Setahun lalu, persis di hari ini (sudah saya cek di catatan jurnal saya, termasuk diari), saya mulai serius ‘membaca’ kabilah-kabilah Hadrami dan diaspora. Tentu, permasalahan yang saya kaji paling awal adalah cara mereka dikenal berdasarkan genealogi (nasab). Setelah itu, saya membaca banyak teori, argumen, data, dan asumsi kesarjanaan terkait identitas mereka dari masa ke masa (dan dinamika mereka terhadap catatan adminsitratif kolonial dan poskolonial, dari Al-Khairat, Al-Irsyad, hingga Rabithah Alawiyah).
Maka, maka Gurunda Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS) bukanlah nama asing, karena menghiasai indahnya sebaran ilmu Islam disebar di Nusantara di dalam catatan-catatan saya di diari. Kisahnya ke Jawa menemui Hadlratus Syaikh termasuk tali keindahan tersebut. Dan ini mempertegas tali yang dulu sudah ditakdirkan Allah untuk tersambung antara Al-Khairat dan Nahdlatul Ulama di Lauh Al-Mahfudz.
Dari sekian ‘telur-telur’ Al-Khairat yang menetas di Indonesia Timur, sudah ada puluhan ribu anak-anak (abna’) Al-Khairat yang mewarisi semangat itu, warisan perjuangan dan nasionalisme yang punya tarikan spiritual (lebih dari sekadar nasionalisme), Gurunda SIS masih sempat berkata di penghujung usia:
“Idrus kholi; Idrus masing belum punya apa-apa.”
Tak terasa, tepat setahun ini, saat saya menginjak usia 37 tahun, nama itu saya tuangkan kembali (setelah sebelumnya hanya di diari).
Silakan: https://www.facebook.com/share/v/1DdceSXDGp/
Rabbi fanfa’na bibarkatihim. Wahdina al-husna bihurmatihim. Saya rasa tidak perlu menjadi abna’ al-khairat untuk mengisahkan sedikit tarjim-nya (seperti sedikit yang saya dapatkan dari data identitas mendiang). Cukup menjadi manusia saja. Manusia yang punya nurani dan rasa terima kasih.
Salam,
Rumail Abbas
Gurunda SIS dengan nuansa Ghibli.
Rumail Abbas: Gurunda Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS)
