SANTET, MARSHEL APA NINGSIH ?

SANTET, MARSHEL APA NINGSIH ?

KH. Luthfi Bashori

https://www.facebook.com/share/v/1JDrYxVzUY/

Kalau menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sihir (termasuk juga yang sering disebut santet oleh masyarakat Indonesia) itu “ada dan hakikatnya nyata” bukan sekadar khayalan semata.

Dalilnya antara lain firman Allah:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir; mereka mengajarkan sihir kepada manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 102)

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
“Mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang dapat memisahkan antara seseorang dengan istrinya…” (QS. Al-Baqarah: 102)

Ayat ini menunjukkan bahwa sihir memiliki pengaruh yang nyata, meskipun semuanya terjadi dengan izin dan takdir Allah.

Apakah sihir bisa membahayakan nyawa?
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa sebagian jenis sihir dapat menyebabkan:

  • sakit
  • gangguan akal/gila
  • kerusakan hubungan suami-istri
  • kelemahan fisik
  • bahkan kematian

Semua itu jika Allah menghendakinya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam ayat yang sama:

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Mereka tidak dapat membahayakan seorang pun dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Sihir tidak bekerja secara mandiri, semua tetap berada di bawah kekuasaan Allah. Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap sihir ?

Seorang Muslim tidak seharusnya meremehkan sihir dengan segala variannya, karena telah disebutkan oleh Al-Quran & Hadist. Namun tetap bersikap:

  • Tidak berlebihan sehingga menganggap setiap penyakit atau musibah pasti akibat santet.
  • Memperbanyak dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an, terutama Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
  • Bertawakal kepada Allah.
  • Menghindari dukun dan tukang sihir.

Imam An-Nawawi dan para ulama Ahlus Sunnah menyatakan bahwa sihir adalah sesuatu yang nyata dan dapat menimbulkan dampak tertentu dengan kehendak Allah, bukan sekadar ilusi belaka.

Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:

والصحيح أن السحر له حقيقة، وبه قطع الجمهور، وعليه عامة العلماء.
“Pendapat yang sahih adalah bahwa sihir itu memiliki hakikat (nyata), dan inilah pendapat yang dipastikan oleh jumhur ulama, serta dianut oleh kebanyakan ulama.”

Beliau juga menegaskan dalam Syarh Shahih Muslim:

وفيه إثبات السحر، وأن له حقيقة، وهو مذهب أهل السنة.
“Dalam hadits ini terdapat penetapan adanya sihir, dan bahwa sihir memiliki hakikat (pengaruh yang nyata), dan itulah mazhab Ahlus Sunnah.

Jadi menurut Imam An-Nawawi dan jumhur Ahlus Sunnah: Sihir itu nyata (له حقيقة), dapat memberi pengaruh dengan izin Allah. Namun tidak dapat memberi mudarat kecuali dengan kehendak Allah sebagaimana firman-Nya:

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Mereka tidak dapat membahayakan seorang pun dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Salah satu hadits yang paling jelas tentang adanya sihir adalah hadits tentang Nabi ﷺ yang pernah terkena sihir:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سُحِرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ دَعَا…
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah ﷺ pernah disihir sehingga beliau SAW mengira telah melakukan sesuatu padahal beliau SAW tidak melakukannya. Kemudian pada suatu hari atau malam beliau SAW berdoa kepada Allah berulang-ulang…” (HR. Al-Bukhari no. 5765, Muslim no. 2189)
Artinya:

Dalam hadits tersebut kemudian Allah memberitahukan kepada Nabi ﷺ tentang pelaku sihir, tempat sihir itu disimpan, lalu Allah menyembuhkan beliau SAW.

Hadits lain yang masyhur terkait sihir:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ… (متفق عليه)
“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau SAW bersabda:
“Menyekutukan Allah dan sihir…” (HR. Al-Bukhari no. 2766, Muslim no. 89)

Hadits ini menunjukkan bahwa sihir termasuk dosa besar yang membinasakan, bahkan disebut setelah syirik kepada Allah. Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits-hadits ini sebagai dalil bahwa sihir itu nyata (له حقيقة) dan memiliki pengaruh dengan izin Allah.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *