Rupiah Tembus 17Ribu, Apa Dampaknya?

Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor menyedihkan. Pada Selasa (7/4/2026), 1 USD tembus Rp17.101. Angka ini melampaui level terlemah rupiah saat krisis moneter 1998 yang sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS.

Bacaan Lainnya

angka-angka ini tentu saja menggambarkan keadaan negara yang sedang tidak baik-baik saja.

Jadi, Nilai mata uang, dalam hal ini nilai dollar ke rupiah merupakan salah satu indikator, ia menggambarkan kondisi makro ekonomi sebuah negara. Apakah sedang baik-baik saja atau malah sebaliknya, nilai mata uang ini juga puya peran yang erat  kaitannya dengan tinggi rendahnya inflasi atau deflasi di sebuah negara.

Depresiasi kurs rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat pengangguran, jumlah utang luar negeri, neraca perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini dapat memengaruhi nilai tukar rupiah yag sangat sensitif terhadap fluktuasi ekonomi dan situasi krisis keuangan. Oleh karena itu, keadaan ini bisa melemahkan nilai tukar mata uang rupiah.

Jika dibandingkan dengan puncak krisis moneter 1998, nilai tukar rupiah ke dollar AS saat ini juga lebih rendah. Pada 1998, 1 dollar AS setara dengan Rp 16.650 dollar AS. Bahkan, pada saat Covid-19, nilai tukar rupiah masih lebih tinggi dibandingkan kali ini.

Lantas, apa yang terjadi jika rupiah melemah dan menembus Rp 17.000 per 1 dollar AS?

Yang terjadi jika rupiah terus melemah
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pergerakan rupiah yang terus merosot hingga tembus Rp 17.000 per dollar bakal menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.


“Kalau rupiah tembus di atas Rp 17.000 per dollar akan terjadi imported inflation. Inflasi yang disebabkan naiknya biaya impor,” kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (21/1/2026).


Imported inflation adalah inflasi yang terjadi di suatu negara akibat kenaikan harga barang atau jasa yang diimpor dari luar negeri. Kondisi ini bisa terjadi karena depresiasi nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing.

Masyarakat juga akan ikut terdampak melemahnya rupiah seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada 1998.
“Bahan pangan yang berasal dari impor lebih mahal, inflasi naik daya beli turun. Cicilan motor dan KPR ikut naik karena komponen impor otomotif dan rumah turut mempengaruhi harga jual barang,” tutur Bhima.


Bagi pelaku usaha, Bhima menilai, penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS bisa membuat mereka kesulitan untuk bersaing, terutama lini usaha yang bergantung pada bahan baku. Akibatnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) bakal menjadi skenario paling buruk.


Di sisi lain, utang pemerintah terutama yang berasal dari kreditur luar negeri juga diperkirakan menjadi lebih mahal.
“Bunga dan cicilan utang makin memperlebar defisit APBN,” terang Bhima.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *