KH. Luthfi Bashori
Syaikh Abdurrahman Bajalhaban sangat terkenal di kalangan umat Islam sebagai teladan tentang bagaimana kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi ujian rumah tangga dapat mengangkat derajat seseorang menjadi kekasih Allah (waliyullah).
Berikut adalah rangkuman kisah perjalanan hidup dan kewalian beliau:
1. Ujian Rumah Tangga yang Berat
Syaikh Abdurrahman Bajalhaban dikenal masyarakat sebagai sosok suami yang memiliki tingkat kesabaran di atas rata-rata. Beliau dikaruniai seorang istri yang memiliki perangai kurang baik, sangat cerewet, keras kepala, suka marah-marah, dan sering menuntut.
Meski sering dimarahi, dicaci maki, atau diperlakukan dengan tidak menyenangkan, Syaikh Abdurrahman tidak pernah sekalipun membalas, membentak, atau melampiaskan emosinya kepada sang istri.
Beliau selalu meredam amarahnya dan memilih untuk bersabar, menganggap semua itu sebagai ujian dari Allah SWT.
2. Pergi ke Gua dan Bertemu Dua Wali
Karena rasa lelah yang terakumulasi setelah sekian lama menghadapi sikap istrinya, Syaikh Abdurrahman suatu hari merasa butuh ketenangan. Beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah sejenak menuju sebuah gua di daerah pegunungan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah (khalwat).
Di dalam gua tersebut, beliau bertemu dengan dua orang ahli ibadah (yang sebenarnya juga merupakan wali Allah). Mereka sepakat untuk tinggal bersama sementara waktu dengan sistem bergilir dalam menyiapkan makanan.
Ketika tiba giliran dua orang sahabat barunya itu, mereka berdoa kepada Allah, dan seketika turunlah makanan dari langit secara ajaib untuk mereka. Syaikh Abdurrahman terkejut melihat karamah tersebut, namun ia tetap bersikap tenang.
3. Doa yang Dikabulkan Berlipat Ganda
Ketika tiba giliran Syaikh Abdurrahman untuk menyediakan makanan, beliau pun berdoa kepada Allah dengan tulus dan penuh kerendahan hati.
Tak disangka, Allah SWT menurunkan makanan dan minuman dengan jumlah yang jauh lebih banyak—bahkan dua hingga tiga kali lipat—dibandingkan makanan yang didapat oleh dua orang sahabatnya tadi.
Dua orang sahabatnya itu terkejut sekaligus takjub. Mereka penasaran dan bertanya-tanya, doa apa yang dibaca oleh Syaikh Abdurrahman hingga ia mendapatkan karunia yang begitu besar dari Allah.
Mereka berkata, “Kami tidak akan menyentuh makanan ini sebelum engkau memberitahu kami siapa yang kamu tawasuli atau doa apa yang engkau baca.”
Syaikh Abdurrahman balik bertanya kepada mereka, “Aku tidak akan memberitahu kalian sebelum kalian memberi tahu siapa yang kalian jadikan sandaran dalam doa kalian.”
4. Terbukanya Tabir Kewalian
Kedua orang wali pengelana tersebut kemudian menjawab dengan jujur, “Selama ini, dalam setiap doa dan kesulitan kami, kami selalu bertawasul kepada seorang wali besar yang tinggi derajatnya di sisi Allah. Namanya adalah Syaikh Abdurrahman Bajalhaban.”
Mendengar jawaban itu, Syaikh Abdurrahman terdiam dan sangat terkejut. Sosok yang mereka sebut-sebut itu ternyata adalah dirinya sendiri. Beliau selama ini tidak pernah merasa menjadi seorang wali, karena di matanya ia hanyalah manusia biasa yang sedang bersabar menghadapi ujian hidup.
Syaikh Abdurrahman akhirnya menyadari bahwa kedudukan mulia dan kewalian yang diberikan oleh Allah tersebut bukan diraih melalui amalan sunnah yang banyak atau puasa panjang, melainkan murni buah dari kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi keburukan akhlak istrinya.
5. Kembali Pulang dan Perubahan Sang Istri
Setelah mengetahui hakikat tersebut, Syaikh Abdurrahman memutuskan untuk pamit dan pulang kembali ke rumahnya.
Setibanya di rumah, beliau menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya kepada sang istri dengan penuh kasih sayang.
Mendengar cerita suaminya bahwa kesabaran selama inilah yang mengantarkannya menjadi seorang wali Allah, sang istri seketika luluh dan merasa amat menyesal. Sejak hari itu, perangai buruk sang istri berubah total; ia bertaubat, menjadi istri yang shalihah, lemah lembut, dan sangat berbakti kepada suaminya.
