Cium Tangan: Antara Adab yang Jelas dan Gaya yang Kebablasan

✍️ Mas Dwy Sadoellah

Bacaan Lainnya

Kadang yang sederhana justru paling sering dirombak.

Namanya cium tangan, ya tangannya yang dicium. Bukan disentuh, lalu dipindah ke jidat, pipi, dagu—seolah-olah sedang meracik ritual baru. Niatnya mungkin hormat, tapi caranya malah jadi… improvisasi yang tidak ada sanadnya.

Para ulama sudah lama menjelaskan soal ini.

Dalam tradisi islam mencium tangan orang tua, guru, atau orang shalih itu boleh, bahkan dianjurkan sebagai bentuk ta’dhim (penghormatan), selama tidak berlebihan dan tidak mengandung unsur pengkultusan. Ini disebutkan oleh ulama seperti Imam Nawawi dalam al-Adzkar, bahwa mencium tangan orang alim dan orang shalih adalah bentuk penghormatan yang dibolehkan, bahkan termasuk adab yang baik.

Begitu juga Imam Ghazali, yang menekankan pentingnya adab kepada guru sebagai jalan keberkahan ilmu. Menghormati bukan sekadar formalitas, tapi sikap batin yang tercermin dalam tindakan lahir—dan salah satunya adalah mencium tangan.

Bahkan dalam beberapa riwayat, para sahabat mencium tangan Nabi Muhammad sebagai bentuk penghormatan. Para ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hal itu dibolehkan selama tidak sampai pada sikap berlebihan atau menyerupai pengagungan yang melampaui batas.

Jadi jelas: cium tangan itu memang ada dasarnya. Bukan budaya kosong. Tapi justru karena ada dasarnya, jangan ditambahi yang tidak perlu.

Kalau tangan sudah dipegang, ya cium. Selesai. Tidak perlu “ditour” ke wajah. Itu bukan menambah hormat—itu menambah gaya.

Dan seringnya, gaya seperti ini lahir bukan dari pemahaman, tapi dari kebiasaan yang ditiru tanpa tahu asal-usulnya. Orang tua dulu melakukan A, anak melihat B, lalu cucu mempraktikkan C. Lama-lama, yang asli hilang, yang tersisa hanya bentuk yang makin aneh.

Lebih ironis lagi, yang dipertahankan justru “gerakannya”, bukan maknanya.
Padahal inti dari semua ini sederhana: menghormati dengan cara yang diajarkan, bukan dengan cara yang dikira-kira.

Karena dalam adab, yang penting bukan sekadar terlihat sopan—tapi memang benar caranya.

Kalau tidak, yang terjadi bukan penghormatan. Cuma kebiasaan yang kebetulan kelihatan sopan.

Pos terkait