Mantan Kapolri nyadap presiden. Tapi, HP-nya nggak perlu dibobol sama sekali. Menurut Bareskrim, nomornya cukup dimasukin ke satu server, namanya LIMS, sistem sadap yang sah.
LIMS adalah singkatan dari Lawful Interception Management System, yaitu sistem pusat kendali atau manajemen yang digunakan untuk mengelola proses penyadapan komunikasi secara sah (lawful interception) di Mabes Polri.
Gini cara kerjanya:
Operator seluler di Indonesia wajib nyediain jalur sadap buat penegang hukum.
Begitu satu nomor masuk daftar target, jaringan operator otomatis nyalin telpon dan SMS nomor itu, lengkap dengan siapa nelpon siapa dan jam berapa.
Salinannya dikirim ke ruang pantau.
HP target-nya nggak diapa-apain, jadi pemiliknya nggak bakal tahu.
Nah, mesinnya (LIMS) nggak nanya ini nomor siapa. Pengamannya cuma prosedur, harus ada perkaranya dan izinnya dari Kabareskrim.
Menurut Bareskrim, sejak 2025 nomor presiden, pejabat, media, sampai pengusaha dimasukin tanpa verifikasi itu.
Padahal dua tahun lalu Prabowo udah pesan ke para menterinya, hal yang rawan nggak usah lewat telpon. Katanya banyak telinga mau denger.
Oktober kemarin, file hasil sadapan di LIMS diduga diperintahkan buat dihapus.
Tanggal 30 Oktober, petugas yang tahu bikin laporan polisi. Empat hari kemudian, tiga jenderal itu ditahan. Terus WhatsApp gimana? Lewat jalur operator, isi chat dan telpon WhatsApp nggak kebaca, karena terenkripsi dari HP ke HP.
Yang kelihatan, cuma HP itu lagi nyambung ke server WhatsApp. Jadi buat nyadap telpon biasa, HP-nya memang nggak perlu dibobol. Pintunya udah ada di jaringan.
Yang jadi perkara, siapa yang ngetik nomornya? Lo masih suka nelpon biasa, atau udah WhatsApp semua?
portalislam





