Pendukung “10+6=17” sedang ngamuk-ngamuk ke 2 universitas terbaik Indonesia.
Wendra Setiawan
Ngamuk ke UI karena saat demo kemarin jaket-jaket berwarna kuning sangat mendominasi unjuk rasa. Ngamuk ke UGM karena perwakilan pemerintah, Budiman Sudjatmiko dan Nusron Wahid disuruh pulang lebih cepat dari jadwal diskusi yang sudah direncanakan.
Alasan mereka, mahasiswa-mahasiswa 2 universitas itu nggak beradab. Kalau bicara keras dan kasar.
Tentu saja alasan ini dibuat-buat. Dari dulu para mahasiswa itu kalau ngomong ya gitu. Meluap-luap, emosional, ceplas-ceplos, urat-urat leher keluar semua. Maklum, idealisme mereka masih tinggi. Tidak seperti Budiman yang idealisme-nya sudah bisa dikontrol. Dikontrol penguasa. Kalau nggak percaya tanya saja Budiman bagaimana dia berorasi saat memprotes Soeharto dulu, mantan mertua Prabowo.
Beberapa tahun sebelumnya, sekitar tahun 2014-2019, orang-orang yang yang sekarang ngamuk-ngamuk itu justru mendukung aksi-aksi mahasiswa yang memprotes kebijakan-kebijakan Jokowi. Padahal cara orasi dan diskusi mahasiswa zaman itu dan saat ini tidak jauh berbeda.
Tapi ya begitulah. Orang bisa bijak saat bukan dia yang kena musibah. Begitu dapat masalah, gilanya kumat.
Dugaan saya mengapa kelompok SDM rendah itu ngamuk ke UI dan UGM adalah karena mereka dan mungkin anak-anaknya gagal lolos seleksi masuk ke 2 universitas favorit itu.
Gimana mau lulus seleksi, wong hitung-hitungan matematika sederhana aja nggak bisa.
Eh, mantan koruptor satu ini ngomong apa sih?
