✍️Arif Wibowo
Saya tidak hendak menelusur apa si Haekal ini fans mana, MU atau bukan. 🤭
Tapi setahu saya, di Solo warung babi itu banyak. Bukan hanya babi, tapi juga warung bermenu anjing. Bahkan warung guk-guk dulu disorot dan akhirnya ditertibkan lebih karena protes pecinta anjing.
Bagaimana nggak diprotes kalau ada menu dari hewan peliharaan kesayangan mereka.
Membunuhnya juga bisa dibilang sadis. Anjing dimasukkan karung, dikepruk kepalanya, ditenggelamkan, dibiarkan meronta kesakitan sampai mati sendiri.
Kembali ke soal Mie Babi yang lagi ngehit, mengapa banyak warung babi bisa berdagang dengan aman, sementara yang satu ini bikin gaduh?
Karena warung babi ini di perkampungan muslim. Bukan di kota. Lokasinya Bukan di area bisnis.
Cara hidup orang desa dengan orang kota itu berbeda. Demikian juga pensikapan, apakah berdiri di area bisnis atau di tengah kampung juga beda.
Masyarakat sudah menyuarakan ketidaksetujuan dengan terbuka. Demokrasi itu juga soal ketidaksetujuan yang juga menjadi hak.
Nah, kalau pembakaran warung, itu jelas soal pelanggaran hukum. Jadi cari saja pembakarnya. Itu tugas polisi. Prosedur nyarinya juga harus bener.
Kalau pembakaran dikaitkan dengan intoleransi (menyoal keberagaman) dalam hal ini ketidaksetujuan masyarakat? Apa si Haekal ini mau bilang masyarakat bersekongkol membakar warung babi itu?
Padahal, dalam kasus warung ayam goreng yang nipu konsumen puluhan tahun, karena pakai logo halal tapi ternyata pakai minyak babi, sampai sekarang masih berdiri, nggak ada yang mbakar gedungnya.
Biar Paham Babeh Haikal







