kegagalan ini dipicu oleh tuntutan AS yang dinilai tidak realistis oleh Iran.
Salah satu isu utama yang menjadi perdebatan adalah terkait Selat Hormuz, selain persoalan program nuklir dan isu strategis lainnya.
Pihak Iran menyatakan bahwa AS mengajukan tuntutan yang berlebihan, termasuk hal-hal yang tidak dapat mereka capai melalui konflik militer sebelumnya.
Faktor utama kegagalan negosiasi di Pakistan ada dua, AS memaksakan dua hal:
•Uranium Iran yang sudah diperkaya harus di transfer keluar negeri. Dan Iran tidak punya hak memperkaya uranium di dalam negeri.
•Selat Hormuz harus dibuka kembali seperti semula tanpa tarif (biaya).
Kedua syarat utama ini langsung ditolak oleh Iran, disamping beberapa syarat yang lain, bahkan saat sesi akhir negosiasi, kedua syarat utama ini tetap ditolak oleh Iran.
Keberanian Iran menolak dua tuntutan utama AS dan Israel secara psikologi politik bisa dibaca bahwa, Iran yakin sejak awal, bahwa posisi mereka berangkat ke Pakistan berada pada posisi menang.
Ketua Delegasi AS JD Vance (Wapres AS) dalam konpers setelah berlangsungnya 21 jam negosiasi mengatakan:
“they have chosen not to accept our terms.”
“Mereka (Iran) memilih untuk tidak menerima syarat-syarat kami.”
Benar sekali!
Tidak ada negosiasi dengan Iran yang akan berhasil berdasarkan “syarat-syarat milik Anda.”
AS harus belajar: Anda tidak bisa mendiktekan syarat-syarat kepada Iran.
°Iran mengeluarkan pernyataan keras setelah 21 jam perundingan gagal di Islamabad:
“Musuh Amerika, yang keji, jahat, dan tidak jujur, mencoba mencapai di meja perundingan apa yang tidak dapat dicapai melalui perang.
Iran telah memutuskan untuk menolak persyaratan ini dan melanjutkan pembelaan suci tanah airnya dengan segala cara yang diperlukan, militer atau diplomatik.”
Itu adalah pernyataan IRGC yang menyebut Amerika Serikat “keji, jahat, dan tidak jujur” beberapa menit setelah Wapres AS JD Vance naik ke Air Force Two.
