Nyinyiran Kyai Syarif Terhadap Timnas Sangat Menyesatkan & Xenofobia

Gue baru aja melototin unggahan narasi dari Kyai Syarif yang menuding kalau Tim Nasional Indonesia lagi “menyewa pemain asing” dan “merendahkan martabat pribumi Indonesia.” Sumpah, kalau lo bedah satu per satu klaim di postingan itu pakai logika hukum, fakta sejarah, dan prinsip olahraga modern, narasi tersebut bukan cuma keliru parah, tapi juga sangat menyesatkan dan beraroma xenofobia yang kampungan. Kita lagi ada di era di mana sepak bola nasional akhirnya bisa berdiri tegak menantang raksasa Asia, tapi mirisnya masih ada elite publik yang jualan narasi perpecahan pakai kacamata sempit yang miskin data.

Kekeliruan paling mendasar dan fatal dari narasi tersebut ada pada klaim bahwa PSSI “menyewa pemain asing.” Ini adalah kebohongan publik yang sangat tidak berdasar. Pemain-pemain yang membela Timnas saat ini—seperti Jay Idzes, Maarten Paes, Sandy Walsh, Justin Hubner, hingga Calvin Verdonk—BUKAN pemain asing yang disewa. Dalam hukum olahraga internasional maupun Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia (UU No. 12 Tahun 2006), mereka adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang sah secara hukum dan mengantongi paspor Garuda yang sama persis dengan paspor yang lo dan gue pegang.

Mereka memiliki hubungan darah (jus sanguinis) yang murni dan valid dengan Indonesia. Kakek, nenek, atau orang tua mereka lahir dan dibesarkan di tanah Nusantara—entah itu di Surabaya, Semarang, Bandung, Maluku, atau Jakarta—sebelum situasi sejarah era perang atau migrasi membawa keluarga mereka melangkah ke Eropa. Menuduh anak-cucu dari diaspora Indonesia yang kembali untuk membela tanah air nenek moyangnya sebagai “pemain asing yang disewa” adalah bentuk penghinaan terhadap jutaan darah keturunan Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Apakah kalau ada anak keturunan Indonesia yang jadi ilmuwan di luar negeri terus mau pulang mengabdi ke tanah air, bakal kita sebut “orang asing yang disewa”? Logika berpikir model apa ini?

Lagipula, kata “menyewa” itu menunjukkan ketidakpahaman total terhadap regulasi FIFA dan sistem sepak bola. Di tim nasional mana pun di dunia ini, federasi TIDAK BISA menyewa pemain asing kayak klub sepak bola membeli pemain di bursa transfer.

Pemain tidak digaji miliaran rupiah per jam oleh PSSI untuk main di Timnas. Mereka datang mengorbankan waktu, mengambil risiko cedera yang bisa mematikan karier profesional mereka di klub-klub top Eropa, murni karena panggilan darah dan pilihan hati untuk memakai lambang Garuda di dada.
Lalu coba perhatikan klaim klasik yang selalu digoreng: “Mencari 11 pemain dari hampir 300 juta penduduk Indonesia masa tidak bisa?” Ini adalah jenis pembodohan publik yang menggunakan manipulasi angka populasi. Dalam industri olahraga modern, prestasi sepak bola sebuah negara tidak pernah berbanding lurus dengan jumlah total populasi penduduknya. Kalau jumlah penduduk jadi jaminan kesuksesan sepak bola, harusnya Tiongkok dengan 1,4 miliar jiwa dan India dengan 1,4 miliar jiwa sudah menguasai Piala Dunia tiap empat tahun sekali. Tapi faktanya mana?

Sebaliknya, coba tengok Kroasia. Negara kecil di Eropa yang jumlah penduduknya cuma 3,8 juta jiwa—bahkan lebih sedikit dari populasi Jakarta Selatan—bisa jadi runner-up dan juara tiga Piala Dunia berturut-turut. Atau Uruguay yang populasinya cuma 3,4 juta jiwa tapi punya dua trofi Piala Dunia. Kenapa bisa? Karena sepak bola modern itu soal pembinaan usia dini, infrastruktur akademi, kompetisi liga yang bersih, dan ilmu sains olahraga (sports science), bukan sekadar mengumpulkan orang dari pasar atau lapangan kampung lalu disuruh main bola. PSSI selama puluhan tahun hancur-hancuran karena digrogoti korupsi, politisasi, dan kompetisi lokal yang bobrok. Mengintegrasikan pemain diaspora berkelas dunia adalah langkah pintas yang sangat strategis buat mendongkrak standar Timnas kita secara instan, sambil PSSI membenahi fondasi pembinaan dalam negeri yang selama ini rusak parah.

Hal yang makin membuat miris adalah sikap nyinyir terhadap pahlawan olahraga yang sedang berjuang. Di postingan tersebut, ada ejekan soal lafal ucapan “SAMUANYA” saat pemain menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini betul-betul kritik yang sangat dangkal, picik, dan tidak beradab. Mereka adalah anak-anak muda yang tumbuh besar di Belanda atau Amerika, tapi mereka secara sadar memilih menanggalkan kesempatan membela Timnas Belanda atau negara lain, belajar bahasa Indonesia dengan tekun, meletakkan tangan kanan di dada kiri, dan menyanyikan lagu nasional kita dengan mata berkaca-kaca di hadapan 80 ribu penonton Gelora Bung Karno. Menyasar kekurangsempurnaan logat bahasa seseorang yang sedang menunjukkan rasa hormat tertinggi pada lagu kebangsaan kita adalah bentuk kesombongan yang menjijikkan.
Sejak kapan nasionalisme itu cuma diukur dari seberapa fasih lidah seseorang mengucapkan bahasa Indonesia, atau di mana placenta dia ditanam saat lahir? Nasionalisme itu diukur dari kontribusi nyata, keringat yang menetes, dan kehormatan yang diberikan untuk nama Indonesia di panggung dunia. Pemain-pemain diaspora ini membawa bendera Indonesia berkibar di kompetisi kasta tertinggi dunia, mengalahkan negara-negara raksasa Asia, dan membuat jutaan rakyat Indonesia menangis haru karena bangga. Apa yang merendahkan martabat bangsa dari hal itu? Yang merendahkan martabat bangsa itu justru para koruptor, pejabat nakal, dan para pengkritik nyinyir yang tidak pernah menyumbang satu piala pun untuk negara tapi hobi jualan narasi rasisme dan perpecahan.

Kalau kita mau membuka mata sedikit saja ke panggung dunia, pemanfaatan diaspora adalah standar emas global dalam olahraga modern. Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 dengan deretan pemain keturunan imigran dari benua Afrika. Maroko menembus babak semifinal Piala Dunia 2022 dengan mengandalkan lebih dari 60 persen pemain diaspora kelahiran Spanyol, Belanda, Prancis, dan Belgia. Apakah rakyat Maroko merasa martabat pribumi mereka direndahkan? Tidak sama sekali! Mereka justru merayakan keberhasilan diaspora mereka yang pulang untuk mengibarkan bendera negara leluhurnya. Bahkan tim nasional Belanda yang dulu menjajah kita, hari ini diisi oleh pemain-pemain keturunan Suriname dan Indonesia.

Narasi bahwa hadirnya pemain diaspora bakal “membunuh” karier pemain lokal juga adalah narasi bohong yang kekanak-kanakan. Dalam dunia olahraga profesional, standar tinggi yang dibawa oleh pemain-pemain berkelas dunia dari liga Eropa justru memaksa pemain-pemain lokal kita—seperti Marselino Ferdinan, Rizky Ridho, dan Ernando Ari—untuk menaikkan level permainan mereka. Mereka belajar cara latihan yang benar, kedisiplinan nutrisi, dan mentalitas juara langsung dari kawan satu timnya. Terbukti, performa pemain-pemain lokal kita di Timnas saat ini jauh lebih matang dan tangguh karena mereka dikelilingi oleh standar sepak bola Eropa.

Pada akhirnya, kita harus berani bersuara keras menolak narasi-narasi usang yang mencoba memecah belah bangsa pakai istilah “pribumi vs non-pribumi” atau “lokal vs asing” di tubuh Timnas. Siapa pun mereka, dari mana pun mereka lahir, selama di dalam tubuh mereka mengalir darah Indonesia, selama mereka memegang paspor Garuda, dan selama mereka siap bertaruh nyawa di lapangan hijau demi mengibarkan merah putih, mereka adalah saudara sebangsa dan tanah air kita. Jangan biarkan kebangkitan sepak bola Indonesia yang sedang indah-indahnya ini dirusak oleh kicauan para politisi atau figur publik yang sedang kehabisan panggung dan haus perhatian.

✍️Balqis Humaira

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *