✍️ Buya Karomy
Betapa luasnya hati seorang pemimpin. Saking luasnya, mungkin batas-batas geografis sudah tidak lagi terasa. Dalam negeri? Itu terlalu sempit untuk dipikirkan terus-menerus. Dunia lebih membutuhkan beliau. Perdamaian global menunggu sentuhan tangannya.
Soal program makan gratis yang masih menyisakan cerita keracunan, ya sudahlah. Namanya juga proses. Bukankah statistik selalu bisa menenangkan? “Masih di bawah sekian persen.” Seolah-olah angka mampu menghapus rasa mual anak-anak yang sempat pusing dan muntah. Persentase memang lebih elegan daripada kenyataan.
Lagipula sudah dilarang menyiarkan, bukan? Kalau tidak terdengar, berarti tidak terlalu penting. Bukankah dalam teori manajemen krisis, yang utama adalah mengendalikan narasi? Masalah boleh ada, asal tidak viral. Negara ini, tampaknya, sudah belajar bahwa reputasi kadang lebih penting dari realitas.
Koperasi desa yang sebagian tak bertahan lama? Itu cuma dinamika. Wirausaha memang penuh risiko. Jangan terlalu cepat menyalahkan konsepnya. Kalau ada yang tutup, mungkin belum siap mental. Atau kurang sabar menunggu arahan strategis berikutnya.
Sementara itu, pemimpin kita sibuk memikirkan perdamaian dunia. Gaza, Ukraina, kawasan-kawasan yang jauh di peta—semuanya disentuh dengan kepedulian universal. Luar biasa. Di saat rakyatnya sendiri masih berdebat tentang kualitas makanan dan efektivitas program, beliau sudah berbicara tentang harmoni global.
Ini memang level berbeda.
Ada yang bilang, “Kenapa urusan dalam negeri belum tuntas?” Ah, jangan egois. Seorang negarawan sejati tidak boleh terkungkung dapur sendiri. Urusan kompor berasap dan lauk basi itu teknis. Yang besar-besar dulu. Yang monumental. Yang bisa dicatat sejarah.
Kalau ada keluarga yang anaknya keracunan, ya mohon dipahami. Ini pengorbanan kecil demi visi besar. Tidak semua pahlawan lahir dari medan perang. Ada yang lahir dari dapur program sosial.
Dan soal pemimpin yang tampak lebih banyak memberi perhatian ke luar ketimbang ke dalam—itu justru bukti keluhuran hati. Ia rela dianggap belum tuntas di rumah sendiri, demi membantu tetangga. Sangat mulia. Sangat visioner.
Hanya saja, sejarah kadang kejam pada ironi.
Ia sering mencatat bahwa rumah yang tidak terurus pelan-pelan retak dari dalam. Dan dunia, yang hendak didamaikan itu, biasanya tetap berisik meski kita sudah sibuk menenangkan.
Tapi tidak apa-apa. Kita selalu punya angka untuk menjelaskan. Selalu punya larangan siaran untuk menenangkan. Selalu punya pidato untuk membesarkan.
Sementara rakyat belajar satu hal baru: “bahwa menjadi prioritas kadang bukan soal kedekatan, melainkan soal panggung”.
