(21 December 2018).
Islam Indonesia‚ Kajian Ulama
( Buya Yahya, KH. Idrus Ramli, KH. Luthfi Bashori )
Di tengah banyaknya aliran pemikiran Islam, istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) sering terdengar sebagai jalan yang lurus dan otentik. Namun, apa sebenarnya yang menjadi fondasi manhaj atau metodologi beragama ini? Mengapa Aswaja dianggap sebagai benteng yang menjaga kemurnian Islam di Nusantara?
Tanpa pemahaman yang benar, banyak yang keliru menganggap Aswaja sekadar label atau identitas ormas. Akibatnya, mudah terpengaruh oleh pemahaman ekstrem, baik yang terlalu kaku maupun terlalu liberal. Kunci untuk menghindari kebingungan ini adalah dengan memahami bahwa Aswaja adalah sebuah bangunan kokoh yang berdiri di atas tiga pilar fundamental yang saling melengkapi.
Artikel ini akan mengupas tuntas tiga pilar Ahlus Sunnah wal Jama’ah tersebut: Akidah, Fikih, dan Tasawuf. Dengan memahami kerangka ini, Anda akan menemukan sebuah jalan beragama yang sistematis, moderat, dan bersanad hingga Rasulullah SAW, sebagaimana yang sering dijelaskan oleh para ulama seperti Buya Yahya, KH. Idrus Ramli, dan KH. Luthfi Bashori.
Apa Sebenarnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja)?
Pilar 1: Akidah Asy’ariyah & Maturidiyah – Menjaga Kemurnian Iman
Jalan Tengah Antara Akal dan Dalil Naqli
Pilar 2: Fikih Empat Mazhab – Mengamalkan Syariat Secara Ilmiah
Ittiba’ kepada Ahli sebagai Bentuk Kehati-hatian
Pilar 3: Tasawuf Sunni – Menyucikan Jiwa & Memperindah Akhlak
Integrasi Syariat dan Hakikat ala Imam Al-Ghazali
Tanya Jawab Umum Seputar Manhaj Aswaja
Kesimpulan: Jalan Tengah yang Menyejukkan
Apa Sebenarnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja)?
Secara bahasa, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berarti “golongan yang mengikuti sunnah (ajaran) Nabi Muhammad SAW dan Al-Jama’ah (mayoritas sahabat dan ulama sesudahnya).” Landasannya adalah sabda Rasulullah SAW yang sangat masyhur, yang mengisyaratkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu yang selamat. Ketika ditanya siapa golongan yang selamat itu, beliau menjawab, “Mereka adalah yang mengikuti jejakku dan para sahabatku.”
Dengan kata lain, Aswaja bukanlah aliran baru, melainkan sebuah manhaj (metodologi) sistematis untuk melestarikan dan mengikuti pemahaman Islam sebagaimana yang dipraktikkan oleh generasi terbaik (salafus shalih). Ini adalah sebuah sistem komprehensif yang dibangun di atas tiga pilar yang saling menguatkan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai penyimpangan.
Pilar 1: Akidah Asy’ariyah & Maturidiyah – Menjaga Kemurnian Iman
Pilar pertama dan terpenting adalah Akidah atau keyakinan. Dalam hal ini, Aswaja mengikuti metodologi yang dirumuskan oleh dua imam besar: Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H) dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi (w. 333 H).
Jalan Tengah Antara Akal dan Dalil Naqli
Pada zaman kedua imam ini, muncul banyak pemikiran teologis yang menyimpang, seperti Mu’tazilah yang terlalu mengagungkan akal dan Mujassimah yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Imam Al-Asy’ari dan Al-Maturidi hadir sebagai penengah, merumuskan ajaran akidah yang menyeimbangkan antara Dalil Naqli (Al-Qur’an & Hadits) dan Dalil ‘Aqli (logika akal). Teks suci adalah sumber utama, namun akal digunakan untuk memahami dan memperkuatnya. Metodologi ini juga menyucikan Allah dari sifat-sifat makhluk (Tanzih) dan menolak paham antropomorfisme. Untuk memudahkan umat, para ulama Asy’ariyah kemudian merumuskan Sifat 20 sebagai metode sistematis memahami ketuhanan.
Pilar 2: Fikih Empat Mazhab – Mengamalkan Syariat Secara Ilmiah
Setelah akidah lurus, pilar kedua adalah Fikih, yaitu panduan dalam beribadah dan bermuamalah. Aswaja berkomitmen untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih yang diakui (mu’tabar): Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Ittiba’ kepada Ahli sebagai Bentuk Kehati-hatian
Mengapa tidak langsung mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah? Karena kita tidak memiliki kapasitas keilmuan setara para imam mujtahid tersebut. Mereka adalah para pakar yang mendedikasikan hidupnya untuk menguasai ribuan hadits, ilmu bahasa, ushul fikih, dan perangkat ijtihad lainnya. Mengikuti salah satu mazhab adalah cara paling aman dan ilmiah untuk memastikan ibadah kita sesuai tuntunan syariat. Ini bukan fanatisme buta, melainkan ittiba’ (mengikuti jejak) kepada ahli yang sanad keilmuannya tersambung hingga Rasulullah SAW. Di Nusantara, mayoritas umat Islam mengikuti Mazhab Syafi’i, warisan dakwah para Walisongo.
Pilar 3: Tasawuf Sunni – Menyucikan Jiwa & Memperindah Akhlak
Islam bukan hanya soal keyakinan (akidah) dan aturan (fikih), tetapi juga soal akhlak dan spiritualitas (ihsan). Pilar ketiga Aswaja adalah Tasawuf, yaitu ilmu untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs), mendekatkan diri kepada Allah, dan menyempurnakan akhlak.
Integrasi Syariat dan Hakikat ala Imam Al-Ghazali
Tasawuf yang dianut Aswaja bukanlah yang mengabaikan syariat. Ia terikat erat dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dengan panutan seperti Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali. Mereka mengajarkan bahwa syariat adalah wadahnya, dan hakikat (esensi spiritual) adalah isinya; keduanya tak terpisahkan. Tasawuf Aswaja mengajarkan kita tentang ikhlas, sabar, syukur, dan cara membersihkan hati dari penyakit rohani seperti sombong, iri, dan dengki, sesuai sabda Nabi: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Tanya Jawab Umum Seputar Manhaj Aswaja
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait Ahlus Sunnah wal Jama’ah:
Tanya: Apakah dengan bermazhab berarti kita tidak mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah?
Jawab: Justru sebaliknya. Mengikuti para imam mazhab adalah cara paling ilmiah dan aman untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka telah menyusun metodologi (ushul fiqh) dalam memahami kedua sumber tersebut. Bagi kita yang awam, mengikuti mereka adalah bentuk kehati-hatian dalam beragama.
Tanya: Mengapa Aswaja menolak pemahaman seperti Wahabi atau Syiah?
Jawab: Penolakan ini didasari adanya perbedaan fundamental pada pilar-pilar utama. Misalnya, sebagian pandangan akidah Wahabi berbeda dalam memahami sifat-sifat Allah (cenderung tekstualis). Sementara Syiah memiliki perbedaan mendasar dalam konsep imamah dan pandangan terhadap para sahabat Nabi.
Tanya: Apakah manhaj Aswaja itu kaku dan menolak modernitas?
Jawab: Tidak sama sekali. Manhaj Aswaja memiliki prinsip dinamis seperti Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (adil), dan Tasamuh (toleran). Prinsip inilah yang membuat Islam ala Aswaja mampu berdialog dengan zaman dan budaya tanpa kehilangan jati dirinya.
Kesimpulan: Jalan Tengah yang Menyejukkan
Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah sekadar nama, melainkan sebuah jalan tengah (manhaj wasathiyah) yang komprehensif, seimbang, dan telah teruji oleh sejarah. Ia mengintegrasikan kekuatan akidah yang kokoh, kejelasan syariat dalam ibadah, dan kedalaman spiritualitas dalam akhlak. Dengan berpegang teguh pada tiga pilar Aswaja, seorang Muslim dapat menjalankan agamanya dengan penuh keyakinan, kedamaian, dan kebijaksanaan, persis seperti yang diwariskan oleh Rasulullah SAW dan para generasi terbaik setelahnya.
majelis.info
