JEMBER — Sejumlah tokoh ulama di Kabupaten Jember menyampaikan pesan khusus kepada Bupati Jember, Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait. Pesan tersebut diberi nama “Surat Cinta kepada Bupati Jember”, yang berisi desakan agar pemerintah daerah bersikap tegas dalam menghentikan aktivitas sound horeg yang dinilai telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Surat tersebut menjadi bentuk kepedulian para ulama terhadap dampak penggunaan sound system berdaya suara tinggi, terutama ketika aktivitasnya berlangsung di kawasan permukiman dan mengganggu ketenangan warga.
Persoalan ini dinilai bukan sekadar perbedaan selera hiburan atau pro dan kontra di tengah masyarakat. Lebih dari itu, penggunaan sound horeg dengan volume berlebihan berpotensi mengganggu kenyamanan, kesehatan, serta hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang aman dan tenang.
Kelompok rentan menjadi salah satu pihak yang paling dikhawatirkan terdampak.
Mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, lanjut usia, hingga orang yang sedang sakit dan membutuhkan suasana tenang untuk beristirahat.
Bagi sebagian masyarakat, sound horeg mungkin menjadi hiburan yang dinantikan. Namun, bagi warga lain, suara keras yang berlangsung berjam-jam justru dapat menjadi sumber keresahan, terlebih ketika kegiatan tersebut berada dekat dengan rumah mereka.
Melalui surat tersebut, para tokoh ulama berharap Gus Fawait tidak hanya memberikan imbauan, tetapi juga mengambil langkah konkret dan tegas untuk menghentikan aktivitas sound horeg yang menimbulkan gangguan bagi masyarakat.
Kini, perhatian tertuju pada sikap Pemerintah Kabupaten Jember dalam merespons aspirasi tersebut. Mampukah pemerintah menemukan solusi yang benar-benar melindungi ketenangan warga, khususnya kelompok rentan, tanpa mengabaikan dinamika sosial di tengah masyarakat?
#SoundHoreg #Jember #GusFawait #UlamaJember #BeritaJember




