persatuan NU dan Habaib, serta peringatan terhadap klaim palsu yang memecah belah

Muhammad Novel Bsa

Ada ironi besar yang sedang berlangsung di tengah masyarakat Aswaja dewasa ini: kelompok yang paling lantang berteriak mengaku sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, bahkan mengklaim diri sebagai “paling NU”, justru adalah pihak yang paling sibuk berusaha merusak, memisahkan, dan menebar kebencian. Mereka mengepung dari berbagai arah, menyusup, dan menggencarkan serangan—bukan kepada musuh bersama atau aliran sesat, melainkan kepada para Habaib, keturunan Rasulullah SAW yang sejak awal sejarah telah tumbuh dan berjuang berdampingan dengan NU.

Salah satu nama yang sangat menonjol dalam hal ini adalah Imaduddin. Ia dan pengikutnya sangat gencar menggembar-gemborkan ke-NU-an mereka di media sosial, seolah-olah merekalah penjaga kemurnian ajaran NU yang paling sah. Namun, jika kita telusuri jejak sejarah, sanad ilmu, serta khidmah atau pengabdian keluarga mereka kepada NU, tidak ada satu pun catatan yang mengakui keberadaan atau peran mereka dalam tradisi besar Nahdlatul Ulama. Mereka asing dalam catatan para kiai besar, asing dalam mata rantai sanad ilmu, dan asing dalam sejarah perjuangan organisasi.

Padahal, bagi warga NU yang paham ajaran induk organisasinya, ke-NU-an tidak lahir dari teriakan keras, klaim lantang, atau pengakuan sepihak. Ke-NU-an diukur dari bukti nyata: dari adab dan sopan santun kepada ulama dan sesama, dari kejelasan sanad ilmu yang bersambung ke para pendiri NU, dari amaliyah atau praktik ibadah yang sesuai tuntunan, dari pengabdian nyata kepada umat, serta yang paling penting: pengakuan dari kalangan ulama dan jamaah NU sendiri. Klaim kosong tanpa bukti sejarah hanyalah topeng belaka.

Yang lebih menyakitkan dan sangat bertentangan dengan jati diri NU adalah fakta bahwa pihak yang mengaku “paling NU” ini justru menjadi pemimpin utama dalam menyerang para Habaib. Mereka sibuk mencaci, memfitnah, memprovokasi warga Aswaja, dan menggiring opini kebencian yang masif di ruang maya. Mereka seolah-olah menjadikan Habaib sebagai musuh utama yang harus dilawan dan dijauhi.

Padahal, mari kita buka kembali lembaran sejarah yang sebenarnya: Sejak NU berdiri, NU dan Habaib tumbuh bersama, berjuang bersama, dan bersatu dalam satu barisan Aswaja.

Para pendiri NU, para kiai besar, dan ulama-ulama pesantren memiliki hubungan darah, hubungan sanad ilmu, serta ikatan mahabbah atau kasih sayang yang sangat erat dengan dzurriyah Rasulullah SAW. Tradisi yang kita lestarikan sampai hari ini—mulai dari pembacaan Ratib, Maulid, Barzanji, Simtudduror, hingga tata cara dakwah dan pola pendidikan di pesantren—banyak yang kita warisi dan kita kembangkan berkat peran besar para Habaib yang menetap dan berdakwah di Nusantara.

Bahkan, bisa dikatakan: Para Habaib ikut serta membesarkan Nahdlatul Ulama. Kehadiran mereka menjadi kekuatan yang mengokohkan ajaran Aswaja di bumi pertiwi. Sebaliknya, para kiai NU pun selalu menjunjung tinggi dan memuliakan keturunan Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari ajaran mencintai keluarga Rasulullah, yang merupakan tuntunan agama.

Lalu muncul pertanyaan besar yang sangat wajar ditanyakan oleh setiap warga NU yang kritis: Jika mereka benar-benar cinta NU, jika mereka benar-benar pembela Aswaja, kenapa mereka begitu ngotot dan berusaha mati-matian memisahkan ikatan persaudaraan antara NU dan Habaib?

Jawabannya sederhana dan sudah terlihat jelas dari kelakuan mereka: Mereka meniupkan narasi adu domba karena mereka sangat paham satu kebenaran besar: Persatuan antara NU dan Habaib adalah benteng pertahanan Aswaja yang paling kuat dan kokoh.

Selama NU dan Habaib bersatu, saling menguatkan, dan saling melengkapi, tidak ada kekuatan manapun yang bisa meruntuhkan atau menggeser ajaran Islam yang moderat, rahmatan lil ‘alamin ini. Karena itulah, pembenci ini berusaha menghancurkan benteng itu dari dalam. Mereka tahu, kalau bisa membuat NU memusuhi Habaib, dan membuat Habaib menjauh dari NU, maka kekuatan besar ini akan pecah, lemah, dan mudah diperalat kepentingan lain.

Namun, usaha kotor mereka itu tidak akan mudah berhasil. Warga NU bukanlah jamaah yang baru bangun tidur atau mudah diombang-ambingkan emosi. Warga NU adalah umat yang matang, yang memiliki sejarah panjang, dan pemahaman agama yang mendalam.

NU terlalu besar untuk bisa diperalat oleh narasi kebencian sempit.
NU terlalu dewasa untuk dibohongi oleh klaim-klaim kosong tanpa dasar sejarah.
NU terlalu kuat untuk dipecah belah dengan konflik murahan yang sengaja dibuat-buat.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas: Nahdlatul Ulama berdiri, tegak, dan jaya di atas pondasi ilmu yang luas, adab yang tinggi, serta semangat persatuan yang kokoh. Bukan berdiri di atas fitnah, bukan di atas rekayasa fakta atau framing berita bohong, dan pasti bukan di atas dasar kebencian kepada siapa pun, apalagi kepada keturunan kekasih Allah, Rasulullah SAW.

Kepada kelompok yang mengaku NU tapi kelakuannya merusak persaudaraan: Ingatlah, keanggotaan dan kecintaan pada NU tidak cukup hanya dengan kata-kata di media sosial. Ke-NU-an diuji saat kita menjaga persatuan, bukan saat kita sedang sibuk mengadu domba.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *