MBG ALA ASWAJA
Menurut Aswaja, konsumsi MBG adalah makanan PALING BERKAH dibanding menu manapun saat ini
MAKAN BERKAT GRATIS
KH. LUTHFI BASHORI
Asal Usul dan Filosofi “Nasi Berkat”
Penyebaran Islam (Wali Songo): Sejarah nasi berkat dipercaya dimulai pada masa penyebaran Islam oleh Wali Songo.
Nasi ini diberikan sebagai wujud sedekah yang diharapkan membawa berkah (kebaikan yang bertambah) bagi pemberi maupun penerimanya.
Makna “Berkah”: Secara bahasa, “berkat” diyakini berasal dari kata barakah (bahasa Arab) yang berarti kebaikan atau karunia Tuhan.
Nasi berkat umumnya akan selalu dijumpai di setiap acara keagamaan warga Ahlusunnah Waljamaah, seperti walimatul aqiqah (kelahiran), tahlilan (kematian), walimatul khitan (sunat), walimatul urs (pernikahan), Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Miraj, Haul, Ulang tahun, dan lain sebagainya.
Jaman dulu Biasanya nasi berkat dikemas sederhana dengan daun jati, anyaman bambu ( besek ), maupun daun pisang, era sekarang nasi berkat sering dijumpai dengan kemasan baskom plastik, kertas karton maupun styrofoam. Dan ciri khas nasi berkat tidak dimakan di tempat, melainkan ditenteng, dibawa pulang ke rumah masing-masing, dan dimakan bersama-sama dengan keluarga.
Tradisi Gotong Royong:
Nasi berkat mencerminkan budaya kolektivitas Warga Ahlusunnah Waljamaah. Berbagi makanan ini dianggap sebagai ibadah sedekah dan sosial untuk mempererat ukhuwah, sekaligus rasa syukur kepada Allah SWT.
