Ketika Kebencian Tidak Lagi Bisa Disembunyikan

KETIKA KEBENCIAN TIDAK LAGI BISA DISEMBUNYIKAN

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Ada orang yang kalau tidak suka kepada seseorang, masih bisa menyembunyikannya.

Senyum tetap diberikan. Kopi masih ditawarkan. Kalau berpapasan, masih mengangguk. Paling-paling setelah orangnya pergi, wajah sedikit berubah.

Tapi ada juga kebencian yang sudah terlalu penuh.

Disimpan di kepala, penuh.
Disimpan di dada, sesak.

Akhirnya tumpah ke mana-mana.

Kadang bahkan tumpah ke sebuah meme.

Saya melihat sebuah meme yang menurut saya menarik. Bukan karena argumentasinya hebat. Justru karena ia begitu polos memperlihatkan bagaimana prasangka bekerja.

Di bagian atas tertulis:

“Mencela pemimpin adalah Sunnahnya Syi’ah Rafidhah.”

Lalu di bagian bawah:

“Nama AZ-Zahra adalah Syi’ar dari Syi’ah Rafidhah.”

Saya membacanya sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti sebentar.

Bukan sedang mencari dalil. Saya hanya sedang mencoba memahami bagaimana seseorang bisa sampai pada kesimpulan bahwa Az-Zahra adalah syiar Syiah Rafidhah.

Sebab kalau benar begitu, urusannya menjadi agak panjang.

Az-Zahra itu siapa?

Fatimah az-Zahra.

Putri siapa?

Putri Rasulullah Muhammad SAW.

Nah.

Di sini saya mulai bingung.

Sejak kapan putri Rasulullah SAW menjadi milik Syiah?

Apakah dahulu pernah ada rapat organisasi yang menetapkan:

“Mulai hari ini Fatimah az-Zahra kita daftarkan sebagai kekayaan intelektual Syiah”?

Tidak ada.

Apakah Syiah yang memberi beliau gelar az-Zahra?

Bukan.

Apakah Fatimah az-Zahra baru dikenal setelah berdirinya Republik Islam Iran?

Juga bukan.

Beliau adalah putri Rasulullah SAW. Bagian dari keluarga Nabi. Salah seorang perempuan paling agung dalam sejarah Islam.

Tetapi kebencian memang terkadang unik.

Karena terlalu sibuk membenci Syiah, apa saja yang dianggap dekat dengan Syiah akhirnya ikut dicurigai.

Nama Ali mulai mencurigakan.

Nama Husain terasa agak mencurigakan.

Karbala mencurigakan.

Ahlul Bait disebut terlalu sering, mulai dicurigai.

Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dicurigai.

Sekarang Az-Zahra pun ikut masuk daftar barang bukti.

Kalau diteruskan, saya khawatir suatu hari orang bernama Hasan harus membawa surat keterangan:

«“Saya bernama Hasan, tetapi bukan Syiah.”»

Lucu?

Memang.

Tapi sebenarnya ada sesuatu yang menyedihkan di balik kelucuan itu.

Karena ketika nama-nama keluarga Rasulullah SAW terasa begitu identik dengan Syiah sehingga orang menganggapnya sebagai “syiar Syiah”, kita seharusnya tidak pertama-tama bertanya kepada Syiah.

Kita harus bertanya kepada diri sendiri:

Mengapa simbol-simbol Ahlul Bait bisa terasa asing bagi sebagian umat Muhammad sendiri?

Itu pertanyaan yang jauh lebih serius.

Dan tanpa disadari, meme tersebut justru memberikan pujian yang sangat besar kepada Syiah.

Bayangkan.

Orang bermaksud menghina Syiah, tetapi kalimat yang dibuatnya kira-kira justru berbunyi:

“Az-Zahra adalah ciri mereka.”

Lho, terima kasih.

Kalau kecintaan kepada Fatimah az-Zahra dianggap ciri Syiah, bukankah orang justru sedang mengatakan bahwa Syiah begitu dekat dengan nama putri Rasulullah SAW?

Tuduhan seperti ini kadang memang tidak perlu dibantah.

Cukup dibaca pelan-pelan.

Ia akan membantah dirinya sendiri.



Bagian lain dari meme itu juga tidak kalah menarik:

“Mencela pemimpin adalah Sunnahnya Syi’ah Rafidhah.”

Nah, ini penyakit lama: setiap kritik kepada kekuasaan dipindahkan dari wilayah argumentasi ke wilayah identitas.

Orang bertanya kepada pemerintah?

Syiah.

Orang mengkritik kebijakan?

Rafidhah.

Orang berdemonstrasi?

Mulai diperiksa namanya.

Namanya Fatimah pula.

Waduh.

Lengkap sudah berkas penyidikan teologisnya.

Padahal sederhana saja.

Kalau ada seseorang berkata kepada seorang pemimpin:

“Di mana kalian ingin dicatat dalam sejarah?”

Jawablah pertanyaannya.

Kalau kritiknya salah, bantah.

Kalau datanya keliru, koreksi.

Kalau tuduhannya berlebihan, tunjukkan bagian yang berlebihan.

Begitulah tradisi intelektual bekerja.

Yang agak repot kalau pertanyaannya belum dijawab, tetapi penanyanya sudah diperiksa mazhabnya.

Itu seperti seorang pelanggan berkata:

“Pak, mengapa harga nasi gorengnya mahal sekali?”

Dijawab:

“Agama Anda apa?”

Tidak nyambung.



Lebih aneh lagi bila mengkritik penguasa dianggap otomatis sebagai karakter Syiah.

Sejarah Islam terlalu luas untuk disederhanakan seperti itu.

Para ulama dari berbagai mazhab pernah berdiri berhadapan dengan kekuasaan. Ada yang dipenjara. Ada yang dicambuk. Ada yang menolak kehendak penguasa. Ada yang memilih mempertahankan pendapat meskipun risikonya berat.

Dalam khazanah Islam sendiri dikenal amar makruf nahi mungkar, nasihat kepada penguasa, penolakan terhadap kezaliman, dan kewajiban mengatakan yang benar.

Tentu kritik bukan berarti bebas memfitnah.

Kritik bukan mencaci maki.

Kritik bukan menyebarkan kebohongan.

Tetapi pemimpin juga bukan makhluk suci yang kehilangan kemungkinan untuk salah hanya karena sedang berkuasa.

Presiden bukan nabi.

Menteri bukan malaikat.

Pejabat bukan penghuni surga yang sedang ditugaskan sementara di bumi.

Mereka manusia.

Karena manusia, mereka bisa benar dan bisa salah.

Dan karena keputusan mereka menyentuh kehidupan jutaan manusia, justru keputusan mereka lebih layak diperiksa.



Sebenarnya saya kasihan kepada Syiah kalau semua perkara semacam ini terus dihadiahkan kepada mereka.

Mencintai Ali?

Syiah.

Menangisi Husain?

Syiah.

Membicarakan Karbala?

Syiah.

Mengagungkan Fatimah az-Zahra?

Syiah.

Mengkritik penguasa?

Syiah.

Sebentar lagi mungkin membaca Nahjul Balaghah juga Syiah.

Memuji keberanian Ali, Syiah.

Memberi nama anak Zahra, Syiah.

Kalau demikian, lama-lama definisi Syiah menjadi luar biasa luas.

Dan semakin luas definisi itu dibuat oleh para pembencinya, justru semakin menarik pertanyaan yang muncul:

Yang sebenarnya mereka benci itu Syiah, atau segala sesuatu yang terlalu kuat mengingatkan mereka kepada Ahlul Bait?

Saya tidak mengatakan semua orang demikian.

Tentu tidak.

Banyak saudara Sunni yang kecintaannya kepada Ahlul Bait sangat dalam. Fatimah az-Zahra dicintai seluruh umat. Imam Ali dimuliakan. Hasan dan Husain adalah cucu Rasulullah SAW yang diagungkan.

Justru karena itulah meme semacam ini terasa begitu ganjil.

Ia menyeret sesuatu yang seharusnya menjadi milik bersama umat Islam ke dalam kebencian sektarian.

Dan di sinilah bahayanya.

Awalnya kita membenci sebuah kelompok.

Kemudian semua simbol yang diasosiasikan dengan kelompok tersebut ikut dicurigai.

Setelah itu kita tidak lagi sempat bertanya apakah simbol tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari agama kita sendiri.

Kebencian memang bekerja seperti itu.

Ia tidak selalu membuat manusia kehilangan pengetahuan.

Kadang lebih buruk:

ia membuat manusia mengetahui sesuatu, tetapi kehilangan kejernihan untuk memahaminya.



Karena itu saya justru berterima kasih kepada pembuat meme tersebut.

Serius.

Meme itu mengajarkan sesuatu.

Bahwa fanatisme kadang tidak perlu dibongkar dengan seminar tiga hari, makalah akademik, atau kitab berjilid-jilid.

Kadang ia membongkar dirinya sendiri dalam satu gambar.

Seseorang ingin mengatakan:

“Lihat, dia Syiah!”

Lalu bukti yang diajukan:

Namanya Az-Zahra.

Saya tidak tahu harus marah atau tertawa.

Mungkin tersenyum saja lebih baik.

Sebab Fatimah az-Zahra tetaplah Fatimah az-Zahra. Kemuliaannya tidak berkurang hanya karena namanya dipakai untuk menakut-nakuti orang.

Beliau adalah putri Rasulullah SAW.

Dicintai Syiah?

Tentu.

Dan semestinya dicintai seluruh kaum Muslimin.

Maka kalau suatu hari ada orang berkata kepada saya:

“Hati-hati, nama Az-Zahra itu syiar Syiah.”

Mungkin saya hanya akan menjawab:

“Kalau begitu, kita punya persoalan yang jauh lebih besar daripada Syiah.”

“Apa?”

Saya akan berkata:

“Kita sudah terlalu lama membenci sebuah kelompok sampai-sampai nama putri Rasulullah SAW pun terdengar mencurigakan.”

Dan pada titik itulah semuanya menjadi terang.

Saking dalamnya kebencian itu, ia akhirnya tidak lagi mampu bersembunyi di balik dalil, slogan, atau pembelaan terhadap agama.

Ia keluar sendiri.

Terlihat sendiri.

Bahkan terkadang menuliskan dirinya sendiri dalam sebuah meme.

Dan ketika nama putri Rasulullah SAW sudah dianggap sebagai sesuatu yang mencurigakan, mungkin kita tidak perlu lagi bertanya kepada siapa sebenarnya kebencian itu diarahkan.

Sebab ada satu sifat kebencian yang telah terlalu lama dipelihara:

pada akhirnya ia akan kehilangan kemampuan untuk menyamar.

Mulanya ia mengaku sedang menjaga akidah.

Kemudian ia mulai mencurigai nama Ali.

Mencurigai Husain.

Mencurigai Karbala.

Mencurigai Ahlul Bait.

Dan akhirnya mencurigai nama Fatimah az-Zahra.

Pada saat itulah kita mengerti:

KETIKA KEBENCIAN TIDAK LAGI BISA DISEMBUNYIKAN,

ia akan memperkenalkan dirinya sendiri.

Pos terkait