Liga Pengkhianatan dan Aib!
Pada tahun 1948, Abdul Qadir al-Husseini berhasil mengepung pasukan musuh dalam pertempuran di desa Al-Qastal (terletak 10 km di sebelah barat Yerusalem). Saat itu, beliau hanya mengandalkan kekuatan kecil yang terdiri dari 56 pejuang.
Meskipun beliau telah meminta bantuan kepada Liga Arab, bantuan tersebut tidak kunjung datang.
Beliau kemudian berangkat ke Kairo untuk bertemu dengan Komite Militer Tinggi Liga Arab. Namun, para anggota komite justru mengejek Abdul Qadir karena keterbatasan pasukan dan persenjataan yang ia miliki untuk menghadapi musuh. Amarahnya pun meledak, dan beliau berteriak:
“Kami lebih berhak atas senjata-senjata yang kalian simpan di gudang sampah itu! Sejarah akan menuduh kalian telah menyia-nyiakan Pale stina, dan aku akan mati di Al-Qastal sebelum melihat kelalaian dan persekongkolan kalian.”
Taha al-Hashimi (wakil dari Irak) mengejeknya dan mengatakan bahwa komite memang memiliki senjata, namun tidak akan memberikannya kepada Abdul Qadir. Mereka baru akan meninjau masalah tersebut setelah tanggal 15 Mei. Al-Husseini membalas dengan tegas:
“Demi Allah, wahai Pasha, jika Anda ragu dan enggan bertindak sekarang, maka setelah 15 Mei Anda akan membutuhkan sepuluh kali lipat dari apa yang saya minta saat ini. Meskipun begitu, kalian tetap tidak akan mampu mengalahkan mereka. Aku menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang kukatakan, dan aku membebankan tanggung jawab kepada kalian atas hilangnya Yerusalem, Jaffa, Haifa, Tiberias, dan wilayah Pale stina lainnya.”
Namun, para anggota komite tetap tidak peduli dan menertawakan semangatnya. Dalam puncak kemarahannya, Abdul Qadir melemparkan berkas yang ada di tangannya ke arah mereka sambil berseru:
“Kalian telah mengkhianati Pale stina! Kalian ingin kami dibantai!”
Keputusan yang Menyakitkan
Setelah bermusyawarah, Komite Militer Liga Arab mengeluarkan keputusan yang melarang Abdul Qadir al-Husseini melakukan tindakan individual. Mereka menyatakan bahwa urusan Pale stina telah diserahkan kepada komite militer tinggi dan memerintahkannya untuk tidak kembali ke Al-Qastal. Beliau menjawab:
“Aku akan tetap pergi ke Al-Qastal, aku akan menyerbu dan mendudukinya meski harus mati. Demi Allah, aku sudah muak dengan hidup ini. Kematian lebih aku cintai daripada perlakuan Liga Arab terhadap kami. Aku berharap mati sebelum melihat penjajah menguasai Pale stina. Orang-orang di Liga Arab dan komando ini telah mengkhianati Pale stina.”
Kembali ke Medan Juang
Sekembalinya ke Pale stina, beliau hanya membawa setengah kantong peluru. Beliau bergegas menuju Al-Qastal sambil melantunkan bait puisi saudaranya, sang penyair Abdul Rahim Mahmoud (yang gugur dalam Pertempuran Asy-Syajarah):
Dengan jantungku, akan kuterjang wajah para musuhKarena jantungku adalah besi dan apiku berkobar
Akan kulindungi tanah airku dengan tajamnya pedang
Agar kaumku tahu bahwa akulah pemuda sejati
Haruskah aku takut, padahal bagiku hidup ini rendah?
Haruskah aku terhina, padahal Tuhanku menolaknya?
Saat amunisi mulai habis, beliau mengirimkan pesan terakhir kepada Liga Arab:
“Aku membebankan tanggung jawab ini kepada kalian, setelah kalian membiarkan prajuritku berada di puncak kemenangan tanpa bantuan atau senjata.”
Gugurnya Sang Pahlawan
Meskipun kekurangan personel dan senjata, Al-Husseini berhasil menyerbu desa Al-Qastal bersama segelintir muj4hidin. Setelah tiga jam bertempur, mereka berhasil mengusir pasukan Z10n3s. Namun, bantuan musuh datang dalam jumlah besar dan mengepung desa dengan tembakan yang sangat gencar.
Abdul Qadir al-Husseini gugur pada pagi hari 8 April 1948. Jasadnya ditemukan di dekat sebuah rumah di desa tersebut dan dimakamkan keesokan harinya di Yerusalem, bersanding dengan makam ayahnya di Bab al-Hadid. Beliau wafat pada usia 40 tahun, di puncak masa perjuangannya.
Ironisnya, saat rakyat Pale stina sedang mengantarkan jenazahnya, pasukan Z10n3s memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan pembantaian mengerikan di desa Deir Yassin, menyisakan puing-puing rumah dan potongan tubuh warga Pale stina.
Lahu wa lahumul fatihah…
Sumber: Dalam Kancah Perjuangan Arab-Pale stina: Memoar Pejuang Bahjat Abu Gharbieh – Beirut: Institusi Studi Pale stina, 1993, hal. 204-219.
Faktakini
