MELURUSKAN DUSTA SIWAHABI DALAM ARTIKEL โHARAMNYA NAGALAP BAROKAH YANG TIDAK SYAR’Iโ
Ustadz Salafi-Wahabi, menulis artikel di webnya berjudul โHaramnya Ngalap Barokah Yang Tidak Syarโiโ. Seperti kebiasaannya, siWahabi selalu menisbatkan amaliah umat Islam Ahlussunnah Wal-Jamaโah, yang berbeda dengan Wahabi, kepada ajaran Syiah Rofidhoh ala Khumaini. Padahal dalam masalah tersebut, kesesatan dan kesalahan terletak pada ajaran Wahabi sendiri, bukan pada aliran Syiah yang dihujatnya. Meskipun menurut kami, Syiah Rofidhoh lebih buruk dan lebih sesat dari pada Wahabi. Oleh karena itu, tulisan tersebut perlu diluruskan, agar tidak menyesatkan banyak orang. Berikut dialognya!
WAHABI: โFenomena yang sangat menyedihkan adanya sebagian orang yang mengaku bermadzhab Syafi’iyyah berbondong-bondong untuk mengambili pasir yang ada di kuburan seseorang yang mereka anggap wali !!, bahkan sampai-sampai kuburan tersebut dikhawatirkan ‘ambles’ karena kehabisan pasir !!โ
SUNNI: โMengapa Anda bersedih dengan hal itu? Apakah ulama Syafiโiyah menyatakan bahwa bertabaruk dengan tanah makam wali hukumnya haram dan syirik? Dan apakah umat Islam Syafiโiyah tidak boleh mengikuti madzhab lain sesama Ahlussunnah Wal-Jamaโah? Pertanyaan ini seharusnya Anda jawab dan Anda kemukakan dalam permulaan dan prolog artikel Anda, baru kemudian Anda sampaikan kesedihan dan keprihatinan Anda. Jangan-jangan kesedihan Anda, hanya karena Anda wahabi, laisa illa, dan Anda juga tidak tahu hukum tabaruk menurut umat Islam Ahlussunnah Wal-Jamaโah.โ
WAHABI: โfenomena ngalap barokah dengan mengambili pasir dari kuburan atau mengusap-nugsap benda-benda tertentu ternyata merupakan pola beragama kaum syi’ah rofidhoh, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al-Khumaini.โ
SUNNI: โPernyataan Anda berangkat dari ketidaktahuan Anda saja. Anda selalu menisbatkan amaliah umat Islam yang berlawanan dengan Wahabi, kepada ajaran Syiah Rofidhoh ala Khumaini. Pernyataan Anda pasti menyenangkan orang Syiah, karena Syiah akan merasa banyak umatnya. Umat Islam nahdhiyyin bukan murid Khumaini wahai Wahabi. Bertabaruk dengan tanah atau pasir makam seorang wali, dibolehkan dalam madzhab fiqih SUNNI. Al-Imam Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi al-Maliki (wafat tahun 914 H) berkata:
ุญู
ู ุชุฑุงุจ ุงูู
ูุงุจุฑ ููุชุจุฑู
ูุณุฆู ุฃุญู
ุฏ ุจู ุจููุช ุนู ุชุฑุงุจ ุงูู
ูุงุจุฑ ุงูุฐู ูุงู ุงููุงุณ ูุญู
ูููู ููุชุจุฑู ูู ูุฌูุฒ ุฃู ูู
ูุนุ ูุฃุฌุงุจ ูู ุฌุงุฆุฒ ู
ุง ุฒุงู ุงููุงุณ ูุชุจุฑููู ุจูุจูุฑ ุงูุนูู
ุงุก ูุงูุดูุฏุงุก ูุงูุตุงูุญูู ููุงู ุงููุงุณ ูุญู
ููู ุชุฑุงุจ ุณูุฏูุง ุญู
ุฒุฉ ุจู ุนุจุฏ ุงูู
ุทูุจ ูู ุงููุฏูู
ู
ู ุงูุฒู
ุงู ูุฅุฐุง ุซุจุช ุฃู ุชุฑุงุจ ุณูุฏูุง ุญู
ุฒุฉ ูุญู
ู ู
ู ูุฏูู
ุงูุฒู
ุงู ูููู ูุชู
ุงูุฃ ุฃูู ุงูุนูู
ุจุงุงูู
ุฏููุฉ ุนูู ุงูุณููุช ุนู ูุฐู ุงูุจุฏุนุฉ ุงูู
ุญุฑู
ุฉ ุ ูุฐุง ู
ู ุงูุฃู
ุฑ ุงูุจุนูุฏ. ููุช ู
ู ูุฐุง ุงููุจูู ู
ุง ุฌุฑู ุนููู ุนู
ู ุงูุนูุงู
ูู ููู ุชุฑุงุจ ุงูุดูุฎ ุฃุจู ูุนุฒู ูุชุฑุงุจ ุถุฑูุญ ุงูุดูุฎ ุฃุจู ุบุงูุจ ุงูููุณุงุจูุฑู ููุงุณุชุดูุงุก ู
ู ุงูุฃู
ุฑุงุถ ูุงููุฑูุญ ุงูู
ุนุถูุฉ. (ุงูุฅู
ุงู
ุฃุจู ุงูุนุจุงุณ ุฃุญู
ุฏ ุจู ูุญูู ุงูููุดุฑูุณูุ ุงูู
ุนูุงุฑ ุงูู
ุนุฑุจ ูุงูุฌุงู
ุน ุงูู
ุบุฑุจ ุนู ูุชุงูู ุฃูู ุฃูุฑูููุฉ ูุงูุฃูุฏูุณ ูุงูู
ุบุฑุจุ 1/330).
โHukum membawa tanah makam untuk tabaruk.
Ahmad bin Bakut ditanya tentang tanah makam yang dibawa oleh orang-orang karena tujuan tabaruk apakah boleh atau dilarang? Lalu beliau menjawab: โHal tersebut boleh. Orang-orang (umat Islam), selalu bertabaruk dengan makam para ulama, syuhada dan orang shaleh. Orang-orang selalu membawa tanah/debu makam Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutthalib sejak masa lampau. Apabila telah tetap bahwa tanah makam Sayyidina Hamzah selalu dibawa sejak masa silam, maka bagaimana mungkin para ulama Madinah akan bersepakat mendiamkan bidโah yang diharamkan ini? Ini jauh dari kemungkinan. Aku berkata: โTermasuk bagian hukum boleh ini, adalah pengamalan orang kebanyakan yang berlaku, berupa membawa tanah makam Syaikh Abu Yiโza dan tanah makam Syaikh Abu Ghalib an-Naisaburi untuk kesembuhan dari banyak penyakit dan bisul yang sulit disembuhkan.โ (Al-Imam Abul-โAbbas Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi, al-Miโyar al-Muโrib wa al-Jamiโ al-Mughrib โan Fatawa Ahli Afriqiyah wa al-Andalus wa al-Maghrib, juz 1 hal. 330).
WAHABI: โtidak ada seorangpun yang meragukan kekuasaan Allah. Jangankan pasirโฆbahkan jika Allah berkehendak tentunya Allah mampu menjadikan apapun sebagai obat โbahkan kotoran-!!. Akan tetapi mana dalilnyaโฆ?, mana ayatnyaโฆ?, mana haditsnyaโฆ?, mana amal perbuatan/perkataan sahabatโฆ?, mana perbuatan tabi’inโฆ?, mana perbuatan/perkataan 4 imam madzhabโฆ?, yang menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan pasir di kuburan orang sholeh sebagai obat??โ
SUNNI: โPertanyaan Anda sungguh keliru. Anda harusnya menyampaikan dalil al-Qurโan, hadits, atsar dan pernyataan para ulama yang melarang tabaruk dengan tanah kuburan wali. Ternyata Anda tidak melakukannya. Anda justru bertanya kepada lawan bicara Anda. Justru kalau kami bertanya balik, bisakah Anda menjawab wahai Wahabi? Mana dalil al-Qurโan, hadits, atsar shahabat dan salaf yang mengharamkan dan mensyirikkan tabaruk dengan tanam makam wali???? Jelas tidak ada. Anda pasti tidak bisa menjawab, kecuali dengan atsar dari Syaikh Ibnu Taimiyah al-Harrani, kalau ada. Adapun kami, pasti bisa menjawab pertanyaan Anda. Berikut dasar-dasar umat Islam bertabaruk dengan tanah kuburan para auliya dan orang shaleh:
1) Hadits Aisyah radhiyallahu โanha
ุนููู ุนูุงุฆูุดูุฉู ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููh -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ููุงูู ุฅูุฐูุง ุงุดูุชูููู ุงูุฅูููุณูุงูู ุงูุดููููุกู ู
ููููู ุฃููู ููุงููุชู ุจููู ููุฑูุญูุฉู ุฃููู ุฌูุฑูุญู ููุงูู ุงููููุจูููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ุจูุฅูุตูุจูุนููู ููููุฐูุง ููููุถูุนู ุณูุจููุงุจูุชููู ุจูุงูุฃูุฑูุถู ุซูู
ูู ุฑูููุนูููุง ยซ ุจูุงุณูู
ู ุงูููู ุชูุฑูุจูุฉู ุฃูุฑูุถูููุง ุจูุฑููููุฉู ุจูุนูุถูููุง ููููุดูููู ุจููู ุณููููู
ูููุง ุจูุฅูุฐููู ุฑูุจููููุง ยป. ู
ุชูู ุนููู.
โDari Aisyah radhiyallahu โanha, bahwa Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam, apabila seseorang mengeluhkan sakit kepada beliau, atau pada dirinya terdapat bisul dan luka, maka Nabi shallallahu โalaihi wasallam berkata, dengan jari-jarinya begini, dan meletakkan telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya: โDengan nama Allah, tanah bumi kita, dengan ludah sebagian kita, agar supaya orang kita yang sakit disembuhkan oleh sebabnya, dengan restu Tuhan kita.โ HR Bukhari dan Muslim.
Dalam mengoemntari hadits tersebut, Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata:
ููู
ูุนูููู ุงููุญูุฏููุซู: ุฃูููููู ููุฃูุฎูุฐู ู
ููู ุฑูููู ููููุณููู ุนูููู ุฃูุตูุจูุนููู ุงูุณููุจููุงุจูุฉูุ ุซูู
ูู ููุถูุนูููุง ุนูููู ุงูุชููุฑูุงุจู ููููุนููููู ุจูููุง ู
ููููู ุดูููุกูุ ููููู
ูุณูุญู ุจููู ุนูููู ุงููุฌูุฑูุญูุ ููููููููู ููุฐูุง ุงููููููุงู
ู ููู
ูุง ููููู ู
ููู ุจูุฑูููุฉู ุฐูููุฑู ุงุณูู
ู ุงููููุ ููุชููููููุถู ุงููุฃูู
ูุฑู ุฅูููููููุ ููุงูุชููููููููู ุนูููููููุ … ูููููู ุงููู
ูุฑูุงุฏู ุจููููููููู: ” ุชูุฑูุจูุฉู ุฃูุฑูุถูููุง ” ุฌูู
ููุนู ุงููุฃูุฑูุถู ุฃููู ุฃูุฑูุถู ุงููู
ูุฏููููุฉู ุฎูุงุตููุฉูุ ููููู ููููููุงููุ ููููุง ุฑูููุจู ุฃูููู ู
ููู ุงูุชููุฑูุจูุฉู ู
ูุง ุชูููููู ููููู ุฎูุงุตูููููุฉู ููููููุนู ุจูุฎูุงุตูููููุชููู ู
ููู ุฃูุฏูููุงุกู ููุซููุฑูุฉูุ … ููุฅูุฐูุง ููุงูู ููุฐูุง ููู ููุฐููู ุงูุชููุฑูุจูุงุชูุ ููู
ูุง ุงูุธููููู ุจูุฃูุทูููุจู ุชูุฑูุจูุฉู ุนูููู ููุฌููู ุงููุฃูุฑูุถู ููุฃูุจูุฑูููููุงุ ููููุฏู ุฎูุงููุทูุชู ุฑูููู ุฑูุณูููู ุงูููู – ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู -ุ ููููุงุฑูููุชู ุฑูููููุชููู ุจูุงุณูู
ู ุฑูุจููููุ ููุชููููููุถู ุงููุฃูู
ูุฑู ุฅูููููููุ (ุงุจู ููู
ุงูุฌูุฒูุฉุ ุฒุงุฏ ุงูู
ุนุงุฏุ 4/187).
โMakna hadits tersebut, Nabi shallallahu โalaihi wasallam mengambil ludah beliau pada jari telunjuknya, lalu meletakkannya ke tanah, sehingga ada tanah yang menempel, lalu beliau usapkan pada luka dan mengucapkan kalimat tadi, karena isinya terdapat berkah Nama Allah, menyerahkan urusan kepada-Nya… Apakah yang dimaksud dengan tanah bumi kam, berlaku bagi semua bumi atau khusus tanah Madinah? Dalam hal ini ada dua pendapat. Tidak diragukan lagi, bahwa sebagian tanah memiliki khasiat yang bermanfaat bagi banyak penyakit… apabila hal ini berlaku dalam semua tanah ini, lalu bagaimana dengan tanah yang paling suci di muka bumi dan tanah yang paling berkah, dan telah bercampur dengan ludah Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam, dan ruqyah beliau bersama Nama Tuhannya dan menyerahkan urusan kepada-Nya?โ (Ibnu Qayyimil Jauziyah, Zadul Maโad, juz 4 hal. 187).
Pernyataan di atas menyimpulkan, bahwa tanah itu ada barokahnya. Kalau memang ada barokahnya, berarti bertabaruk hukumnya tidak ada-apa dan syarโi. Bukankah begitu wahai kawan??
2) Hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu โanhu
ุนููู ุฏูุงููุฏู ุจููู ุฃูุจููู ุตูุงููุญู ููุงูู: ุฃูููุจููู ู
ูุฑูููุงูู ููููู
ูุง ููููุฌูุฏู ุฑูุฌููุงู ููุงุถูุนูุง ููุฌููููู ุนูููู ุงููููุจูุฑู ููููุงูู ุฃูุชูุฏูุฑููู ู
ูุง ุชูุตูููุนู ููุฃูููุจููู ุนููููููู ููุฅูุฐูุง ูููู ุฃูุจููู ุฃููููููุจูย ููููุงูู ููุนูู
ู ุฌูุฆูุชู ุฑูุณููููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููููู
ู ุขูุชู ุงููุญูุฌูุฑู ุณูู
ูุนูุชู ุฑูุณููููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูููููููู ูุงู ุชูุจูููููุง ุนูููู ุงูุฏูููููู ุฅูุฐูุง ูููููููู ุฃููููููู ูููููููู ุงูุจูููููุง ุนููููููู ุฅูุฐูุง ูููููููู ุบูููุฑู ุฃููููููู. (ูุฑููุงูู ุฃูุญูู
ูุฏู ููุงูุทููุจูุฑูุงููููู ููุงุจููู ุฃูุจููู ุฎูููุซูู
ูุฉู ููุตูุญููุญููู ุงููุญูุงููู
ู ููุงูุฐููููุจูููู ูุงูุณููููููุทูููู).
โDawud bin Abi Shalih berkata: โPada suatu hari Marwan datang, lalu menemukan seorang laki-laki menaruh wajahnya di atas makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam. Marwan berkata: โTahukan kamu, apa yang kamu perbuat?โ Lalu laki-laki tersebut menghadapnya, ternyata ia sahabat Abu Ayyub. Lalu ia menjawab: โYa, aku mendatangi Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam, bukan mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda: โJangan tangisi agama apabila diurus oleh ahlinya. Akan tetapi tangisilah agama apabila diurus oleh bukan ahlinya.โ
Dalam hadits di atas, sahabat Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu โanhu bertabaruk dengan mencium makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam.
3) Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu โanhuma meletakkan tangan kanannya ke makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam setiap datang dari perjalanan.
ุนููู ููุงููุนูุ ุฃูููู ุงุจููู ุนูู
ูุฑู ุ ููุงูู ุฅูุฐูุง ููุฏูู
ู ู
ููู ุณูููุฑู ุตููููู ุณูุฌูุฏูุชููููู ููู ุงููู
ูุณูุฌูุฏูุ ุซูู
ูู ููุฃูุชูู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููููุถูุนู ููุฏููู ุงููููู
ูููู ุนูููู ููุจูุฑู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููููุณูุชูุฏูุจูุฑู ุงููููุจูููุฉู ุซูู
ูู ููุณููููู
ู ุนูููู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุซูู
ูู ุนูููู ุฃูุจูู ุจูููุฑู ููุนูู
ูุฑู. (ุฑูููุงูู ุงููููุงุถููู ูููู ููุถููู ุงูุตูููุงูุฉู ุนูููู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุจูุฅูุณูููุงุฏู ุญูุณููู).
โDari Nafiโ, bahwa apabila Ibnu Umar datang dari suatu perjalanan, ia menunaikan shalat dua rakaโat di Masjid, lalu mendatangi Nabi shallallahu โalaihi wasallam, lalu meletakkan tangan kanannya ke makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam dan membelakangi kiblat, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu โalaihi wasallam, kemudian kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu โanhumaโ. (Al-Qadhi Ismail al-Baghdadi, Fadhl al-Shalat โala al-Nabi shallallahu โalaihi wasallam, hal. 84.)
4) Muhammad bin al-Munkadir, ulama terkemuka generasi tabiโin meletakkan pipinya ke makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam ketika tidak bisa berkata-kata. Al-Hafizh Ibnu Asakir dan al-Dzahabi meriwayatkan:
ุนููู ุฅูุณูู
ูุงุนููููู ุจููู ููุนูููููุจู ุงูุชููููู
ูููู ููุงูู ููุงูู ู
ูุญูู
ููุฏู ุจููู ุงููู
ูููููุฏูุฑู ููุฌูููุณู ู
ูุนู ุฃูุตูุญูุงุจููู ููุงูู ูููุงููู ููุตูููุจููู ุตูู
ูุงุชู ููููุงู ููููููู
ู ููู
ูุง ูููู ุญูุชููู ููุถูุนู ุฎูุฏูููู ุนูููู ููุจูุฑู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุซูู
ูู ููุฑูุฌูุนู ููุนูููุชูุจู ูููู ุฐููููู ููููุงูู ุฅูููููู ููุตูููุจููููู ุฎูุทูุฑูุฉู ููุฅูุฐูุง ููุฌูุฏูุชู ุฐููููู ุงูุณูุชูุบูุซูุชู ุจูููุจูุฑู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููููุงูู ููุฃูุชููู ู
ูููุถูุนูุง ู
ููู ุงููู
ูุณูุฌูุฏู ููู ุงูุณููุญูุฑู ููุชูู
ูุฑููุบู ูููููู ููููุถูุทูุฌูุนู ูููููููู ูููู ูููู ุฐููููู ููููุงูู ุฅูููููู ุฑูุฃูููุชู ุฑูุณููููู ุงูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูููู ููุฐูุง ุงููู
ูููุถูุนู ุฃูุฑูุงูู ููุงูู ููู ุงููููููู
ู.
โIsmail bin Yaโqub al-Taimi berkata: โMuhammad bin al-Munkadir duduk bersama murid-muridnya. Lalu ia tidak bisa berbicara. Lalu ia berdiri, sehingga menaruh pipinya ke makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam. Lalu ia kembali. Lalu ia ditegur karena perbuatannya itu. Ia berkata: โAku terkena penyakit yang berbahaya. Apabila aku rasakan hal itu, aku beristighatsah dengan makam Nabi shallallahu โalaihi wasallamโ. Ia sering mendatangi suatu tempat di Masjid Nabi shallallahu โalaihi wasallam pada waktu sahur, berguling-guling dan tidur miring di situ. Lalu ditanya tentang hal tersebut. Ia menjawab: โAku pernah melihat Rasulullah di tempat ini.โ Aku mengira, ia melihatnya dalam mimpiโ. (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq (56/50-51) dan al-Dzahabi, Siyar Aโlam al-Nubalaโ (5/358-359).
5) Al-Husain bin Abdullah bin Abdullah bin al-Husain, tokoh ahlul-bait dari generasi Salaf. Al-Hafizh al-Sakhawi al-Syafiโi meriwayatkan:
ููุงูู ููุญูููู ุจููู ุงููุญูุณููู ุจููู ุฌูุนูููุฑู ูููู ููุชูุงุจููู ุฃูุฎูุจูุงุฑู ุงููู
ูุฏูููููุฉู ููููู
ู ุฃูุฑู ููููููุง ุฑูุฌููุงู ุฃูููุถููู ู
ูููููุ ููุงูู ุฅูุฐูุง ุงุดูุชูููู ุดูููุฆุงู ู
ููู ุฌูุณูุฏููู: ููุดููู ุงููุญูุตูู ุนููู ุงููุญูุฌูุฑู ุงูููุฐููู ููุงูู ุจูุจูููุชู ููุงุทูู
ูุฉู ุงูุฒููููุฑูุงุกู ูููุงูุตููู ุฌูุฏูุงุฑู ุงููููุจูุฑู ุงูุดููุฑูููููุ ููููู
ูุณูุญู ุจููู.
โYahya bin al-Hasan bin Jaโfar berkata dalam kitabnya Akhbar al-Madinah: โAku belum pernah melihat orang yang lebih utama dari al-Husain bin Abdullah di antara kami ahlul-bait. Kebiasaannya, apabila ia merasakan sakit pada sebagian tubuhnya, ia membuka kerikil dari batu yang di rumah Fathimah al-Zahra yang menempel ke makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam yang mulia. Lalu ia mengusapkannya.โ (Al-Hafizh al-Sakhawi, al-Tuhfah al-Lathifah fi Tarikh al-Madinah al-Syarifah (1/292).
6) Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali yang diakui oleh Salafi-Wahabi sebagai madzhab mereka dan madzhab Ibnu Taimiyah, telah berfatwa bolehnya bertabaruk dengan cara menyentuh dan mencium mimbar atau makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam dengan tujuan taqarub kepada Allah. Abdullah, putra al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan:
ุณูุฃูููุชููู ุนููู ุงูุฑููุฌููู ููู
ูุณูู ู
ูููุจูุฑู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููููุชูุจูุฑูููู ุจูู
ูุณูููู ููููููุจูููููู ููููููุนููู ุจูุงููููุจูุฑู ู
ูุซููู ุฐููููู ุฃููู ููุญููู ููุฐูุง ููุฑูููุฏู ุจูุฐููููู ุงูุชููููุฑููุจู ุฅูููู ุงูููู ุฌูููู ููุนูุฒูู ููููุงูู ููุง ุจูุฃูุณู ุจูุฐููููู
โAku bertanya kepada ayahku tentang laki-laki yang menyentuh mimbar Nabi shallallahu โalaihi wasallam, ia bertabaruk dengan menyentuhnya dan menciumnya, dan ia melakukan hal yang sama ke makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam atau yang sesamanya, ia bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan hal tersebut. Beliau menjawab: โTidak apa-apaโ. (Abdullah bin al-Imam Ahmad, al-โIlal wa Maโrifah al-Rijal (2/492).
7) Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi al-Hanbali, bertabaruk dengan menyentuh makam al-Imam Ahmad bin Hanbal, ketika tangannya terkena penyakit bisul yang lama tidak dapat sembuh.
WAHABI: โFenomena ngalap berkah dengan cara yang salah dan tidak disyari’atkan telah diperingatkanย oleh para ulama madzhab syafi’iyah sejak zaman dahulu. (Silahkan tela’ah kitab ุฌูููููุฏู ุงูุดููุงููุนููููุฉู ููู ุชูููุฑูููุฑู ุชูููุญูููุฏู ุงููุนูุจูุงุฏูุฉู karya DR Abdullah bin Abdil ‘Aziz Al-‘Anqori, hal 581-595)โ
SUNNI: โSayang sekali, Anda wahai Wahabi tidak menyuruh pembaca merujuk kepada kitab-kitab Syafiโiyah. Tetapi Anda justru menyuruh kami merujuk kepada kitab Wahabi yang Anda sampaikan di atas. Kami tidak perlu merujuk kitab Wahabi tersebut. Cukuplah kitab-kitab ahli hadits dan ulama Ahlussunnah Wal-Jamaโah seperti di atas yang menjadi rujukan kami.โ
Setelah keterangan di atas, Wahabi mengutip pernyataan para ulama Syafiโiyah seperti al-Imam al-Baihaqi, al-Imam an-Nawawi, al-Imam Ibdu Daqiqil-โId dan al-Hafizh Ibnu Hajar, seakan-akan mereka anti tabaruk dengan makam Nabi shallallahu โalaihi wasallam dan para auliyaโ. SiWahabi sepertinya hanya copas dari kitab Wahabi yang ditunjukkannya di atas. Ia sepertinya tidak pernah membaca sampai tamat kitab-kitab Syafiโiyah yang dijadikannya rujukan dalam tulisan artikelnya. Seandainya SiWahabi membaca kitab-kitab Syafiโiyah yang ditunjukkannya sampai tamat, ia akan tahu, bahwa para ulama Syafiโiyah tersebut justru menganjurkan tabaruk dengan peninggalan orang shaleh dalam banyak tempat dalam kitab tersebut. Misalnya al-Imam al-Nawawi, dalam Syarh Shahih Muslim berkata:
ููู ุงูุชุจุฑู ุจุขุซุงุฑ ุงูุตุงูุญูู ูุงุณุชุนู
ุงู ูุถู ุทููุฑูู
ูุทุนุงู
ูู
ูุดุฑุงุจูู
ููุจุงุณูู
โHadits tersebut mengandung anjuran bertabaruk dengan peningggalan orang shaleh, memakai sisa air suci mereka, makanan, minuman dan pakaian mereka.โ (Al-Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz 4 hal. 219).
Pernyataan seperti di atas tidak pernah terbaca oleh SiWahabi. Padahal al-Imam al-Nawawi menganjurkan tabaruk, dalam kitab tersebut dalam 15 tempat lebih, berdasarkan hadits-hadits shahih. Demikian pula al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul-Bariy banyak menganjurkan tabaruk dengan atsar orang shaleh, tetapi Firanda tidak pernah membacanya. Wallahul-mustaโan.
WAHABI: โPengingkaran Al-Imam Asy-Syafi’i terhadap orang-orang yang bertabarruk dengan songkok Al-Imam Malik. … Akhirnya Imam al-Syafiโi menulis bantahan terhadap Imam Malik, gurunya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/508-509)โ.
SUNNI: โMenurut hemat kami, riwayat di atas tidak bisa dijadikan dasar bahwa al-Imam al-Syafiโi melarang bertabaruk dengan atsar orang shaleh seperti al-Imam Malik. Kalau SiWahabi mau jujur, al-Imam al-Syafiโi menulis bantahan terhadap Imam Malik, gurunya, karena dua hal. 1) penduduk Andalusia terlalu fanatik kepada Imam Malik sampai-sampai menjadikan songkok beliau sebagai sarana tabaruk. 2) karena fanatiknya mereka selalu menolak hadits-hadits shahih ketika berbeda dengan pendapat Imam Malik. Perlu dicamkan, sikap Imam al-Syafiโi tersebut karena dua hal, bukan murni karena tabaruk dengan songkok. Mengapa demikian? Riwayat yang Anda kutip jelas sekali. Disamping itu Imam al-Syafiโi sendiri ternyata bertabaruk dengan air rendaman baju muridnya, al-Imam Ahmad bin Hanbal. Al-Imam al-Syafiโi meminta muridnya, al-Rabiโ agar merendam baju tersebut, lalu airnya beliau usapkan ke wajahnya dengan tujuan tabaruk. Padahal sudah dimaklumi, al-Qurโan dan Hadits tidak pernah menegaskan keberkahan baju al-Imam Ahmad bin Hanbal. (Riwayat al-Hafizh Ibnu Asakir [Tarikh Madinah Dimasyq, V/311], al-Hafizh Ibnu al-Jauzi [Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal, 610], al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Mihnah al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Tajuddin al-Subki, [Thabaqat al-Syafiโiyyah al-Kubra, II/35]).
Kemudian Ustadz SiWahabi menulis judul โPengingkaran para ulama Syafi’iyah atas orang-orang yang mengusap Maqom Ibrahim karena ngalap berkahโ dan mengutip pernyataan banyak ulama Syafiโiyah yang melarang mengusap maqom Ibrahim. Semuanya tidak berkaitan dengan hukum tabaruk dengan tanah makam para wali yang diinginkan SiWahabi. Dan cukup bagi kami, bahwa banya para ulama Hanabilah sendiri, (madzhab Hanbali, adalah madzhab resmi Wahabi Saudi Arabia, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam banyak fatwanya), membolehkan bertabaruk dengan menyentuh dan mencium makam orang shaleh, seperti ditegaskan oleh al-Imam Ibrahim al-Harbi (murid Imam Ahmad bin Hanbal), Syaikh Marโiy bin Yusuf al-Karomi dalam Ghayatul Muntaha, al-Mirdawi dalam al-Inshaf, dan lain-lain. Sebelumnya telah kami kutip, Imam Ahmad membolehkan bertabaruk dengan mencium makam dan mimbar Nabi shallallahu โalaihi wasallam. Bukankah begitu wahai kawan??? Wallahu aโlam.
Wassalam
Muhammad Idrus Ramli







