Hasil Muktamar NU 2026 menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin sebagai Ketua PBNU 2026–2031 melalui musyawarah mufakat sembilan ulama sepuh AHWA.
Penetapan tersebut diumumkan langsung dalam sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi ini menandai babak baru kepemimpinan jamiyyah dengan mengembalikan supremasi penentuan nakhoda PBNU kepada kiai sepuh.
Dengan terpilihnya Gus Kikin, susunan kepemimpinan PBNU masa khidmat 2026-2031 kini terdiri atas KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU.
Terpilihnya Gus Kikin sebenarnya bukan sebuah kejutan. Sejak proses awal penjaringan calon Ketua Umum PBNU, nama pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut telah menjadi salah satu kandidat terkuat.
Dalam proses tabulasi penjaringan nama sebelum dibawa ke forum AHWA, Gus Kikin memperoleh dukungan mayoritas dari 552 pemilik suara.
Dalam mekanisme penjaringan tersebut, setiap pemilik suara dapat mengusulkan maksimal lima nama calon Ketua Umum PBNU. Dari proses itu, Gus Kikin memperoleh 472 suara.
P R O F I L
Dari PWNU Jawa Timur Naik ke PBNU
Sebelum terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Kikin memimpin PWNU Jawa Timur.
Ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWNU Jatim periode 2024–2029 pada Konferensi Wilayah NU Jawa Timur di Tebuireng pada Agustus 2024.
Sebelumnya ia juga mempunyai pengalaman panjang di struktur NU, termasuk pernah menduduki posisi di tingkat PBNU.
Dengan demikian, kepemimpinannya kali ini bukan dimulai dari nol.
Ia sudah mengenal struktur.
Mengerti dinamika organisasi.
Mempunyai pengalaman mengelola pesantren.
Dan pernah berada di dunia profesional serta usaha.
Kembali ke Qanun Asasi
Salah satu gagasan yang sejak sebelum Muktamar sering digaungkan Gus Kikin adalah membawa NU kembali kepada Qanun Asasi.
Menurut Gus Kikin, NU merupakan gerakan yang sejak awal dibangun dengan semangat ukhuwah, persatuan dan keteladanan para muassis.
Ia sebelumnya mengatakan NU perlu kembali mengikuti aturan dasar serta semangat yang diwariskan para pendiri.
Pengasuh Tebuireng Kedelapan
Gus Kikin saat ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8.
Ia sebelumnya mendampingi KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai wakil pengasuh.
Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, amanah kepengasuhan Tebuireng diteruskan kepada Gus Kikin.
Tebuireng bukan pesantren biasa.
Pesantren ini memiliki posisi historis sangat kuat dalam perjalanan NU dan Indonesia.
Dari lingkungan inilah KH Hasyim Asy’ari membangun basis keilmuan dan perjuangan yang kemudian melahirkan Nahdlatul Ulama.
Karena itu ketika Gus Kikin kini memimpin PBNU, sejarah seperti berputar kembali ke lingkungan keluarga dan pesantren pendiri NU.







