APA UNTUNGNYA BAHAS IJAZAH GIBRAN? 

Ini bukan tentang Gibran. Ini bukan tentang ijazah. Ini tentang setiap anak Indonesia yang harus bersaing secara jujur. Ini tentang kepercayaan rakyat pada sistem. Ini tentang adab yang harus lebih tinggi dari ilmu.
Sering kali, ketika seseorang membahas ijazah Gibran, muncul pertanyaan: “Apa untungnya bahas ijazah? Itu kan urusan pribadi.”

Sobat… untungnya sangat besar.

Untung pertama: Rakyat tahu. Rakyat tidak dibohongi lagi. Rakyat tahu bahwa ada orang yang bisa lolos tanpa ijazah, sementara anak mereka harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan satu lembar kertas yang sama.

Untung kedua: Sistem bisa diperbaiki. Ketika kelemahan sistem terungkap, maka reformasi bisa dilakukan. Verifikasi bisa diperketat. Kongkalikong bisa dicegah.

Untung ketiga: Generasi berikutnya belajar. Mereka belajar bahwa kejujuran itu penting. Mereka belajar bahwa jalan pintas tidak pernah menguntungkan. Mereka belajar bahwa adab lebih tinggi dari ilmu.

Dan izinkan saya menjawabnya dengan sejarah. Karena sejarah tidak pernah bohong. Dan sejarah selalu mengulang dengan wajah yang berbeda.

PERTAMA: PARA PEJUANG YANG TIDAK MENGHARAP UNTUNG

Sobat… coba renungkan ini. Pangeran Diponegoro. Ia kehilangan harta. Ia kehilangan tanah. Ia kehilangan nyawa. Tapi ia tidak pernah bertanya: “Apa untungnya melawan Belanda?”

Cut Nyak Dien. Ia kehilangan suami. Ia kehilangan anak. Ia kehilangan penglihatan. Tapi ia tidak pernah bertanya: “Apa untungnya melawan penjajah?”

Kapitan Pattimura. Ia digantung di tiang gantungan. Tapi sebelum meninggal, ia tidak pernah bertanya: “Apa untungnya berjuang?”

Sobat… mereka tidak berjuang untuk untung. Mereka berjuang karena ada yang tidak benar. Mereka berjuang karena ada yang harus diluruskan. Mereka berjuang karena kejujuran lebih berharga dari nyawa.

Apa untungnya bahas ijazah?

Untungnya sama dengan untungnya para pejuang: tidak ada untung materi. Tapi ada untung moral.

KEDUA: LONDO IRENG — PENGKHIANAT YANG MEMBULLY PEJUANG

Sobat… dalam sejarah Nusantara, ada yang disebut “Londo Ireng”. Bukan orang Belanda. Tapi orang pribumi yang berpihak pada Belanda. Mereka diberi jabatan. Mereka diberi uang. Mereka diberi kekuasaan. Dan sebagai imbalannya, mereka membully pejuang. Mereka menjajah bangsanya sendiri. Mereka mengkhianati darah mereka sendiri.

Sobat… Londo Ireng hari ini bukan nama. Londo Ireng adalah perilaku. Mereka adalah mereka yang membela yang salah karena diberi jabatan. Mereka adalah mereka yang menyerang yang benar karena diberi proyek. Mereka adalah mereka yang membungkam kebenaran karena diberi kekuasaan.

Dan sobat… Londo Ireng hari ini lebih berbahaya dari Londo Ireng masa lalu. Karena mereka berbicara dengan bahasa yang sama. Mereka mengaku saudara. Tapi mereka menjual bangsanya sendiri.

Dan Anda akan menemukan Londo Ireng di kolom komentar di bawah ini.

KETIGA: APA UNTUNGNYA BAHAS IJAZAH?

Sobat… mari kita jawab dengan jujur.

Bagi Londo Ireng: Tidak ada untungnya. Justru rugi. Karena pekerjaan mereka terancam.

Bagi pejuang: Untungnya sama dengan untungnya para pejuang bangsa. Tidak ada untung materi. Tapi ada untung moral.

Bagi rakyat: Untungnya sangat besar. Rakyat tahu. Rakyat tidak dibohongi lagi. Rakyat tahu bahwa ada orang yang bisa lolos tanpa ijazah, sementara anak mereka harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan satu lembar kertas yang sama.

KEEMPAT: PARADOKS

Sobat… paradoksnya begini.
Para pejuang yang melawan penjajah justru tidak mendapat apa-apa. Mereka kehilangan harta. Mereka kehilangan keluarga. Mereka kehilangan nyawa.

Sementara Londo Ireng yang berkhianat justru mendapat jabatan. Mendapat kekayaan. Mendapat perlindungan.

Dan paradoks itu terulang hari ini.

Mereka yang membela kebenaran justru dibully. Mereka yang mempertanyakan kejujuran justru disebut sakit hati. Mereka yang menuntut keadilan justru disebut gagal move on.

Sementara mereka yang membela kebohongan justru mendapat jabatan. Mendapat proyek. Mendapat kekuasaan.

Sobat… dalam ilmu strategi politik, ada yang disebut “institutional capture”  penguasaan institusi oleh kepentingan tertentu.

Bagaimana mungkin seseorang bisa lolos verifikasi tanpa ijazah? Bagaimana mungkin surat keterangan penyetaraan terbit dalam waktu kurang dari 24 jam?

Refly Harun menyoroti dugaan kongkalikong antara penyelenggara pemilu yang menyediakan Pasal 18 ayat (3) PKPU Nomor 19 Tahun 2023  pasal yang mengatakan bagi lulusan luar negeri yang tidak bisa menunjukkan ijazah SMA-nya, cukup dengan ijazah S1.

Sobat… pasal itu bukan kebetulan. Ia dibuat untuk seseorang. Ia dibuat untuk satu kepentingan. Dan itulah yang disebut “orang dalam”. Itulah yang disebut “kongkalikong”.

Dalam ajaran sepuh, ini disebut “Tutur Tinular”  kata yang diwariskan dari mulut ke mulut. Tapi sobat… Tutur Tinular yang ini bukan warisan kebaikan. Ini warisan kebobrokan.

KELIMA: INI TENTANG ADAB

Sobat… dalam fiqih Islam, Imam Malik pernah berkata: “Qaddimil adab ‘alal ilmi”  “Dahulukan adab sebelum ilmu.” Dan dalam primbon Jawa kuno: “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Harga diri datang dari ucapan. Harga raga datang dari pakaian.

Sobat… adab lebih tinggi dari ilmu. Dan ketika seseorang memiliki jabatan tinggi tetapi tidak memiliki adab, maka yang runtuh bukan hanya dirinya. Tapi seluruh institusi yang ia wakili.

Sobat… ini bukan tentang Gibran. Ini bukan tentang ijazah. Ini tentang setiap anak Indonesia yang harus bersaing secara jujur. Ini tentang kepercayaan rakyat pada sistem. Ini tentang adab yang harus lebih tinggi dari ilmu.

Dan dalam Jangka Jayabaya: “Sing salah bakal seleh.”  Siapa pun yang bersalah, akhirnya akan meletakkan kekuasaannya.

“Sing bisa maca tandha, bakal slamet; sing ora bisa maca tandha, bakal keteter.”

Eling lan Waspada. Memayu Hayuning Bawana.

Oleh Ridwan Sank (Founder Niteni Serat Diri/Tiktok: @Ridwan Sank)

Pos terkait