Blakasuta NU
Oleh: Gus Aam Wahib Wahab
“Kiai Wahab, NU Mau Dibawa ke Mana?”
Di sebuah pendopo tua, suasana malam terasa hening.
Seorang Nahdliyin duduk termenung. Di tangannya ada kitab Khitthah 1926.
Di kejauhan terdengar suara kentongan.
Tok… tok… tok…
Bawor bertanya:
“Gus, katanya NU sudah satu abad. Tapi kenapa sekarang malah banyak yang sibuk memikirkan siapa yang akan memimpin?”
Gatotkaca menjawab:
“Memimpin itu amanah, Wor. Yang lebih penting justru: setelah memimpin, NU mau dibawa ke mana?”
Tiba-tiba terdengar suara dari balik gunungan.
“Kembalikan NU…”
Bawor terkejut.
“Suara siapa itu, Gatot?”
Gatotkaca menatap ke arah gunungan.
“Sepertinya bukan suara orang yang sedang mencari jabatan.”
“Lalu suara siapa?”
“Suara sejarah.”
Hening.
Kemudian suara itu kembali terdengar:
“Kembalikan NU kepada cita-cita para pendiri.”
Bawor mulai memahami.
“Maksudnya kembali ke masa lalu?”
Gatotkaca menggeleng.
“Bukan kembali ke masa lalu.”
“Tapi membawa ruh perjuangan para pendiri ke masa depan.”
Bawor bertanya lagi:
“RUH YANG SEPERTI APA?”
Bawor terdiam sejenak.
Lalu ia bertanya:
“Gatot… kalau begitu, ruh perjuangan para pendiri yang harus dibawa NU ke masa depan itu seperti apa?”
Gatotkaca menatap gunungan.
Suaranya menjadi lebih tegas.
“Ruh itu bukan sekadar kenangan.”
“Ia harus menjadi sikap, menjadi jalan, dan menjadi tindakan.”
Lalu Gatotkaca berkata:
“Pertama…”
“Mengembalikan NU kepada semangat perjuangan sebagai Ashabul Haq wal Adl.”
“Menjadi pembela kebenaran dan penegak keadilan.”
“Ketika kebenaran membutuhkan pembela, NU harus hadir.”
“Ketika keadilan diperlakukan tidak adil, NU tidak boleh diam.”
Bawor mengangguk perlahan.
Gatotkaca melanjutkan:
“Kedua…”
“Kembali kepada Khitthah 1926 sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak.”
“Khitthah 1926 tidak boleh berhenti sebagai slogan organisasi.”
“Ia harus menjadi kompas bagi seluruh gerak NU.”
Bawor memandang kitab Khitthah 1926 yang ada di tangannya.
Kemudian Gatotkaca berkata:
“Ketiga…”
“Menghidupkan kembali semangat khidmat dan pengabdian sebagai RUH-nya NU.”
“Karena organisasi sebesar NU tidak dibangun untuk dilayani.”
“NU dibangun untuk berkhidmat.”
Bawor terdiam.
Lalu Gatotkaca menatapnya dan berkata:
“Dan keempat…”
“NU adalah pelayan umat, bukan menguasai umat.”
“Kekuasaan bukan tujuan.”
“Jabatan bukan tujuan.”
“Kepemimpinan adalah amanah untuk melayani.”
Hening.
Suara dari balik gunungan kembali terdengar:
“Kembalilah…”
“Kembali kepada Ashabul Haq wal Adl.”
“Kembali kepada Khitthah 1926.”
“Kembali kepada khidmat dan pengabdian.”
“Kembali menjadi pelayan umat.”
Bawor menunduk.
“Jadi, Gatot…”
“NU tidak harus kembali ke masa lalu?”
Gatotkaca tersenyum.
“Tidak, Wor.”
“Yang harus kembali adalah ruhnya.”
“Ruh perjuangan para pendiri.”
“Dibawa untuk menghadapi masa depan.”
NU TIDAK PERLU KEMBALI KE MASA LALU.
NU PERLU MEMBAWA RUH PARA PENDIRI KE MASA DEPAN.
Kembali kepada Ashabul Haq wal Adl.
Kembali kepada Khitthah 1926.
Kembali kepada Khidmat dan Pengabdian.
Kembali sebagai Pelayan Umat.
TANCEP KAYON!

