Surat Para Kyai Rembang Untuk Kyai Marzuki

Gus Maimun Nafis

Yang Terjadi di Rembang: Kelompok Haus Panggung Jual Kesedihan Sambil Ngadu Domba.

1. Numpang Lapak Gratisan:

Acara Haul dan HUT Rembang itu murni yang biayain Dinas Pariwisata. Eh, tau-tau mau dibajak sama kelompok PWI LS dan disinyalir kuat buat dijadiin panggung deklarasi mereka. (Kita tahu hingga sekarang PWI tak pernah bisa buat acara besar lagi) Udah numpang acara, bawa-bawa paham yang kerjaannya nyinyirin Kiai NU sama Habaib lagi.

2. Panitianya Ngeyel Tingkat Dewa.

Penolakan dari kiai itu gak ujug-ujug turun dari langit. Takmir Masjid Agung udah berkali-kali menegur panitia kalau rencana ini bakal bikin gaduh umat. Tapi panitianya tutup telinga alias ndableg. Ya wajar aja kalau para kiai akhirnya turun tangan.

3. Sabotase Apanya? Wong Rapatnya Resmi.

Kalau dibilang “penjegalan sepihak”, itu halu banget. Keputusan ganti penceramah itu hasil rapat resmi di kantor Dinas Pariwisata! Di situ ada panitia, Nadzir, Takmir Masjid, bahkan disaksikan langsung sama kepolisian dan TNI. Mana ada ceritanya sabotase gelap-gelapan tapi ngundang aparat lengkap? Fakta bahwa rapat menyetujui itu adalah bukti bahwa PWI memang kelompok gaduh dan rusuh.

Ini konstitusional, taat prosedur. Beda jauh dengan sikap arogan asal gruduk acara sholawatan. Jauh!

4. Surat Sopan Malah Dijadiin Bahan Bully.

Soal “surat tanpa kop” yang digoreng seolah-olah ilegal, aslinya itu surat salam takdzim. Itu bentuk adab dan kesopanan kiai-kiai sepuh Rembang yang memohon secara kekeluargaan ke Kiai Marzuki. Eh, niat baik kiai ini malah disebarin, dipelintir, dan di-framing jahat sama PWI LS buat ngerendahin kiai di medsos.

Silahkan baca tiga tulisan di bawah, betapa sopan tutur kata yang digunakan para Kiyai kepada K. Marzuki. Dalam tradisi kiyai, surat semacam ini justru lebih sopan dan lebih sakral.

5. Gus Idror Itu Dimintai Tolong:

Narasi bahwa Gus Idror punya konflik kepentingan karena mengganti penceramah itu fitnah murahan. Saya tahunan di Sarang. Saya tahu betul masyayikh Sarang itu lebih suka ngajar santri di pondok daripada ngisi panggung. Beliau itu justru disambati (dimintai tolong/dicurhati) sama Takmir dan kiai sepuh lainnya buat nyelamatin acara. Beliau akhirnya pasang badan murni biar Rembang tetep adem. Ya memang sulit dipahami oleh mereka yang gila panggung.

6. Taktik Play Victim yang Basi.

Koar-koar di YouTube sok terzalimi, padahal realitanya mereka yang lagi mainin isu dan ngelecehin kiai-kiai sepuh Rembang. Berperan jadi korban buat nutupin kelakuan sendiri yang mau ngerusak kondusivitas kota. Klasik dan basi!

Ini bukan tentang menerima atau menolak nasab satu kelompok; wes tahu. Ini tentang menjaga kondusifitas. Semoga Para Kiyai Dijaga oleh Allah SWT.

📷 : Surat Para Kiyai Rembang untuk K. Marzuki.

Pos terkait