguh pada manhaj Salafus Sholihin—jalan para pendahulu yang mulia, persis seperti yang diajarkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Mbah Hasyim Asy’ari. Ajaran beliau selaras dengan karakter Islam Nusantara: mengedepankan persatuan, adab, etika, dan kehalusan budaya yang menjadi ciri khas umat kita.

Namun belakangan ini, sikap dan ucapan beliau berubah drastis, bahkan berkontradiksi total dengan jejak keilmuan dan warisan Mbah Hasyim Asy’ari sendiri. Perubahan ini tidak hanya mengecewakan, tapi juga menimbulkan banyak pertanyaan besar: apakah beliau masih konsisten dengan ajaran gurunya? Atau justru sudah mengingkari akar sanad keilmuannya sendiri?

Berikut uraian lengkap, jelas, dan tegas tentang penyimpangan sikap beliau yang kini makin terang benderang:



1. Mengingkari Guru-Guru Mbah Hasyim Asy’ari = Memutus Sanad Keilmuan Sendiri

Ini adalah poin paling fatal dan tidak bisa dibantah.

Semua orang yang paham sejarah NU tahu benar: Mbah Hasyim Asy’ari—pendiri NU, panutan kita semua—beliau belajar, mengambil ilmu, dan bersanad langsung kepada banyak ulama besar keturunan Ba ‘Alawi / Habaib.

Di antara guru-guru utama beliau adalah:
✅ Sayyid Ahmad bin Hashim al-Atthas
✅ Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya
✅ Sayyid Utsman bin Yahya
✅ Dan banyak lagi ulama Hadramaut lainnya yang menjadi rujukan utama ulama Nusantara saat itu .

Mbah Hasyim Asy’ari mengakui, menghormati, dan menjadikan mereka sebagai guru tertinggi. Beliau tidak pernah meragukan nasab mereka, tidak pernah membatalkan keturunan mereka, dan tidak pernah menyebut mereka palsu atau penipu. Justru beliau sangat menghargai mereka sebagai pembawa ilmu, warisan, dan cahaya Ahlul Bait ke tanah air.

Lalu apa yang dilakukan Kyai Marzuki sekarang?
Beliau berani-beraninya membatalkan nasab Habaib, menuduh keturunan Ba ‘Alawi palsu, meragukan asal-usul mereka, dan menjelek-jelekkan mereka di mana-mana.

INI SAMA SAJA DENGAN:

🚨 Mengingkari guru-gurunya Mbah Hasyim Asy’ari!
🚨 Menyatakan gurunya pendiri NU itu orang yang salah, menipu, atau palsu!
🚨 Memutus rantai sanad keilmuan sendiri!

Kalau menurut Kyai Marzuki: “Nasab Ba ‘Alawi palsu, mereka bukan keturunan Nabi, mereka penipu…”
Maka otomatis beliau juga berkata: “Mbah Hasyim Asy’ari salah memilih guru, dia tertipu, dia belajar sama orang palsu!”

Itu namanya INGKAR! Itu namanya KONTRADIKSI PARAH!
Bagaimana mungkin seseorang mengaku murid, pengikut, dan pembela NU… tapi sekaligus menghina dan memvonis palsu para guru yang mengajari pendiri NU itu sendiri? Tidak masuk akal! Tidak benar! Dan melanggar aturan dasar keilmuan Islam!

Sejarah mencatat: Ulama besar NU seperti KH. Maimoen Zubair, KH. Sahal Mahfudz, sampai sekarang tetap mengakui, menghormati, dan bersanad ke Habaib Ba ‘Alawi. Hanya Kyai Marzuki dan kelompoknya saja yang berani menyimpang. Berarti beliau sendirilah yang keluar dari jalan Mbah Hasyim!



2. Hilangnya Adab, Etika, dan Kehalusan Budaya Nusantara

Salah satu keunggulan Islam yang dibawa Mbah Hasyim Asy’ari adalah Islam yang menyesuaikan kapasitas, kondisi, dan budaya Nusantara. Islam yang beradab, beretika, halus tutur katanya, tidak kasar, tidak memancing amarah, dan selalu menjaga persatuan.

Dulu, Kyai Marzuki pun dikenal dengan ciri ini: bicara santun, mengajarkan kasih sayang, menjaga perasaan orang lain.

TAPI SEKARANG? SANGAT BERBEDA!

Lihat dan dengarkan sendiri pidato, ceramah, dan tulisan beliau akhir-akhir ini:
❌ Meledak-ledak, keras, kasar, dan berapi-api.
❌ Bahasa yang dipakai tajam, menyakitkan, dan penuh tuduhan.
❌ Sering mengeluarkan kata-kata yang langsung memancing emosi, kebencian, dan permusuhan.
❌ Tidak lagi ada kelembutan, tidak ada nasihat yang menyejukkan, tapi hanya serangan demi serangan.

Beliau lupa satu prinsip emas yang selalu diajarkan ulama kita:

“Lebih baik menenangkan hati, daripada membakar amarah. Lebih baik merukunkan, daripada mengadu domba.”

Islam Nusantara itu TIDAK PERNAH mengajarkan memecah belah atas nama urusan nasab atau sejarah. Islam kita mengajarkan: kalau ada hal yang berbeda atau belum jelas, diam saja, jangan menghakimi, apalagi menjelekkan.

Tapi Kyai Marzuki justru sebaliknya: menjadikan perbedaan itu senjata, menjadikannya bahan kemarahan, dan menyebarkannya luas ke masyarakat.

Ini bukan lagi Islam yang diajarkan Mbah Hasyim! Ini sudah berubah menjadi ajaran yang panas, kasar, dan merusak persatuan umat.

Kalau dulu beliau mengajarkan “Islam Lemah Lembut”, sekarang beliau sendiri yang menjadi contoh “Islam yang Keras & Menyakitkan”. Sangat disayangkan, sangat menyedihkan.



3. Terjebak Logika Ganda & Kelompok Begal Nasab

Yang makin aneh dan memalukan: Sikap beliau sekarang persis sama persis dengan sikap kelompok Begal Nasab pimpinan KI Imaduddin, Sugeng Sugiarto, dan Mukimad.

Lihat persamaannya:
✅ Sama-sama menuduh kitab-kitab rujukan ulama dulu palsu.
✅ Sama-sama membatalkan nasab yang sudah diakui ratusan tahun.
✅ Sama-sama menghina Habaib dan Ahlul Bait.
✅ Sama-sama memakai ukuran ganda: yang cocok dia benar, yang beda dia salah/palsu.
✅ Sama-sama bicara meledak-ledak tanpa bukti kuat.

Padahal dulu beliau SANGAT TEGAS MENOLAK pemikiran sempit, ekstrem, dan pemecah belah macam ini. Dulu beliau musuh pemikiran seperti itu… sekarang malah satu nada, satu irama, dan satu barisan sama mereka.

PERTANYAAN BESARNYA:
Apakah Kyai Marzuki sudah lupa sejarah?
Apakah beliau sudah tidak punya rujukan ulama lagi selain buku karangan Imaduddin dan Sugeng?
Apakah beliau tidak sadar, bahwa dengan sikap ini, beliau sedang MENGGELINCIR DARI JALAN NU SENDIRI?



KESIMPULAN: Dulu Panutan, Sekarang Menjadi Contoh Penyimpangan

Perubahan Kyai Marzuki ini adalah bukti nyata: banyak orang yang dulu benar, lalu tergelincir karena ikut arus pemikiran sesat.

Dulu beliau mengajarkan:

✅ Islam Toleransi
✅ Islam Lemah Lembut
✅ Islam Moderat
✅ Berpegang pada Mbah Hasyim Asy’ari

Sekarang beliau lakukan kebalikannya:

❌ Menolak & Menghina Guru-gurunya Mbah Hasyim
❌ Mengingkari Sanad Keilmuan Sendiri
❌ Bicara Kasar, Memancing Amarah & Kebencian
❌ Berbaris sama Begal Nasab yang merusak persatuan

Pesan tegas untuk Kyai Marzuki:
Kembalilah ke jalan yang benar. Kembalilah ke ajaran Mbah Hasyim Asy’ari. Ingatlah siapa guru-guru beliau. Jangan sampai di akhirat nanti, kamu ditanya: “Wahai Marzuki, kenapa kamu menghina dan memvonis palsu orang-orang yang menjadi guru pendiri NU itu sendiri?”

Karena sekali kamu membatalkan nasab Ba ‘Alawi… otomatis kamu juga membatalkan keilmuan dan warisan Mbah Hasyim Asy’ari. Dan itu dosa besar, dosa mengingkari sanad, dosa merusak persatuan umat.

Kami tetap menghormati beliau sebagai ulama, tapi sikap dan pemikirannya yang salah ini harus diluruskan, dibantah, dan ditolak tegas. Karena kebenaran tidak bisa dikorbankan hanya karena nama besar.

JALAN MBAH HASYIM ADALAH MENGHORMATI AHLI BAIT, BUKAN MEMBENCI DAN MEMBATALKAN MEREKA! ✊🔥

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *