KH. Luthfi Bashori
Memahami keabsahan system kerajaan (monarki) pasca wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah terakhir dalam system khilafah nabawiyah sesuai dengan Hadits Nabi SAW, bahkan berlaku pada jaman munculnya para Mujtahid Muthlaq, Imam Empat Madzhab Fqih: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali.
عن سعيد بن جمهان، عن سفينة قال: قال رسول الله ﷺ: «خلافة النبوة ثلاثون سنة، ثم يؤتي الله الملك أو ملكه من يشاء». قال سعيد: قال لي سفينة: أمسك عليك: أبو بكر سنتين، وعمر عشرًا، وعثمان اثنتي عشر، وعلي كذا.قال سعيد: قلت لسفينة: إن هولاء يزعمون أن عليا لم يكن بخليفة قال: كذبت أستاه بني الزرقاء – يعني بني مروان. هذا لفظ أبي داود.ولفظ أحمد: قال رسول الله ﷺ: «الخلافة ثلاثون عاما، ثم يكون بعد ذلكالملك». قال سفينة: أمسك خلافة أبي بكر سنتين، وخلافة عمر عشر سنين، وخلافة عثمان اثنتي عشرة سنة، وخلافة علي ست سنين.
رواه أبو داود (٤٦٤٦، ٤٦٤٧)، والترمذي (٢٢٢٦)، وأحمد (٢١٩١٩، ٢١٩٢٣، ٢١٩٢٨)، وصححه ابن حبان (٦٩٤٣)، والحاكم (٣/ ٧١، ١٤٥) كلهم من طرق عن سعيد بن جمهان – عن سفينة فذكره.
Terjemahan (arti hadits)
Dari Sa‘id bin Jumhān, dari Safīnah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Khilafah kenabian itu tiga puluh tahun, kemudian Allah akan memberikan kekuasaan (kerajaan/kesultanan Islam) kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Sa‘id berkata: Safīnah berkata kepadaku:
“Catatlah: Abu Bakar 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun, dan Ali sekian.”
Sa‘id berkata: Aku berkata kepada Safīnah:
“Sesungguhnya mereka menganggap bahwa Ali bukan khalifah.”
Safīnah berkata:
“Telah berdusta pantat-pantat Bani Az-Zarqā’ (maksudnya Bani Marwan/Bani Umayyah).”
Dalam riwayat Imam Ahmad:
“Khilafah itu 30 tahun, kemudian setelah itu menjadi kerajaan.”
Safīnah merinci:
Abu Bakar: 2 tahun
Umar: 10 tahun
Utsman: 12 tahun
Ali: 6 tahun
Syarah (penjelasan)
1. Makna “Khilafah kenabian 30 tahun”
Yang dimaksud:
Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian (khilafah rasyidah)
Totalnya 30 tahun, dihitung dari khalifah:
Abu Bakar, Umar, Utsman & Ali
Mereka ini dikenal sebagai 4 Khulafa Rasyidun.
2. Perhitungan 30 tahun.
Jika dijumlah:
Abu Bakar: 2 tahun
Umar: 10 tahun
Utsman: 12 tahun
Ali: 6 tahun.
➡️ Total = 30 tahun
Hitungan ini menjadi dalil kuat bahwa: Sayyidina Ali termasuk khalifah Rasyid yang sah.
3. Setelah itu “menjadi kerajaan”, sesuai sabda Nabi SAW:
“ثم يكون الملك”
System pemerintahan berubah menjadi mulkan (kerajaan). Bukan lagi khilafah seperti masa shahabat.
System kerajaan itu dimulai dari kekuasaan Bani Umayyah (Shahabat Mu‘awiyah dan para penerusnya).
Catatan penting:
Bukan berarti semua raja itu dzalim, namun systemnya bukan lagi seperti khilafah kenabian (dengan system musyawarah/syura secara sempurna, dll).
4. Hadits ini menjadi bantahan terhadap kelompok yang menolak khalifah Ali bin Abi Thalib, sesuai ucapan Safīnah:
“كذبت أستاه بني الزرقاء”
Artinya: “Telah berdusta pantat-pantat Bani az-Zarqā’.”
Ini adalah ungkapan keras dalam bahasa Arab (gaya celaan/sindiran tajam). Maksudnya bukan literal, tetapi bentuk penghinaan yang berarti:
➡️ “Mereka benar-benar berdusta (dengan kebohongan yang sangat jelas).”
Ini menjadi bantahan keras terhadap propaganda politik saat itu, yang tidak mengakui khilafah Ali bin Abi Thalib.
Ini juga menunjukkan:
Mengingkari khilafah Ali adalah kesalahan
5. Faedah aqidah (Ahlus Sunnah)
Wajib meyakini:
Abu Bakar
Umar
Utsman
Ali
Mereka semuanya ini adalah Khulafa’ Rasyidun, dengan urutan keutamaan Khalifah: Abu Bakar → Umar → Utsman → Ali
Kesimpulan
Khilafah ala Nabi berlangsung 30 tahun saja. Setelah itu berubah menjadi kerajaan.
Hadits ini juga menjadi dalil Keabsahan System non Khilafah ‘Aamah yang telah dijalani dan berlaku di kalangan umat Islam sejak jaman kerajaan Dinasti Umayyah, bahkan telah dijalani oleh para ulama Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah pasca era kehidupan para shahabat dan Tabi’in.
Berikut penjelasan ulama Ahlus Sunnah (termasuk yang bermadzhab Syafi’i) tentang hadits:
«الخلافة ثلاثون سنة ثم يكون ملك»
1. Penjelasan Imam An-Nawawi (Syafi’i).
Walaupun beliau tidak mensyarah hadits ini secara panjang di satu tempat khusus, kaidah beliau dalam aqidah Ahlus Sunnah sangat jelas:
Ali bin Abi Thalib adalah khalifah terakhir yang sah dan termasuk Khulafa’ Rasyidun
Urutan mereka khalifah:
Abu Bakar → Umar → Utsman → Ali
Keterangan ini termaktub dalam karya Imam An-Nawawi, seperti Syarh Shahih Muslim dan al-‘Aqidah):
Umat Islam wajib meyakini keempatnya sebagai imam yang benar. Tidak boleh menolak kekhilafahan Ali. Ini sesuai dengan hadits 30 tahun di atas
2. Penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Syafi’i).
Beliau menjelaskan (dalam Fath al-Bari dan selainnya):
Hadits ini adalah dalil kuat bahwa masa Khilafah Rasyidah terbatas hanya 30 tahun.
Perhitungan Safinah tepat dan diakui mayoritas ulama.
Beliau menegaskan:
Masa Khaifah Ali wajib masuk dalam hitungan Khilafah Nabawiyah.
Orang yang mengeluarkannya → menyelisihi hadits.
3. Penjelasan Imam al-Baghawi (Syafi’i).
Dalam Syarh as-Sunnah:
“Khilafah 30 tahun” = khilafah ala minhaj nubuwwah. Setelah itu berubah menjadi:
ملك (kerajaan)
Namun:
Raja-raja setelahnya tetap ada yang adil dan ada pula yang dzalim. Namun statusnya bukan lagi Khilafah Rasyidah
4. Penjelasan ulama Syafi’iyyah dalam aqidah.
Seperti dalam:
al-‘Aqidah an-Nasafiyyah (disyarah ulama Asy’ariyyah).
Kitab-kitab aqidah Syafi’iyyah
Menegaskan:
الخلفاء الراشدون أربعة: أبو بكر، ثم عمر، ثم عثمان، ثم علي
“Khulafa’ Rasyidun ada empat: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.”
5. Makna “kemudian menjadi kerajaan”
Menurut ulama Syafi’iyyah:
Bukan celaan mutlak, tapi penjelasan bahwa:
System telah berubah dari Syura (bermusyawayah) secara sempurna, menjadi system Monarki (turun-temurun), dimulai dari masa Shahabat Mu‘awiyah رضي الله عنه
6. Sikap Ahlus Sunnah (penegasan penting)
Ulama Syafi’iyyah menekankan:
– Menerima seluruh shahabat Nabi.
– Tidak mengkafirkan atau mencela mereka.
– Mengakui:
Fitnah di masa Khalifah Ali itu terjadi, tapi beliau tetap imam yang sah dan adil.
Kesimpulan inti menurut ulama Syafi’iyyah
Hadits “30 tahun” adalah shahih dan jadi landasan aqidah.
Khilafah Rasyidah hanya:
1. Khalifah Abu Bakar
2. Khalifah Umar
3. Khalifah Utsman
4. Khalifah Ali
Setelah itu berubah menjadi system kerajaan, bukan lagi disebut khilafah kenabian, walaupun sebagian Sultan ada yang dipanggil khalifah, namun tetap dihukumi sebagai raja, dan pemerintahannya TETAP SAH.
Jadi system kerajaan, system republik, syistem presidentil, atau segala bentuk system pemerintahan yang ada di dunia saat ini, tidak dilarang oleh syariat, dan hal seperti ini berlaku hingga kelak datang Imam Mahdi saat menjelang datang hari Qiamat.
Bagi negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, maka mereka berkewajiban untuk menjadikan aturan Syariat Islam sebagai landasan (system pemerintahan) untuk negara yang dipimpinnya, hingga dapat dilaksanakan secara legal formal yang tersystem.
PASCA KHALIFAH KE 4, SY. ALI BIN ABI THALIB, UMAT ISLAM HIDUP TANPA KHILAFAH
